Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengulik Kejayaan Kediri dengan Membedah Teknologi Hidrologinya (5)

Kusmala Muncul saat Siman Tak Mampu

03 April 2021, 17: 45: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

RAWAN: Jembatan di Sungai Konto yang hancur karena diterjang banjir tujuh tahun lalu.   Mengulik Kejayaan Kediri dengan Membedah Teknologi Hidrologinya (5) Kusmala Muncul saat Siman Tak Mampu  Sumber air Sungai Konto tak hanya dari Gunung Kelud. Juga dari

RAWAN: Jembatan di Sungai Konto yang hancur karena diterjang banjir tujuh tahun lalu. Mengulik Kejayaan Kediri dengan Membedah Teknologi Hidrologinya (5) Kusmala Muncul saat Siman Tak Mampu Sumber air Sungai Konto tak hanya dari Gunung Kelud. Juga dari (Puspitorini Dian H - radarkediri.id)

Share this          

Sumber air Sungai Konto tak hanya dari Gunung Kelud. Juga dari Gunung Kawi dan Anjasmoro. Membuat sang sungai melimpahkan airnya ke permukiman di saat-saat tertentu.

“Sungai Konto dikenal sebagai sungai campuran. Banyak aliran yang akhirnya bermuara ke Sungai Konto,” terang Dwi Cahyono.  Setidaknya ada tiga gunung yang ikut menyuplai. Gunung Kawi, Gunung Anjasmoro, dan sungai yang berhulu di Gunung Kelud.
Pada saat-saat tertentu, khususnya ketika curah hujan tinggi, akan membuat limpahan air Sungai Konto menjadi luar biasa. “Apalagi kalau ada bencana Gunung Kelud dan akhirnya terjadi lahar dingin. Maka membahayakan bagi permukiman, pertanian, dan masyarakat di sepanjang aliran sungai,” beber sang arkeolog ini.

Sungai Konto memang terus melebar. Yang ada di Desa Siman, Kecamatan Kepung ini lebarnya sekitar 40-50 meter. Saat letusan Kelud Februari 2014 lalu ketinggian airnya mencapai 180 sentimeter. Membawa potongan pohon berukuran besar. Jembatan yang melintang di atasnya jadi hancur.

Selain itu bantaran Sungai Konto juga jadi lokasi pengambilan pasir. Puluhan truk antre mengambil pasir adalah pemandangan yang sering terjadi.

Jembatan yang menghubungkan Kasembon di Kabupaten Malang dengan Kecamatan Kepung di Kabupaten Kediri dianggap area rawan. Karena di lokasi pertemuan aliran dari dua sisi, Timur dan Selatan. “Semakin berbahaya saat bencana karena tidak hanya lahar dingin tetapi juga lahar panas,” bebernya.

Inilah yang dipikirkan para tokoh masyarakat di era kuno. Dwi menduga awalnya Bhagawanta Bhari membuat sudetan setelah melihat aliran Sungai Konto yang membawa bencana. Setelah itu, dia juga membuat cekungan atau penampungan air. Wadah limpahan dari Kali Serinjing. Cekungan inilah yang diyakini menjadi cikal bakal dari Waduk Siman. “Dalam perkembangannya, titik cekungan inilah yang terus direvitalisasi, dari zaman kolonial, kemerdekaan, orde baru, dan hingga sekarang menjadi tempat wisata Waduk Siman ini,” urai Dwi.

Dalam perkembangannya, aliran Kali Serinjing tetap besar. Baik sungai maupun waduknya tak mampu mengatasi dampak bencana. Sampai akhirnya pada abad XII hingga XIV muncullah upaya lain. “Makanya dibuat lagi waduk yang tertuang dalam Prasasti Kusmala,” terangnya.

Waduk ini diduga adalah Waduk Mendalan yang berada di Dusun Mendalan, Desa Pondok Agung, Kecamatan Kasembon. Waduk inilah yang kemudian diyakini bisa banyak mengurangi debit air sehingga tidak menyebabkan banjir lagi hingga sekarang.

Tidak hanya itu, Sungai Konto ini sebenarnya juga sudah dikurangi debitnya dengan adanya waduk yang lebih kuno lagi. Yaitu keberadaan Waduk Selorejo yang berada lebih ke hulu. “Diduga Waduk Selorejo yang sekarang dikenal sebagai Bendungan Selorejo itu Dawuhan yang lebih tua lagi,” bebernya.

Hanya saja, perhatian khusus diberikan para tetua saat itu adalah titik di wilayah Siman hingga Kandangan. Sebab, area ini paling rawan dan berpotensi berbahaya karena menjadi titik bertemunya aliran dari Gunung Kelud.

Perhatian kerajaan saat itu juga besar. Terbukti banyaknya prasasti yang berada di kawasan tersebut. Dwi menyebut adanya prasasti itu menunjukkan raja memberikan apresiasi dan penghargaan ke warga. Dengan memberikan tanah pardikan atau tanah sima yang bisa dikelola sendiri oleh warga.

Apalagi di wilayah Mendalan juga ada dua candi yaitu Candi Sapto yang Mahayana Budhis dan Candi Bojok yang merupakan candi untuk penganut Hindu Siwa. Prasasti yang ditemukan di antaranya Prasasti Harinjing A, B, dan C. Kemudian Prasasti Kusmala, dan Prasasti Siman.

“Prinsipnya, sejak masa kuno telah tergambar instalasi air. Khususnya pembuatan sudetan sungai hingga dawuhan atau waduk. Para leluhur tidak hanya memikirkan bagaimana mendistribusikan air ke pertanian, tempat peribadatan, atau ke permukiman, tetapi juga upaya mengurangi bencana,” ucap Dwi panjang lebar. (dea/fud/bersambung)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news