Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Banjir Rendam Lima Desa di Lengkong

Air Kiriman dari Hutan Masuk ke Rumah Warga

16 April 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Banjir

GEMBIRA: Sejumlah anak bermain air di halaman rumah mereka yang hingga kemarin siang masih terendam air bah. Bencana banjir yang mengepung lima desa di Lengkong itu terjadi setelah wilayah setempat diguyur hujan deras sejak Rabu (14/4) sore lalu. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Lima desa di Kecamatan Lengkong terendam banjir, Kamis (15/4) dini hari kemarin. Hujan deras yang mengguyur wilayah setempat sejak Rabu (14/4) sore membuat sungai meluap. Air bah pun masuk ke pemukiman warga.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, lima desa yang terendam air bah mulai Desa Lengkong, Banjardowo, Balongasem, Kedungmlaten, dan Jegreg. Selain menggenangi wilayah permukiman, banjir luapan juga menggenangi halaman Kantor Kecamatan Lengkong. Hingga kemarin siang, sejumlah titik genangan masih belum surut.

Siti Patemi, 55, warga Dusun/Desa Lengkong mengatakan, air bah meluap sejak pukul 02.00. Perempuan yang tengah menyiapkan hidangan makan sahur itu terkejut karena air bah sudah masuk ke pemukiman. “Ketinggian air sekitar 20-30 sentimeter,” ujarnya.

Baca juga: Produktivitas Kopi di Kelud Turun, Mengapa?

Siti bersyukur air tidak sampai masuk ke rumahnya. Sebab, mayoritas rumah di sana lebih tinggi. Hanya beberapa rumah yang fondasinya rendah saja yang terkena luapan. Ketinggian air di dalam rumah sekitar 5-10 sentimeter.

Perempuan paruh baya itu menjelaskan, lingkungannya sejak dulu memang langganan banjir. Terutama jika hujan deras mengguyur dengan jangka waktu yang cukup lama. Curah hujan membuat debit air sungai Widas naik drastis dan meluap.

Hanya saja, bencana yang sudah dianggap langganan itu tidak lagi terjadi selama 3-4 tahun terakhir. “Baru tahun ini terjadi lagi,” lanjut perempuan yang memakai daster biru itu.

Siti menegaskan, banjir yang terjadi dini hari kemarin itu cukup parah. Sebab, biasanya air bah akan langsung surut selang satu hingga dua jam. Adapun banjir kemarin belum surut hingga tengah hari. Bahkan, menurut pengamatannya debit air justru bertambah.

  Setidaknya itu terlihat dari air bah yang mencapai jalan paving setempat. "Tadi tidak sampai mendekat jalan paving. Biasanya menunggu air di sungai Widas agak berkurang dulu," sambung Siti tentang surutnya banjir di lingkungannya.

Salah satu titik yang terdampak cukup parah adalah jalur Lengkong-Rejoso. Tepatnya di barat SPBU Lengkong hingga sekitar 500 meter ke arah barat. Melihat tingginya air di sana,  beberapa pengendara motor memilih memutar di jalan gang Desa Banjardowo.

Hanya sebagian kendaraan roda dua dan roda empat yang tetap nekat melewati jalur tersebut. Mereka memilih melaju dengan pelan dan tetap masuk ke jalan. Padahal, di depannya ada satu unit truk yang mogok karena nekat melewati jalan yang tergenang itu. “Truk saya mogok karena mesinnya kemasukan air,” tutur Ali Mashudi, 50, yang berkendara sejak pukul 03.00 dini hari kemarin.

Terpisah, Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk Abdul Wakid menyebut anggotanya telah melakukan asesmen. Menurutnya, banjir di Lengkong terjadi akibat air kiriman dari wilayah hutan di sekitar Lengkong. Akibatnya, sungai tak mampu menampung dan meluap ke pemukiman warga.

Tingginya curah hujan, lanjut Wakid, membuat aliran air dari hulu terhambat saat akan masuk ke sungai Widas. “Akhirnya terjadi banjir itu,” terang Wakid.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news