Jumat, 25 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Zuhri, Kakankemenag Kabupaten Kediri

Pernah Jadi Tukang Kebun Tribakti hingga Sopir Kiai Imam Lirboyo

15 April 2021, 11: 25: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

SANTRI ASLI: Zuhri di ruang kerja kepala Kemenag Kabupaten Kediri. Dia pernah menjadi santri Kiai Maimun, Sarang dan Kiai Imam, Lirboyo.

SANTRI ASLI: Zuhri di ruang kerja kepala Kemenag Kabupaten Kediri. Dia pernah menjadi santri Kiai Maimun, Sarang dan Kiai Imam, Lirboyo. (DEWI AYU NINGTYAS-JP RADAR KEDIRI)

Share this          

Bermodal tekad besar Zuhri pergi dari desanya di Rembang, Jateng. Nyantri di Lirboyo. Hubungannya dengan almarhum KH Imam Yahya Mahrus pun tak sekadar antara santri dan kiai.

DEWI AYU NINGTYAS, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Kediri ini mengingat masa-masa dia mengawali hidupnya di Kediri. Pada 1987 silam dia memutuskan mondok di Ponpes Lirboyo.

Baca juga: Bina Insani Bagi-Bagi Masker saat Gemar

Modalnya ke Kediri adalah lembaran ijazah SD dan MTs. Juga pengalamannya mondok di PP Al Anwar, Sarang, Rembang, pondok yang diasuh oleh Kiai H. Maimun Zubair, yang kini sudah almarhum.

Tak hanya mondok, Zuhri memutuskan meneruskan sekolahnya di MA Tribakti. Namun, karena sejak awal memutuskan untuk jadi santri dalem atau ngabdi dalem, maka dia harus pandai membagi waktu. Belajar agama, formal, dan tugas-tugas yang dibebankan pada dirinya sebagai abdi dalem.

“Mulai ngabdi ditempatkan menjadi tukang kebun di IAIT Tribakti. Setiap harinya bersih-bersih,” tutur anak keenam dari sembilan bersaudara ini.

Ketekunannya berbuah kepercayaan. Mulai diminta membuat sajian untuk tamu hingga menjadi sopir pribadi Kiai H Imam Yahya Mahrus. Pekerjaan yang dia lakoni selama enam tahun.

Saat menjadi sopir sang kiai besar itu, banyak pengalaman hidup yang tak ternilai. Apalagi sang kiai tak menganggapnya sebagai seorang sopir atau santri. Dia dianggap sebagai seorang teman.   “Awakmu duk sopir tapi tak jak kanca (kamu bukan sopir tapi tak anggak teman, Red),” katanya mengulang ucapan sang kiainya itu.

Pengabdiannya berlanjut meskipun lulus sarjana Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam di IAIT Tribakti. Berbagai tawaran tak menggoyahkannya. Ketika diminta jadi kades atau anggota dewan pada 1997, dia memilih bertanya pada dua kiai panutannya, Kiai Maimun Zubair dan Yahya Mahrus. “Saya tetap diminta di Tribakti,” ujar pejabat 55 tahun ini.

Pada 1999, lelaki yang pernah bercita-cita jadi wartawan ini kembali menghadap Kiai Yahya Mahrus. Dia kemudian menyodorkan tanda lolos seleksi CPNS. Sebagai isyarat apakah sang kiai mengizinkan atau tidak dia menjadi abdi negara.

“Kiai nyuwun sewu nyuwun duko pangestune kula nderek daftar CPNS,” ucapnya saat itu.

Jawaban sang kiai di luar dugaan.  “Menawa iki rejekine awakmu, istrimu, anakmu Alhamdulillah (mungkin ini rezekimu, istrimu, dan anakmu, alhamdulillah, Red,” masih kata Zuhri menirukan jawaban sang kiai.

Bekal izin itulah dia bisa diterima sebagai PNS. Kemudian meretas karir hingga seperti sekarang ini. “Semua ini bukan karena kepintaran saya tetapi amaliah yang disampaikan beliau (KH Imam Yahya Mahrus, Red). Ingin segala sesuatu bermanfaat bagi masyarakat, keluarga, dan diri sendiri,” aku Zuhri. (fud)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news