Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Cerita saat Cabai Sempat Tembus Rp 100 Ribu

Bisnis Geprek Siasati dengan Dongkrak Penjualan Menu Tambahan

03 April 2021, 17: 29: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

BERSIASAT: Pegawai salah satu gerai ayam geprek di Kota Kediri menyiapkan menu yang dipesan.

BERSIASAT: Pegawai salah satu gerai ayam geprek di Kota Kediri menyiapkan menu yang dipesan. (SYAIKHU ALIYA RAHMAN-jp radar kediri)

Share this          

Setelah tiga bulan, harga cabai yang meroket sejak Januari, kini mulai melandai. Saat menembus di atas Rp 100 ribu per kilogram, bisnis kuliner ini termasuk yang terkena imbas. Maklum, cita rasa pedas adalah andalan utamanya.

Cobek tanah itu berukuran cukup besar. Garis tengahnya sekitar 0,5 meter. Setiap ada pelanggan datang, pelayan segera mengambil potongan ayam goreng yang dipesan dari etalase. Lalu, meletakkkan dicobek itu. Dan, “braakk…braakkk…braaakk…!”

Suaranya keras. Hingga terdengar dari luar. Ayam goreng itu digeprek hingga hampir lumat. Lalu, diolesi sambal bawang yang sudah disiapkan. Tak kurang dari tiga sendok makan takarannya. Merah. Dengan aroma yang cukup menggoda.

Baca juga: Selundupkan SS lewat Got

Wartawan koran ini langsung merasakan sensasi lidah terbakar begitu mencobanya. Saking pedasnya, sampai beberapa kali harus menggaruk-garuk kepala yang berkeringat dan mengusap lubang hidung yang meler. “Kami tidak berani mempertaruhkan cita rasa,” aku Rinda Ayuning, supervisor Geprek Akbar, saat ditanya tentang pedasnya yang tetap gila itu.

Naiknya cabai hingga melebihi harga daging diakui cukup berpengaruh pada biaya operasional usahanya. Namun, mengurangi cita rasa sambal adalah pertaruhan yang terlalu mahal. Begitu pula jika menaikkan harga. Terlebih di kala pandemi seperti ini yang memukul omzet usahanya hingga 40 persen. “Takutnya pelanggan makin sepi,” sebut perempuan berkerudung hitam itu saat ditemui, Minggu (21/3). Karenanya, manajemen memilih strategi lain untuk bertahan.

Di tengah obrolan, seorang pelayan bertubuh jangkung terlihat membawa seporsi ayam geprek dan es teh manis ke meja salah satu pelanggan. Setelah menghidangkan, sang pelayan membuka lembaran kertas hitam di buku menu. Jarinya menunjuk halaman menu snack. “Mau tambah tahu krispi, Mas? Mumpung lagi diskon 15 persen,” tawar pelayan berbaju merah itu.

Ditemani panas terik matahari dan suara bising klakson kendaraan yang berseliweran di Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa, Kota Kediri, Rinda menceritakan strategi itu. “Salah satunya ya yang Mas lihat tadi,” ungkapnya .

Manajemen mencoba menutup pembengkakan biaya akibat melambungnya harga cabai dengan mendongkrak penjualan menu lain yang tak butuh cita rasa pedas. Seperti oseng sayur, tahu, dan jamur krispi. Juga aneka minuman. Agar lebih menarik, setiap hari digelar promo diskon 15 persen untuk menu-menu tambahan. “Lumayan bisa menolong,” terang Rinda yang mengakui tiap hari membutuhkan cabai hingga dua kilogram.

Hal serupa dilakukan oleh manajemen Aneka Geprek Kediri (AGK). Mereka tak berani bertaruh soal cita rasa. Kalaupun harus mengurangi takaran sambalnya, hanya satu sendok. Itu pun masih melimpah. Sebab, masih empat sendok makan dari sebelumnya lima sendok. “Pedasnya tetap dijamin karena kualitas cabainya tidak berubah. Kami selalu ambil cabai yang segar,” ungkap Manajer AGK Ari Widodo yang mengaku membutuhkan 3-5 kilogram cabai setiap hari.

Ia juga tak berani menaikkan harga. Manajemen hanya berharap kenaikan harga cabai bisa tertutupi dari penjualan menu-menu tambahan serta minuman yang tak membutuhkan bahan dasar cabai. “Ramadan nanti semoga juga bisa menolong. Kami sudah membuat persiapan,” harapnya.

Di Ayam Geprek Layla (AGL), manajemen mengaku tak terlalu terpengaruh oleh melambungnya harga cabai karena sudah bekerja sama dengan petani. Sehingga, mereka bisa mendapatkan harga langsung dari sawah. “Bisa lebih murah daripada di pasar,” sebut Mey Candra Dewi, asisten manajer. Setiap hari, mereka membutuhkan cabai 2-3 kilogram.

Walau demikian, mereka tetap harus bersiasat. Sebab, biaya operasional tetap naik karena di tingkat petani pun harganya lebih tinggi dibanding sebelumnya. Namun, bukan dengan mengurangi takaran sambal atau menaikkan harga jual menu utama ayam gepreknya. Melainkan, mendongkraknya dari menu sampingan dan aneka snack. Seperti ayam kop, tahu kres, dan jamur krispi. “Kami naikkan sedikit, Rp 1.000,” aku Dewi. Itu adalah angka psikologis konsumen yang sudah diperhitungkan. Sehingga, tidak akan membuat konsumen lari.

Kini, ketika harganya mulai melandai, para pebisnis ayam geprek mulai bisa sedikit bernapas lega. Apalagi sebentar lagi Ramadan datang. Mereka berharap bisa mendongkrak penjualannya. Menutup pembengkakan biaya akibat melonjaknya harga cabai tiga bulan sebelumnya. (m1/m2/m4/hid)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news