Rabu, 16 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Kampung Kauman

Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (4)

Saling Menghargai,Tak Ada Megengan Awal Puasa

24 April 2021, 16: 47: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

SALAT: Warga Kauman beribadah di malam Ramadan di salah satu musala.

SALAT: Warga Kauman beribadah di malam Ramadan di salah satu musala. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Di berbagai wilayah di Kediri, awal Ramadan ditandai dengan megengan. Selamatan yang berciri khas hidangan kue apem. Menariknya, tradisi itu justru tak ada di Kampung Kauman.

Kampung Kauman, sesuai namanya, adalah tempat tinggalnya orang kaum. Orang yang dianggap pandai dalam agama Islam. Orang yang khusyuk dalam beribadah. Menjalankan syariat-syariat agama dengan kuat.

Tak heran bila kemudian di Kampung Kauman bercokol dua organisasi masyarakat (ormas) Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Mereka hidup berdampingan, saling mengisi dan merangkul. Tak ada perbedaan yang dipertajam.

Menariknya, meskipun banyak warganya yang merupakan orang NU, tradisi megengan justru tak pernah terlihat di Kampung Kauman. Tradisi akulturasi antara budaya Jawa dan Islam itu tak pernah dilakukan warga Kauman sebelum datangnya bulan puasa, Ramadan.

“Selama ini setiap puasa tradisinya giliran membagi takjil di Masjid Agung. Lainnya (seperti megengan) tidak ada,” kata Syamsudin, sesepuh di kampung ini.

Padahal, Kampung Kauman berada di Kelurahan Kampungdalem. Sementara, warga Kampungdalem lainnya menggelar tradisi megengan ini dengan teguh. Setiap tahun di awal Ramadan warga selalu menghadirkan apem dan makanan lain untuk selamatan.

Soal megengan yang banyak dilakukan warga Kampungdalem, selain Kauman ini, diakui oleh Kepala Kelurahan Ika Ardiyanto. Menurutnya, tradisi itu masih bisa ditemukan di sekitar kantor kelurahan dan di sekitar Pendapa Kabupaten Kediri.

Mengapa di Kauman justru tak ada? Salah satu kemungkinannya adalah sikap saling menghargai sesama penduduk yang berbeda pandangan. Menurut Ika, warga Kauman sudah saling memahami prinsip masing-masing kelompok. Sehingga bisa mengurangi gesekan yang tidak perlu.

Ika kerap sering berkeliling di wilayahnya. Bahkan dia juga pernah salat Tarawih di musala Kauman. Rasa saling menghargai dan menghormati itu sangat kental pada waktu menjalankan Tarawih. “Karena musalanya milik NU maka Tarawihnya 23 rakaat. Biasanya, warga Muhammadiyah (tua dan muda, Red) akan mundur ketika sudah masuk rakaat kedelapan,” ujarnya.

Tarawih seperti itu sudah berlangsung sejak lama dan tidak pernah dipermasalahkan. Dari hal kecil seperti itu, Ika mengambil kesimpulan warganya di Kauman memiliki rasa toleransi yang kuat. Sehingga tidak mudah terbentur satu sama lain.

Tidak hanya masyarakat, sikap saling menguatkan dua ormas ini sampai pula ke Masjid Agung Kota Kediri. Seperti yang diutarakan Basyarudin, sekretaris Takmir Masjid Agung Kota Kediri, warga dari kalangan NU dan Muhammadiyah sudah bersama-sama mengisi kepengurusan masjid. Meski kental dengan nuansa NU, ruang untuk warga Muhammadiyah tetap diberikan. Sehingga kedua ormas ini sudah terbiasa saling mengisi.

“Baik imam atau yang membacakan khotbah biasanya dilakukan secara bergantian,” ucap pria berkacamata itu. Giliran warga Muhammadiyah yang akan menjadi imam maka tugas takmir adalah diberi catatan kecil yang harus dilakukan. Misalnya membaca doa bersama. Karena Masjid Agung yang terletak di Kauman ini sudah menjadi milik masyarakat secara umum maka perbedaan kecil tidak lagi menjadi masalah. (rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news