Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Difabel Badas Rintis Konveksi: Pesanan Awalnya Datang dari Klub Bola

18 April 2021, 16: 15: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

PANTANG MENYERAH: Muhammad Muhsin sedang menjahit pesanan kaus di rumahnya, Dusun Sumberagung, Desa Krecek, Kecamatan Badas.

PANTANG MENYERAH: Muhammad Muhsin sedang menjahit pesanan kaus di rumahnya, Dusun Sumberagung, Desa Krecek, Kecamatan Badas. (DEWI AYU NINGTYAS-JP RADAR KEDIRI)

Share this          

Keterbatasan fisik bukan halangan. Tidak pernah tertarik melamar pekerjaan, Muhammad Muhsin membuktikan diri bisa merintis usaha dari nol.

Berawal dari membaca beragam buku ‘cara menyablon’ itulah keinginan Muhammad Muhsin untuk terus belajar soal sablon tumbuh. Hingga ia mendapat kesempatan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kediri mengikuti program keterampilan ke Kota Pasuruan pada 2005.

Saat itulah dia kali pertama mempelajari keterampilan elektronik yang tidak disangkanya justru berminat pada keterampilan sablon. Selama setahun pelatihan digunakannya untuk rutin berkunjung ke kelas keterampilan sablon. “Di sela-sela istrirahat iseng main ke sana untuk melihat-lihat saja,” kata warga Dusun Sumberagung, Desa Krecek, Kecamatan Badas ini saat Jawa Pos Radar Kediri bertandang ke rumahnya.

Baca juga: Perampok Sayat Ban, Anak Korban Sempat Pangku Uang Rp 0,5 Miliar

Setelah bekal setahun itu, pada 2006 menjadi titik awal Muhsin merintis usaha. Bermodal uang Rp 500 ribu dari jasa penyewaan playstation dia membeli alat sablon. “Waktu itu beli kaca dan screen,” aku pria kelahiran 1984 itu.

Rintisan usaha sablonnya dijalankan sembari mengelola jasa penyewaan playstation. Saat itu penghasilan utama masih dari penyewaan tersebut. Dengan sabar dan telaten, sedikit demi sedikit Muhsin mengumpulkan penghasilannya untuk mencicil pembelian mesin jahit dan peralatan lain. “Awalnya sablon saja, untuk memotong dan jahit kain di konveksi lain,” aku bapak satu anak ini.

Di awal usaha sablonnya, Muhsin menerima pesanan pada 2006 hanya Rp 3 ribu tiap potong kaus. Itu pun dari warga kampung untuk keperluan klub sepak bola. “Tidak lebih dari 20 potong kaus, melihat anak-anak senang saya sudah senang,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, pada akhir 2006 ketelatenannya berbuah manis. Rintisan penyewaan PS dan sablon pun menghasilkan pundi-pundi uang. Hanya dengan Rp 500 ribu Muhsin memberanikan diri membuka konveksi. “Saya coba konveksi sekalian,” ujarnya seraya melakukan pengemasan kaus.

Sampai saat ini ongkos sablon pun minimal Rp 15 ribu tiap potong kaus. Pemasukannya sekurang-kurangnya Rp 4 juta tiap bulannya. Itu hanya dari sablon. Untuk jumlah sablon per hari yang bisa ditangani mencapai 100 kaus.

Itu belum terhitung dari konveksi yang dijalankan. “Tapi saya tidak melakukan pembukuan selama ini,” urai pria tamatan SD ini. Hal tersebut lantaran masih sibuk dengan kebutuhan sehari-hari. Pasalnya dari usaha itulah keluarga besarnya menggantungkan hidup. (c2/ndr)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news