Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Bagus Indarto

Gunakan Gerakan Tari untuk Terapi Penyembuhan

Hakikatnya Bersumber Olah Tubuh Jawa Kuno

03 April 2021, 18: 02: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

GERAKAN TARI : Bagus melakukan terapi pada seorang anak dengan menggunakan gerakan-gerakan tari.

GERAKAN TARI : Bagus melakukan terapi pada seorang anak dengan menggunakan gerakan-gerakan tari. (Habibah Anisa Muktiara - radarkediri.id)

Share this          

Gerakan tari tradisional berasal dari olah tubuh manusia Jawa kuno. Dalam beberapa kasus, gerakan-gerakan itu bisa menjadi sarana terapi penyembuhan.

----------------------------------------------------------------

HABIBAH A. MUKTIARA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Baca juga: Kejaksaan Limpahkan Berkas Samsul Ashar ke Pengadilan Tipikor

----------------------------------------------------------------

Dua orang berada di ruang tamu yang terlihat sederhana itu. Satu lelaki dewasa dan satu lagi masih usia anak-anak. Keduanya berada di karpet bulu yang ada di tengah ruangan. Orang dewasa berambut panjang disanggul itu duduk bersimpuh. Sementara sang bocah tidur telentang.

Pria itu memeragakan beberapa gerakan. Sang bocah yang telentang itu kepalanya sedikit dinaikkan. Kedua kakinya tegak lurus. Kemudian secara perlahan diangkat bersamaan. Semakin pelan semakin bagus.

“Ini adalah salah satu gerakan untuk (penyembuhan) penyakit hernia,” terang Bagus Budi Indarto, si pria yang rambutnya disanggul itu.

Bagus adalah seorang penari. Atau, lebih tepatnya, mantan koreografi tari. Lulusan Institute Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Namun, dunia tari-menari itu sudah lama ditinggalkan. Kini Bagus lebih memilih berkecimpung dalam dunia penyembuhan tapi masih menggunakan gerakan-gerakan tari. Namanya javanese body movement (JBM) remedy.

“JBM ini adalah salah satu metode olah tubuh bersumber pada gerak manusia Jawa kuno,” terangnya.

Laki-laki berusia 44 tahun ini mengatakan, gerakan tari tradisional hakikatnya adalah olah tubuh manusia. Seperti menjinjitkan kaki atau mengangkat jari kaki ke atas. Gerakan-gerakan itu juga bisa digunakan untuk terapi penyembuhan.

Bagus banyak menguasai gerakan tari. Tak hanya hasil dari kuliahnya di ISI Jogjakarta saja. Tapi juga ilmu yang dia peroleh saat ngangsu kaweruh di padepokan tari milik seniman tari terkenal Bagong Kussudiardja. Belum lagi kursus dan workshop yang sudah tak terbilang lagi dia ikuti.

Kemampuan itulah yang mengantar Bagus menjadi koreografi pertunjukan seni, terutama tari. Karyanya tak hanya pentas di dalam negeri. Beberapa kali juga tampil di luar negeri. Saat itu Bagus juga menjadi salah satu koreografer berbakat.

Awal cerita dia terjun ke dunia penyembuhan adalah saat bertemu dengan temannya yang sakit. Sang teman tak bisa berjalan. Kata orang sarafnya terjepit. Sang teman kemudian bertanya kepada dirinya. “Apa nggak ada gerakan tari yang dapat membuatku berjalan?” ucap Bagus menirukan pertanyaan sang teman kala itu.  

Ayah empat anak ini kemudian ingat beberapa gerakan tari yang telah dia pelajari. Dia ingat saat di Rusia belajar physical teater yang ada metode olah tubuh. Dia juga ingat metode relaksasi, pelemasan, dan pengencangan saat berada di Jepang.

Bagus kemudian menerapkan gerakan-gerakan itu pada sang teman yang sakit itu. Secara intensif, hampir dua minggu. Tak disangka sang teman akhirnya bisa kembali berjalan.

Dari situlah akhirnya suami Fitriana Puspitasari ini terjun ke JBM. Tentu dengan terus menyempurnakan gerakan-gerakannya.

Meskipun sudah banyak yang disembuhkan dengan terapinya, Bagus tidak sembarangan mengaplikasikan pada seseorang. “Saya mau melakukan terapis asal tidak membawa penyakit bawaan,” ujarnya.

Sebenarnya, jelas Bagus, JBM hanya penopang pada kondisi tubuh seseorang. Pada saat orang itu sehat dan tubuh berfungsi dengan baik, JBM jadi pengembang agar tubuh tetap dalam kedaan sehat. Sebaliknya, bila tubuh sedang tidak berfungsi baik, JBM mengembangkan gerakan sesuai kondisi tubuh sakit. Agar bisa membantu tubuh mengatasi penyakitnya.

Satu lagi adalah ketika tubuh dalam kondisi berkebutuhan khusus. Pada saat tubuh tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya, gerakan yang benar akan membantu menjadi penyembuh.

“JBM mengembangkan gerakan-gerakan yang memenuhi kebutuhan tiga kondisi tubuh itu,” ungkap Bagus.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news