Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Mengulik Kejayaan Kediri dengan Mem bedah Teknologi Hidrologinya (6)

Dawuhan Kidul, Waduk yang Hilang?

03 April 2021, 18: 13: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

MELIMPAH: Kali Konto, yang di masa kuno memiliki air melimpah. Sungai itu kini jadi lokasi penambangan pasir.

MELIMPAH: Kali Konto, yang di masa kuno memiliki air melimpah. Sungai itu kini jadi lokasi penambangan pasir. (Puspitorini Dian H - radarkediri.id)

Share this          

Ada waduk yang menjadi  misteri hingga saat ini. Alirannya menuju Sungai Brantas. Waduk ini diperkirakan ada di wilayah Kecamatan Papar.

Pemikiran aliran irigasi untuk pertanian memang terus berkembang. Masyarakat Jawa kuno melalui tokoh-tokoh masyarakatnya terus berupaya membuat lahan pertanian subur dengan airnya yang lancar. Selain tentu saja mengurangi bahaya bencana.

Selain Sungai Serinjing yang tertuang dalam Prasasti Harinjing, juga terungkap adanya waduk yang berada sebelum ke Sungai Brantas. Hal ini diungkap oleh salah satu tokoh penentu hari jadi Kabupaten Kediri Prof M.M. Sukarto Kartoatmodjo yang juga seorang ahli epigrafi.

Baca juga: Gunakan Gerakan Tari untuk Terapi Penyembuhan

“Dalam penelusuran beliau, pada prasasti Harinjing khususnya yang piagam B atau sekitar tahun 921, tertuang adanya waduk yang berada di sisi barat,” terang arkeolog Eko Priatno.

Alumnus jurusan arkeologi Universitas Gadjah Mada ini menyampaikan kalau pesan ini disampaikan Sukarto kepada sang putri, T.M. Rita Istari sebelum meninggal. Juga dijelaskan kalau waduk itu muncul di masa yang sama dengan waduk Siman.

Sayang, lokasi waduk itu masih menjadi misteri. Hanya saja, Eko mengungkapkan kalau Sukarto menyebut lokasi yang dimaksud merujuk pada daerah dengan nama yang memiliki arti waduk dalam Jawa kuno yaitu Dawuhan.

“Dugaan kuatnya ya Desa Dawuhan Kidul, Kecamatan Papar,” terangnya.

Meskipun masih perlu menjadi bahan perdebatan ilmiah, Eko melihat kondisi topografinya yang lebih rendah dibanding daerah lainnya dan memiliki rendaman aluvial, menunjukkan diduga kuat lokasi tersebut dulunya merupakan daerah yang menjadi tempat berkumpulnya air.
Keberadaan dawuhan yang berada tidak jauh dari sungai Brantas ini menunjukkan pemikiran leluhur saat itu kalau memanfaatkan air semaksimal mungkin.

“Jadi, sebelum air dibuang masuk ke (Sungai) Brantas maka dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat sekitar. Selanjutnya dibuatlah waduk atau dawuhan tersebut.

Menurut Eko, melihat masa ditemukannya waduk tersebut, semuanya terkait keberadaan Sungai Konto. Waduk-waduk itu diduga dibuat untuk mengurangi potensi luapan air luar biasa dari Sungai Konto yang memunculkan bencana. “Pilihannya tidak mungkin ke utara terus tetapi harus ke barat atau ke Sungai Brantas,” terangnya. Inilah yang terbaca dari sejumlah prasasti Harinjing dan Kusmala.

Sementara, M. Dwi Cahyono menerangkan kalau melihat dari sejumlah prasasti yang pernah ditemukan, waduk memang menjadi andalan dari leluhur untuk mengurangi debit air. Juga upaya menampung limpahan air sebelum dibagi untuk pertanian.

Seperti pada prasasti Wulig yang muncul di era Mpu Sindok disebutkan adanya cekungan air yang digunakan untuk mengambil ikan. Diduga cekungan itu adalah waduk atau limpahan air yang menggenang sehingga bisa digunakan untuk memelihara ikan.

Dwi menerangkan kalau saat ini belum ditemukan bukti tentang pembuatan waduk era kuno. Yang bisa ditemukan, waduk yang dibangun di era kuno bukanlah waduk yang besar. Tetapi lebih ke cekungan dengan isi limpahan air dari sungai atau genangan. 

“Yang bisa dilakukan dengan membandingkan jejak-jejak temuan kalau ternyata bendungan awal itu tidak sebesar sekarang,” terangnya. (dea/fud/bersambung)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news