Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Ika Ayu

Pagi Jualan Nasi Lemak, Siangnya Edit Konten

Gagal Jadi Pekerja Migran, Rintis Jalan Usah

03 April 2021, 17: 30: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

USAI JUALAN: Ika di angkringan tempat dia menjajakan nasi lemak di dekat Jembatan Wijaya Kusuma.

USAI JUALAN: Ika di angkringan tempat dia menjajakan nasi lemak di dekat Jembatan Wijaya Kusuma. (Habibah Anisa Muktiara - radarkediri.id)

Share this          

Sebelum memutuskan berjualan nasi lemak, Ika membuat konten Youtube. Isinya, memberi tips agar orang tak mudah tertipu iming-iming yang diberikan agensi pekerja migran.

------------------------------------------------------------------------

HABIBAH A MUKTIARA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Baca juga: Stasiun Kediri Mulai Gunakan GeNose

------------------------------------------------------------------------

“Sudah habis, kembali besok saja,” ujar perempuan berkerudung merah muda, kepada sekelompok orang. Beberapa orang itu adalah calon pembeli yang telanjur datang. Ingin merasakan gurihnya nasi lemak. Namun, karena yang diinginkan sudah habis mereka pun balik kanan dengan raut muka kecewa.

Perempuan itu adalah Ika Ayu Lestari. Pemilik kedai nasi lemak ‘Chili Api’. Kedai ini berada di Desa Tambibendo, Kecamatan Mojo. Di tepi jalan menuju Jembatan Wijaya Kusuma. Angkringannya itu sederhana. Ada gerobak berukuran sekitar 2 x 1 meter. Lengkap dengan bangku panjang berbahan kayu yang bisa untuk duduk para pembeli.

Jualan wanita ini tergolong laris. Membuka lapaknya sejak pukul 06.00 nasi lemaknya sudah ludes hanya dalam dua jam.

“Ini tadi masak lima kilogram beras untuk nasinya,” terang Ika.

Biasanya, Ika memasak lebih banyak lagi. Dalam sehari dia bisa menghabiskan 15 kilogram beras. Paling apes baru habis pukul 11.00. Tapi kebanyakan sudah habis sekitar pukul 08.00, seperti kemarin.

Ika masih baru menekuni pekerjaannya ini. Belum ada satu bulan. Namun, respon yang dia dapat sangat menyenangkan. Setidaknya, menutupi kekecewaan karena tak bisa lagi menjadi pekerja migran di Malaysia.

Ya, Ika sebelumnya adalah seorang PMI, pekerja migran Indonesia. Di Malaysia itu dia bekerja di perusahaan pembuat peralatan medis. Itu pada 2017. Waktu itu gadis 23 tahun ini ke negeri jiran tersebut dengan obsesi tinggi. Mendapatkan gaji besar. Setidaknya seperti yang dijanjikan cukong yang memberangkatkan.

Sayang, nasib tak seindah seperti yang dibayangkan. Bulan pertama dia hanya bergaji 63 Ringgit Malaysia (RM) atau setara Rp 320 ribu. Untuk biaya hidup sebulan saja sangat kurang.

Padahal, dia harus bekerja selama 12 jam. Libur pun hanya ketika akhir pekan saja. Lebaran pun tak bisa pulang karena masih dalam ikatan kontrak.

Seiring berjalannya waktu, upahnya meningkat. Menjadi 110 RM. Toh, gaji itu juga tergolong rendah bila dibandingkan di perusahaan lain di Malaysia.

Namun, tetap ada hikmah dari yang dia alami. Ika jadi paham dengan seluk-beluk perusahaan di Malaysia. Termasuk bisa mengetahui bujuk rayu agensi pengerah tenaga kerja yang tak semuanya terbukti.

Pada 2019, kontrak kerjanya habis. Dia enggan memperpanjang. Meskipun pihak agensi merayunya. Bahkan ‘mengancam’ dengan menyebut tak akan ada perusahaan yang mau mempekerjakan mantan pekerja migran di Malaysia. Tapi Ika tetap ngotot pulang kampung, ke Kediri.

Beberapa bulan di kampung halaman, hasrat Ika kerja ke Malaysia kembali muncul. Apalagi dia merasa sudah punya pengalaman khusus di bidang kerjanya. Ika tak ingin menyia-nyiakan keterampilan kerjanya itu.

Akhir 2019 dia pun ke Jogjakarta untuk mengikuti tes di salah satu pengerah tenaga kerja. Dia pun lolos. Namun, pandemi Covid-19 mementahkan hasratnya itu. Malaysia memberlakukan lockdown. Melarang semua pekerja migran masuk ke negaranya.

Menganggur tanpa pekerjaan Ika akhirnya diajak seorang rekannya membuat konten Youtube. Isinya tentang serba-serbi Malaysia. Semuanya mereka bahas di konten itu. Mulai dari kultur, kebiasaan, dan makanan orang Malaysia. Termasuk pula membahas lika-liku tentang pekerja migran. Agar masyarakat tak mudah terkena bujuk rayu penyalur tenaga kerja.

Akhirnya, saat itu dia ditantang oleh rekan Youtuber-nya itu membuat nasi khas Malaysia, nasi lemak. Selain untuk konten juga dijual sendiri. Ika pun menyanggupi.

Modalnya, sang rekan Youtuber-nya itu menghubungkan dengan seorang warga Malaysia. Ika diberi modal untuk mengawali berjualan.

Setelah bisa membuat nasi lemak, Ika kemudian mencari lokasi angkringannya. Yang dia pilih adalah halaman rumah temannya di dekat Jembatan Wijaya Kusuma. Melalui akun Youtube-nya dia mempromosikan dagangannya itu.

Hasilnya, nasi lemaknya langsung diminati. Hari pertama dia membuat nasi lemak dari enam kilogram nasi lemak langsung habis terjual. Faktor harga yang terjangkau tampaknya juga jadi penyebab. Nasi lemak Ika hanya dibanderol Rp 5 ribu. Itu untuk satu porsi nasi lemak original. Berlauk kacang goreng, telur rebus, ikan teri, dan sambal khas nasi lemak. Bila tambah ayam goreng atau balado harganya jadi Rp 10 ribu.

“Pernah dalam 30 menit sudah habis,” akunya.

Ika mengatakan, kebanyakan pembelinya tahu dari konten Youtube yang dia buat. Karena itu, setiap juga tak melupakan aktivitas bikin konten itu. Juga masih semua hal yang berbau Malaysia. Jadi, usai dia menutup lapak nasi lemaknya, Ika langsung berkutat dengan akun Youtube. Mengutak-atik konten yang akan dia up-load.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news