Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Pembeli Turun Drastis, Pedagang Kampung Nanas Tinggal Lima Orang

21 April 2021, 13: 42: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

NAIK DUA KALI: Penjual nanas di kawasan wisata Gunung Kelud yang masih bertahan melayani pembeli kemarin.

NAIK DUA KALI: Penjual nanas di kawasan wisata Gunung Kelud yang masih bertahan melayani pembeli kemarin. (Dewi Ayu Ningtyas - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Sejak awal Ramadan, harga nanas mengalami kenaikan dua kali lipat. Saat ini tiap bijinya Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu. Hal tersebut terjadi lantaran permintaan masyarakat yang juga meningkat dibandingkan sebelumnya.

Ika, 33, salah satu penjual nanas mengatakan, kenaikan harga nanas sudah terjadi sejak awal Ramadan Selasa lalu (12/4). Kondisi itu berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya, terlebih terdampak pandemi Covid-19. “Sebelum puasa masih murah, per bijinya seribu sampai seribu lima ratus,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri, kemarin (20/4).

Saat ini harga tiap nanas ukuran besar Rp 4 sampai 5 ribu, sedangkan kecil Rp 2 ribu sampai 3 ribu. Harga sebelumnya untuk nanas berukuran kecil hanya seribu, sedangkan ukuran besar memiliki harga tertinggi Rp 2 ribu.

Baca juga: Persik Tunggu Regulasi PSSI

Terkait kondisi uji coba pembukaan tempat wisata Kelud, diakuinya cukup menambah jumlah pembeli. Namun hanya 5 persen dari sebelumnya. “Masih sepi apalagi puasa juga, pas-pasan. Hanya orang yang cari nanas untuk selai,” ujarnya.

Untuk saat ini, dirinya sudah bersyukur bisa mendapatkan tiga sampai empat pembeli saja sudah . Pasalnya, sebelum Ramadan kondisi penjualan justru lebih sepi. Bahkan dari total 28 pedagang lapak tersisa 4 sampai 5 orang saja.

Pendapatannya saat ini tidak lebih Rp 200 ribu. Itu pun hanya terjadi saat hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Sebelum pandemi, dalam sehari sekurang-kurangnya Rp 500 ribu bisa dikantonginya. “Sekarang untuk dapat segitu (Rp 200 ribu, Red) sulit sekali,” ujarnya.

Sementara itu, untuk harga nanas di tingkat petani sebesar Rp 2.500 tiap bijinya. Sebelum Ramadan, hanya seribu per biji untuk ukuran besar. “Harga seribu per biji saat awal korona,” ujar Sudarno, salah satu petani nanas di Desa Ngancar.

Lanjut petani berusia 64 tahun tersebut, salah satu petani nanas mengatakan, kenaikan harga terjadi mulai awal puasa lalu. Kenaikan mencapai dua kali lipat itu dibeli oleh seorang tengkulak dengan sistem borongan.

Untuk hasil panen di lahan 1 hektare miliknya itu hanya bisa meraup Rp 9 juta. Padahal sebelum pandemi Covid-19, ia bisa mendapatkan uang Rp 20 juta.

Dengan hasil penjualan Rp 9 juta itu, diakuinya pas untuk modal hingga biaya panen. Hal ini lantaran kesulitan mendapatkan pupuk. “Sudah sulit, harga yang nonsubsidi lebih mahal,” ujarnya. (c2/dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news