Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
Kolom Ramadan

-- Rakus --

18 April 2021, 11: 26: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

Suko Susilo

Suko Susilo

Share this          

‘Sejatinya, puasa Ramadan itu antara lain merupakan sarana pengendalian diri  agar terhindar dari ketercelaan perbuatan sebagaimana yang diwajibkan oleh kiblat keimanan kita’

Oleh : Suko Susilo

Manusia memang potensial rakus. Harta berlimpah masih ingin ditambah-tambah. Tak puas menumpuk harta, masih merayap mencari jabatan ‘basah’. Demi memantapkan status sosial sebagai birokrat sukses sejahtera. Tak peduli status itu dijalani lewat peran kepala dua. Kesetiaan kepada atasan mudah berubah menjadi pengkhianatan terselubung saat tidak berhadapan muka. 

Baca juga: Difabel Badas Rintis Konveksi: Pesanan Awalnya Datang dari Klub Bola

Menjadi politisi memang akan membuat citra sosial menjadi terangkat tinggi. Namun perburuannya seringkali terkesan menjauh dari petunjuk norma moral. Berbagai tindakannya sering dibungkus gaung niat luhur melayani dan memperjuangkan nasib rakyat. Tak penting orang berkata miring bahwa perjuangan menjadi pejabat politik sebenarnya cuma mencari pekerjaan. Yang penting citra sosial sebagai elite berhasil dibangun. Segala cara ditempuh, yang penting menang dalam pertarungan.

Kita ini memang makhluk sosial yang tentu karenanya butuh pengakuan dan validasi sosial. Kita ingin dihargai, diapresiasi, dimasukkan dalam kelompok yang kita inginkan. Citra sosial ini dianggap penting dalam pergaulan. Karenanya, tak perlu heran jika ada orang terkesan selalu kurang sekalipun menurut orang lain sebenarnya telah berkelebihan. Memang tidak salah, sepanjang perburuan citra sosial itu dijalani dengan cara yang lumrah. Cara yang tidak menabrak standar etik dan moral, serta merampas hak orang lain.

Tidak sekadar di wilayah birokrasi dan politik. Dalam kehidupan keseharian pun tontonan kerakusan itu tak sulit ditemukan. Ambillah contoh, trotoar yang niat awalnya untuk pejalan kaki. Kini mudah terlihat area itu dipenuhi orang jualan. Cuek dan terkesan tak merasa bersalah saat melihat tuna netra bertongkat tertatih-tatih naik turun trotoar menghindari kerumunan orang atau lapak dagangan. Seolah sah menempatkan alasan cari makan sekalipun dengan rakus merampas hak pejalan kaki.

Menjelang penerimaan siswa baru selalu terdapat sejumlah orang keluar masuk ruang kepala sekolah bahkan kepala dinas pendidikan. Merengek pada otoritas pendidikan untuk meminta anak dengan danem jongkok diterima di sekolah favorit. Padahal, semestinya anak dengan prestasi akademik tinggilah yang lebih berhak berada di sekolah itu. Akhirnya yang pintar tergusur oleh kerakusan orang tua yang demi gengsi ngotot anaknya diterima di sekolah favorit.

Rakus adalah tindakan sosial. Artinya adalah tindakan yang bermakna bagi orang lain. Rakus jabatan publik, memakai trotoar untuk kegiatan bisnis, dan rakus bangku sekolah adalah sedikit contoh tindakan yang memiliki implikasi sosial. Karenanya mungkin tak terlalu salah jika tindakan rakus itu juga berbuah ‘dosa sosial’. 

Bentuk kerakusan yang paling memiliki ‘dosa sosial’ adalah korupsi. Korupsi jelas memiliki implikasi sosial karena merugikan banyak orang. Menyalahgunakan kepercayaan publik demi keuntungan diri sendiri dan atau kelompoknya tetapi merugikan keuangan dan perekonomian negara. Sekalipun bagi pelakunya mungkin dianggap menguntungkan.

Hal yang sering kurang disadari oleh koruptor adalah bahwa korupsi itu merupakan kejahatan kompleks karena menyangkut kehidupan orang banyak dengan berbagai aspeknya. Menyangkut hak orang lain menemukan kesejahteraannya serta memperoleh pelayanan sebagaimana mestinya dari pemerintah. Bahkan korupsi bisa berdampak pada kemiskinan, kesenjangan, dan ketidakadilan. Berimbas juga pada nasib dan masa depan orang lain.

Korupsi juga merupakan pintu masuk berkembangnya kejahatan tersebab oleh ketidakadilan serta kesenjangan yang semakin menganga. Sebagian kecil masyarakat menikmati hidup lebih baik dan lebih sejahtera bahkan mewah hasil korupsi. Sementara sebagian besar yang lain menderita kemiskinan dan berbagai macam keterbatasan.

Ramadan, antara lain mengajarkan kepada kita untuk tidak mengumbar berbagai spirit hidup tercela. Termasuk tindakan rakus. Marilah ikhlas menyadari bahwa sejatinya puasa Ramadan itu antara lain merupakan sarana pengendalian diri  agar terhindar dari ketercelaan perbuatan melalui peneguhan sikap batin dan tindakan sebagaimana arahan kiblat keimanan kita. Rakus bukanlah arahan Islam. Kecuali berbuah ‘dosa sosial’, tentu kerakusan juga menjadi sesungguhnya dosa yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Terlebih-lebih rakus di bulan Ramadan. (Penulis adalah Pemerhati Sosial)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news