Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Pasang Surut Suyoto Menekuni Pembuatan Wayang Kulit Puluhan Tahun

Punakawan Jadi Karakter yang Paling Diminati

23 April 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Lukis

TERAMPIL: Suyono melukis wayang Karno Tanding di rumahnya, Desa Gandu, Bagor kemarin (22/4). (Karen Wibi - radarkediri.id)

Share this          

Mewarisi keterampilan dari keluarga secara turun-temurun, Suyoto menekuni pembuatan wayang kulit sejak puluhan tahun silam. Meski omzetnya merosot tajam selama pandemi, dia tetap berkarya. Sebab, membuat wayang bukan melulu soal uang tetapi karena kecintaannya.

KAREN WIBI. BAGOR, JP Radar Nganjuk

Jarum jam menunjukkan pukul 11.00. Suyoto terlihat sibuk beraktivitas di kursi kecil di halaman rumahnya. Tubuhnya membungkuk. Kakinya beberapa kali diangkat, senada dengan gerakan tangannya yang mengoleskan kuas di kulit kambing yang dibeber di meja.

Baca juga: Dalami Laporan Dana Desa Sukorejo

Beberapa kali matanya terlihat menyipit. Menandakan jika pria berusia 55 tahun itu tengah fokus dengan pekerjaannya. Saat tangan kanannya menyapukan warna di kulit, tangan kirinya memegang kuat kulit berukuran 60x100 sentimeter (cm) itu.

Lagu keroncong yang diputar dengan keras tak mampu membuyarkan konsentrasinya. Demikian juga kicauan burung yang seolah tak henti. Perpaduan suara keduanya justru jadi hiburan tersendiri bagi pria berambut cepak itu. “Ini saya sedang membuat wayang Karno Tanding,” ujarnya kepada koran ini.

Membuat wayang menjadi aktivitas keseharian pria asal Desa Gandu, Bagor ini. Keterampilan yang dipelajarinya dari ayah dan kakeknya itu kini memang menjadi pekerjaannya. Mewarisi keterampilan secara turun-temurun, jiwa Suyoto seolah sudah menyatu dengan berbagai karakter wayang yang dibuatnya. 

Karenanya, meski sejak pukul 07.00 dia sudah mulai beraktivitas di meja dan kursi kesayangannya itu, dia tidak merasa bosan. “Baru beristirahat kalau sudah lelah. Biasanya bisa sampai menjelang malam,” lanjutnya.

Saat banyak pesanan datang, bapak dua anak itu tak jarang harus lembur. Sebab, satu tokoh wayang tidak bisa selesai dalam sehari. Melainkan bisa memakan waktu selama 4-14 hari. Tergantung kerumitan wayang.

Dia mencontohkan pembuatan wayang Punakawan yang membutuhkan waktu sekitar empat hari. Tetapi, untuk karakter Karno Tanding bisa lebih lama lagi. Apalagi, wayang buatan Suyoto memiliki perbedaan yang mencolok dibanding perajin lainnya.

“Saya membuat wayang dengan corak yang detaiil. Minimal ada 24 corak warna. Bahkan bisa lebih,” tuturnya. Hal tersebut membuat proses pembuatan wayang jauh lebih lama.

Untuk bahan wayang yang digunakan untuk pentas, Suyoto hanya mau menggunakan kulit kerbau. Adapun untuk wayang pajangan, biasanya dia bisa menggunakan kulit kambing.

Agar mendapatkan kulit dengan kualitas terbaik, biasanya dia akan langsung turun ke tukang jagal. “Memilih sendiri. Memastikan kulitnya tidak cacat,” bebernya.

Dengan ketelitiannya itu, Suyoto mematok harga wayang yang bervariasi. Misalnya, wayang untuk pentas biasa dijual mulai Rp 400 ribu hingga Rp 2 juta. Khusus untuk karakter Karno Tanding yang lebih rumit, harganya lebih mahal. Yaitu, mulai Rp 750 ribu sampai Rp 2 juta.

Pria yang mulai membuka usaha pembuatan wayang sejak muda itu mengaku mulai banyak mendapat order sejak 1990 lalu. Setiap bulan dia bisa menjual 5-6 wayang.

Selain menjual karyanya ke lokal Nganjuk, banyak juga warga dari beberapa daerah di sekitar Nganjuk yang berminat membali. Bahkan, dengan model pemasaran dari mulut ke mulut, wayang buatannya juga bisa terjual hingga ke Hongkong, Singapura, dan Jepang. Sayangnya, selama pandemi Covid-19, omzetnya merosot tajam. “Sekarang hanya bisa menjual satu atau dua wayang dalam sebulan,” terangnya.

Meski order sepi, dia mengaku tidak terlalu memikirkannya. Sebab, membuat wayang baginya bukan sekadar untuk menghasilkan uang. Lebih dari itu, membuat wayang sekaligus untuk menunjukkan kecintaannya akan budaya asli Jawa itu.

Karenanya, meski order tak sebanyak saat sebelum pandemi, dia mengaku tetap enjoy menjalani pekerjaannya itu. “Dinikmati saja. Membuat wayang ini sekaligus juga melestarikan budaya Indonesia,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news