Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Bertambah Ratusan ODGJ

08 April 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Dinkes

VERIFIKASI: Kasi PTM dan Keswa Dinkes Nganjuk Duwi Wahyuni (kanan) mendata jumlah ODGJ yang ada di Nganjuk. Selama 2020 ada penambahan ratusan orang. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Nganjuk meningkat ratusan orang. Pandemi Covid-19 disinyalir jadi salah satu penyebab meningkatnya stresor atau pemicu stres.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, pada 2019 lalu total ODGJ di Nganjuk sebanyak 2.358 orang. Selanjutnya, pada 2020 lalu jumlah ODGJ melonjak menjadi 2.763 orang atau bertambah 405 orang. “Penambahan (ODGJ, Red) terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya peningkatan stresor,” ujar Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinkes Nganjuk Duwi Wahyuni.

Meski belum ada penelitian resmi, pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 lalu disinyalir jadi salah satu penyebabnya. Pasalnya, pandemi menghantam semua lini kehidupan. Termasuk sektor ekonomi yang banyak membuat orang kelimpungan menyambung nasib.

Baca juga: Razia Rutan,Temukan Alat Cukur dan Korek Api

ODGJ

ODGJ (Grafis: Dedi Nurhamsyah - radarkediri.id)

Secara teori, Duwi menyebut kondisi ekonomi yang pasang-surut juga bisa menjadi stresor. “Kesulitan ekonomi saat pandemi bisa saja menjadi pemicu stres,” imbuh perempuan berkerudung tersebut.

Hanya saja, pihaknya tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa ratusan ODGJ baru tersebut ada karena pandemi ini. Sebab, faktor pemicu tiap individu bisa saja berbeda.

Untuk diketahui, dari 20 kecamatan di Nganjuk, jumlah ODGJ terbanyak berasal dari Kecamatan Prambon. Pada tahun 2019, total ada 370 ODGJ di sana. Sedangkan tahun 2020 menjadi 418 orang atau bertambah 48 orang.

Selain karena kepadatan penduduk dan tingkat stres yang tinggi, banyaknya temuan ODGJ di sana juga karena petugas aktif untuk turun ke lapangan. Melakukan pencarian, pemantauan, hingga jemput bola. Sehingga jumlah ODGJ bisa ditemukan dan ditangani.

“Itu (banyak temuan, Red) justru bagus karena semakin banyak ODGJ yang dapat segera mendapatkan pertolongan medis. Kemungkinan sembuhnya pun dapat lebih besar,” tutur Duwi.

Duwi menjelaskan, hingga saat ini relatif sedikit masyarakat yang memiliki kesadaran untuk memeriksakan kondisi kesehatan jiwa kepada petugas. Baik dirinya sendiri maupun anggota keluarga lainnya. Mayoritas baru datang ke petugas kalau sudah parah atau berat.

Bahkan, ada kecenderungan untuk menutup-nutupi anggota keluarga yang diduga mengalami gangguan kejiwaan saat didatangi petugas. Kebanyakan masih menganggap hal tersebut aib atau beban keluarga. “Padahal kami niatnya hanya membantu,” sambungnya.

Duwi menegaskan anggapan tersebut harus dibuang jauh. Masyarakat bisa melakukan pengobatan tanpa dipungut biaya alias gratis. Dinkes menurutnya akan terus menyuplai obat selama tercatat sebagai pasien ODGJ.

Sementara itu, dari berbagai jenis gangguan jiwa, kasus terbanyak adalah jenis Skizofernia. Gangguan mental ini terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Bisa menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Orang dengan gangguan ini akan kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news