Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Ekspedisi Bentang Kendeng Timur

Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk (6)

Lumpang Kuno Tersebar di Hutan Bendoasri

17 April 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Lumpang

BATUAN ANDESIT: Amin membersihkan lumut di salah satu lumpang purba yang banyak didapati di hutan Bendoasri. Alat tersebut dahulu diduga digunakan oleh manusia purba. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Lumpang merupakan alat yang digunakan untuk menumbuk hasil pertanian. Bisa juga menjadi tempat untuk meramu obat-obatan herbal. Tak disangka, ternyata alat tersebut telah ada sejak zaman prasejarah.

Lumpang biasa ditemukan di daerah pedesaan. Kebanyakan terbuat dari material batu maupun kayu. Sebuah lumpang biasanya memiliki alu atau antan. Yang digunakan untuk menumbuk hasil pertanian.

Masyarakat Indonesia, sejak zaman nenek moyang, telah lama mengenal alat tersebut. Jauh sebelum alat penggilingan modern ditemukan. Lumpang diyakini menjadi salah satu alat yang memiliki banyak manfaat sejak dahulu kala.

Baca juga: Andayani Siap Maju, Sudjono Masih Malu-Malu

Pasalnya tidak hanya hasil pertanian dan kebun saja yang ditumbuk atau dihaluskan dengan alat tersebut. Melainkan juga digunakan untuk menumbuk tanaman obat-obatan. Hasilnya digunakan untuk pengobatan herbal atau tradisional.

Jika ditarik jauh ke belakang, kebudayaan itu tidak hanya sampai pada zaman kerajaan saja. Melainkan telah dikenal sejak manusia belum mengenal kebudayaan baca-tulis. Manusia di zaman megalitikum telah menggunakan alat tersebut untuk kebutuhan sehari-harinya.

Hal itu dibenarkan oleh Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi. Salah satu bukti penggunaan lumpang kuno itu ditemukan di kawasan hutan Rejoso yang berada di Desa Bendoasri. “Di cekungan ini yang biasanya digunakan untuk menumbuk hasil pertanian,” ujar Amin sembari membersihkan salah satu temuan lumpang yang ada di sana.

Salah satu ciri lumpang purba adalah penggunaan batuan andesit. Bentuknya pun biasanya masih dibiarkan natural. Batuannya belum dimodifikasi menjadi bentuk tertentu. Seperti persegi, persegi panjang, maupun bundar. Bentuk lumpang purba masih utuh berbentuk batu aslinya.

Hanya cukup dibuat cekungan pada bagian atasnya. Cekungan memiliki diameter yang berbeda-beda. Namun rata-rata sebesar telapak tangan orang dewasa. Sedangkan kedalamannya sekitar sepanjang jari tangan.

Di tengah hutan Bendoasri, lumpang kuno dapat dengan mudah ditemukan. Bahkan, jumlahnya mencapai puluhan. Ada pula yang menyebut jumlahnya mencapai ratusan.

Saat ekspedisi dilakukan, tim menemukan banyak lumpang di area mata air atau belik Tanggal Songo. Temuan itu menunjukkan era manusia purba yang telah relatif maju. Pasalnya, keberadaan lumpang erat dengan kemajuan kebudayaan bercocok tanam.

Artinya, di sekitar lokasi diperkirakan merupakan kawasan permukiman masyarakat prasejarah. “Awalnya kan tahunya hanya berburu. Biasanya dilakukan secara berpindah-pindah atau nomaden,” terang pria yang tinggal di Kelurahan Begadung, Kota Nganjuk tersebut.

Berdasarkan keterangan Amin, lumpang-lumpang tersebut dibuat dengan alat sederhana yang terbuat dari logam kuno. Selain keberadaan lumpang, tim juga banyak menemukan batuan dengan banyak goresan. Meski belum dapat dipastikan, namun goresn tersebut diduga digunakan sebagai alat menajamkan logam. “Diperkirakan sebagai tempat untuk mengasah alat,” tandas ayah tiga orang anak itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news