Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Pasutri Tunanetra yang Perjuangkan Kepemilikan Tanahnya

Berharap Bisa Kembali

06 April 2021, 12: 34: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

Pasutri

TUNGGU PENYELIDIKAN:Azis Rahayu bersama Imam Bukhori (kanan) dana anak semata wayangnya bersantai di rumah. Mereka masih menunggu kejelasan kasus penipuan tanah yang diusut Polres Nganjuk. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

Dalam kondisi keterbatasannya, Azis Rahayu dan Imam Bukhori tak mau menyerah. Mereka memperjuangkan tanah warisannya yang mendadak beralih nama. Mereka pun menaruh harapan besar kepada korps baju cokelat yang masih melakukan penyelidikan.

IQBAL SYAHRONI, TANJUNGANOM. JP Radar Nganjuk

Rumah kecil di Dusun Patranrejo, Desa Sonobekel, Kecamatan Tanjunganom itu terlihat sepi, Selasa (30/3) lalu. Hanya ada seorang lelaki yang duduk di ruang tamu sembari mendengarkan musik dari radio sekitar pukul 13.30.

Baca juga: Sosialisasi 4 Pilar di Aula Himasal Kabupaten Kediri

Lelaki yang tak lain adalah Imam Bukhori itu memang tengah bersantai. Mendengar suara pintu kayu diketuk, pria berusia 39 tahun yang juga penyandang tunanetra ini langsung mempersilakan tamunya masuk. “Mangga masuk, Mas,” katanya ramah.

Hafal dengan kondisi rumah setinggi sekitar tiga meter itu, Bukhori terlihat leluasa beraktivitas di sana meski tak bisa melihat. Dia bisa berpindah kursi dengan santai. Pun aktivitas lainnya.

Rumah mungil itu tak hanya ditinggali bersama dengan Azis Rahayu, 33, istrinya. Di sana, juga ada Risma Aulia, putri semata wayangnya. Jika Azis dan Bukhori merupakan penyandang tunanetra, tidak demikian dengan anak berusia empat tahun tersebut. Dia bisa melihat dengan normal. Indera lainnya juga berfungsi sempurna. Bocah kecil itu pula yang selama ini sering membantu orang tuanya.

Tak hanya hidup dalam kondisi keterbatasan, Bukhori dan Azis saat ini tengah menghadapi masalah pelik. Tanah warisan yang didapat dari orang tua Azis tiba-tiba berpindah nama kepada orang lain tanpa sepengetahuan mereka.

Tidak terima dengan kejadian tersebut, keduanya melaporkan kasus penipuan itu ke Polres Nganjuk pada Februari lalu. Setelah sedikit berbasa-basi dengan Jawa Pos Radar Nganjuk, Bukhori lantas membeber kronologi kasus yang melibatkan oknum pengacara di Nganjuk itu. “Ini (kasus penipuan tanah, Red) awalnya kaerna kami ingin balik nama tanah,” ujar Bukhori.

Dengan keterbatasan mereka, pasutri ini meminta bantuan salah satu oknum pengacara. Rupanya, tanah warisan itu benar-benar sudah berganti nama pemilik. Sayangnya, bukan nama mereka yang tertera di sertifikat. Melainkan, nama orang lain. Bahkan, tanah mereka sudah dijual kepada orang lain.

Merasa menjadi korban penipuan, mereka lantas melapor ke Polres Nganjuk. “Belum ada perkembangan. Kami masih menunggu,” tuturnya menunggu keadilan atas kasusnya.

Sedikitnya mereka sudah empat kali mendatangi Polres Nganjuk untuk diperiksa sebagai saksi. Di depan penyidik,  Bukhori dan Azis sudah membeberkan kronologi kejadiannya.

Apa saja yang ditanyakan penyidik? Pria yang bekarja sebagai tukang pijat panggilan ini meminta agar bertanya langsung ke penyidik Satreskrim Polres Nganjuk. Meski tak mau membeber detail keterangan yang diberikan, Bukhori tetap menyimpan asa agar kasus yang menderanya segera mendapat titik terang.

Keinginan mereka tidak muluk-muluk. Yakni, ingin agar tanah yang merupakan hak Azis itu kembali kepadanya. Apalagi, tanah tersebut memang rencananya untuk investasi jangka panjang. Yaitu, untuk masa depan anak mereka.

Penghasilan Bukhori sebagai tukang pijat memang jauh dari kata cukup. Tetapi, pasutri ini sebisa mungkin berusaha mencukupkannya. “Kalau bantuan-bantuan, ada, beberapa,” imbuh lelaki yang memakai kemeja cokelat itu.

Dalam kondisi yang serbasulit mereka berusaha bertahan. Alasannya, untuk memastikan masa depan anaknya nanti bisa lebih baik lagi. Tak dinyana, tanah yang disimpan sebagai tabungan itu justru sudah “raib”.

Menghadapi kejadian yang sama sekali tak masuk kategori kecil ini, Bukhori dan Azis berusaha untuk tabah dan tetap memperjuangkan haknya. Mereka yakin, ke depan akan tetap mendapat keadilan.

Azis lantas mencontohkan perjuangannya untuk bisa lepas dari penyakit tumor payudara yang dideritanya pada 2017 lalu. Dengan berbagai ikhtiar, dia bisa lepas dari penyakit berbahaya itu pada Januari lalu. “Semoga kami juga berhasil memperjuangkan hak (tanah, Red) kami,” harapnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news