Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Alip Wibowo, Kasek yang Geluti Budi Daya Porang Beromzet Ratusan Juta

Lepaskan Petani dari Tengkulak

07 April 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Porang

BERTANI: Alip Wibowo mengecek pertumbuhan tanaman porangnya di Dusun Tengger, Desa Blongko, Ngetos. (Dewi Ayu Ningtyas - radarkediri.id)

Share this          

Sekitar enam tahun melakukan budi daya porang, Alip Wibowo tak hanya menghasilkan omzet ratusan juta rupiah. Melainkan dia juga melepaskan ratusan petani dari para tengkulak setelah menjalin kerja sama dengan perusahaan.

DEWI AYU NINGTYAS, NGETOS. JP Radar Nganjuk

Baca juga: Tiga Bulan, Tilang Ribuan Pelanggar

“Bertani porang itu juga melatih kesabaran,” ujar Alip Wibowo kepada koran ini Kamis (11/3) lalu. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Pria yang tinggal di lereng gunung Wilis, Dusun Tengger, Desa Blongko, Ngetos itu tengah mengecek kondisi tanaman porang miliknya.

Melihat tanaman yang tumbuh subur, pria kelahiran 1985 lalu itu terlihat gembira. Wajahnya semakin semringah saat melihat di beberapa daun pohon porang mulai tumbuh katak.

Membudidayakan porang bisa dibilang gampang gampang susah. Mulai menanam bibit hingga pohon mulai tumbuh, membutuhkan perawatan ekstra. Terutama jika petani ingin tanamannya bisa berkembang maksimal. “Biasanya saya setiap sore ke sini (memeriksa tanaman, Red),” lanjut bapak dua anak itu.

Jika sekarang dia mulai memetik hasilnya, tidak demikian dengan enam tahun silam. Pria yang juga menjabat kepala MIS Hidayatul Ulum Desa Blongko, Ngetos itu harus melalui jalan berliku untuk bisa membudidayakan umbi yang tengah jadi buruan itu.

Adalah perjumpaannya dengan seorang teman yang juga petani porang pada 2013 lalu, yang mengawalinya. Sang teman lebih dulu menanam porang di Madiun. Beberapa kali mendiskusikan tata cara menanam porang, Alip tetap tak tertarik.

Demikian pun saat petani Dusun Tengger mendapat bantuan bibit porag pada 2015. Dia tetap memutuskan untuk fokus mengajar. Niat bertani baru muncul saat melihat lahan milik orang tuanya yang mencapai ratusan ru tidak dimanfaatkan. 

Alip pun mulai mencoba mengolah tanah. Yakni dengan menanam cabai hingga padi. Sebagai petani pemula dia harus menelan pil pahit.“Harganya mengikuti pasar dan gulung tikar. Panen harga murah,” tutur alumnus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya itu.

Tak mau menyerah, Alip ganti menanam tomat. Ternyata kondisinya masih sama. Saat panen harganya murah. Dia rugi lagi. Setelah beberapa kali mencoba dan belum kunjung meraih untung, tebersit di benaknya untuk menanam porang.

Pria yang memakai kaus biru itu pun memutuskan untuk melakukan percobaan menanam porang di dusunnya bersama para petani lain. Aktivitasnya itu dilakukan selepas dari sekolah.

 Tak hanya di kebun, depan rumahnya juga jadi tempat untuk pembibitan porang dan alpukat. Berawal dari tahun 2015 silam, kini dia sudah menekuni budi daya porang selama hampir enam tahun. Jumlah petani yang menanam porang di sana juga mencapai 450-500 orang.

Jika awalnya panenan mereka dijual kepada tengkulak, para petani yang berhimpun di Kelompok Tani Margomulyo ini bisa menjual secara mandiri. “Kami menjalin kerja sama dengan perusahaan. Memasok langsung. Berapapun yang masuk akan diterima,” bebernya.

Jika sebelumnya harga porang ditentukan oleh tengkulak, sekarang mereka bisa mendapat harga yang pasti dari perusahaan. Desember tahun lalu harga katak porang sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. Kemudian, umbi porang Rp 6.500 per kilogram.

Tahun ini, harga inden katak porang melonjak tinggi. Menjadi Rp 190 ribu hingga Rp 250 ribu per kilogram. “Tahun lalu bisa mendapat tiga ton umbi porang dari 1.500 pohon,” kenangnya sembari menyebut jumlah katak lebih sedikit dari umbi.

Dengan panenan bagus tahun lalu, tahun ini Alip menanam lebih banyak porang. Sedikitnya ada 4.500 pohon yang saat ini menunggu panen. Dengan asumsi jumlah panenan sama, dia akan mendapat sembilan ton umbi porang. Jumlah itu belum termasuk katak porang.

Omzet senilai ratusan juta rupiah pun sudah di depan mata. Meski demikian, dia memilih menanggapi dengan santai. “Hasilnya biar menjadi semangat teman-teman semua untuk tetap bertani,” urianya sambil tersenyum.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news