Senin, 14 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Kampung Kauman

Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (3)

Lestarikan Takjil meski Hanya Getuk & Samplok

23 April 2021, 16: 56: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

MEGAH: Masjid Agung Kota Kediri yang identik dengan Kampung Kauman.

MEGAH: Masjid Agung Kota Kediri yang identik dengan Kampung Kauman. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Ikatan antara warga Kampung Kauman dan Masjid Agung Kota Kediri sangat erat. Tiap tahun-hingga terbentur pandemi-mereke bergiliran menyiapkan takjil. Meskipun hanya makanan ringan nan sederhana.

Masjid Agung Kota Kediri berdiri megah di tepi Sungai Brantas. Menaranya menjulang, gedungnya pun artistik. Lokasinya tepat berada di sisi barat alun-alun. Tepat di samping Kauman Gang VI.

Fasilitas yang ada pun kian lengkap. Ada hall yang bisa disewakan di lantai bawah. Juga ada perpustakaan yang berada di sisi selatan. Terpisah oleh tempat parkir. Perpustakaan ini bisa diakses oleh masyarakat umum.

Masjid ini diperkirakan dibangun pada 1771. Hingga kini tetap menjadi primadona umat Islam bila ingin beribadah. Tak hanya warga Kota Kediri saja tapi juga orang luar kota. Bahkan menjadi salah satu destinasi wisata religi.

Hubungan warga Kampung Kauman dengan masjid ini terjalin sangat lama. Mereka ikut merawat dan meramaikan masjid terbesar di Kota Kediri ini.

Warga Kauman yang tinggal di sekitarnya punya andil besar menghidupi masjid. Saat Ramadan seperti sekarang ini, ada tradisi berbagi takjil yang disediakan warga Kauman secara bergiliran pada waktu berbuka puasa. “Dari dulu pasti, semua warga di sini (Kauman, Red) pasti dapat gilran memberikan takjil. Yang disediakan macam-macam,” terang Syamsudin, warga setempat.

Pria yang rambutnya sudah beruban itu mengatakan, tidak semua warga bisa memberikan makanan yang enak. Karena kondisi ekonomi, warga Kauman ada yang hanya mampu menyediakan tela, gethuk, hingga samplok untuk mereka yang berbuka puasa di masjid. Tradisi itu bertahan hingga pandemi Covid-19 menerjang.

“Sudah dua tahun tidak ada giliran membagikan takjil di masjid,” ujar kakek lulusan Madrasah Islam Menengah (MIM) ini.

Pemberian makanan ke masjid itu tidak hanya untuk mereka yang berbuka puasa. Makanan juga diberikan ketika warga melaksanakan tadarusan.

Senada dengan Syamsudin, Sekretaris Takmir Masjid Agung Basyarudin mengamini adanya andil dari warga Kauman dalam membesarkan masjid. “Sampai sekarang, jamaah dari Kauman tetap ada. Begitu juga dari luar Kauman,” ungkapnya.

Kedekatan warga Kuaman dan masjid ini tidak hanya dilihat saat pembagian takjil Ramadan saja. Pria 46 tahun yang tinggal di Kelurahan Banjarmlati itu mengungkapkan, setiap kali ada pembagian zakat, masjid selalu memprioritaskan warga Kauman. Sebelum diserahkan ke masyarakat yang lebih luas.

Bahkan, untuk mengisi pengurus masjid, paling pertama yang jadi prioritas adalah dari warga Kauman. Jika tidak memenuhi syarat baru diambil dari tempat lain.

Kedekatan Masjid Agung Kota Kediri dengan warga Kauman diperkirakan berlangsung  sejak berdirinya masjid. “Yang saya tahu, masjid ini didirikan dari tanah wakaf bupati pertama di Kediri,” ujar Basyarudin. Sayangnya, belum ada catatan sejarah yang menunjukan masjid tersebut didirikan di Kauman atau masuk Kampungdalem.(rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news