Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengulik Kejayaan Kediri dengan Membedah Teknologi Hidrologinya (4)

Desa Kuno Itu Disebut Desa Mendalan

03 April 2021, 16: 48: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

CATATAN KUNO: Prasasti Kusmala yang kini berada di Museum Airlangga Kota Kediri.

CATATAN KUNO: Prasasti Kusmala yang kini berada di Museum Airlangga Kota Kediri.

Share this          

Prasasti itu bernama Kusmala. Ditemukan di wilayah Kandangan. Bercerita tentang sistem pengairan berupa waduk.

Prasasti ini berbahan batu andesit. Tingginya 122 sentimeter dan lebar 68 sentimeter. Pertama kali ditemukan di Desa/Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri.

Meski begitu, arkeolog M. Dwi Cahyono menerangkan kalau kata Kandangan itu sebenarnya menyebutkan untuk dua tokoh yang ditunjuk sebagai pejabat keagamaan yang memutus perkara. Dua orang yang dimaksud adalah yang mengawasi aturan ibadah untuk umat Budhis atau Budha. Mereka disebut  dua dharmadyaksa kasogatan. Disebutkan dalam prasasti tersebut adalah Dharmadyaksa Kandangan Atuha dan Dharmadyaksa Kandangan Lare. 

“Atuha itu maksudnya tua atau dituakan, kalau Lare itu yang lebih muda atau junior,” beber Dosen Program Studi Sejarah Universitas Negeri Malang tersebut.

Di sinilah disebut dengan nama Kandangan yang menunjukkan wilayah. Maksudnya menunjukkan lokasi yang menjadi tanggung jawab dua tokoh tersebut.

“Tapi, kalau bicara tentang kusmala maka itu kaitannya dengan Kasembon. Perbatasan antara Kasembon dan Kandangan. Mengarah ke Desa Mendalan,” terang Dwi.

Karena itulah, Dwi menduga, dawuhan atau waduk yang dimaksud dalam prasasti tersebut tidak lain adalah Bendungan Mendalan.

Oleh karena itu, sebenarnya Desa Kusmala yang disebut sebagai daerah yang dibangun waduk itu adalah desa kuno yang juga disebut Desa Mendalan. “Mendalan itu dari kata Mendalaan atau suatu area yang dianggap suci karena di situ ada komunitas keagamaan,” jelasnya.

Di Kandangan, kedua pejabat yang dimaksud itu, yaitu Dharma Diaksa Kandangan Atuha dan Dharma Diaksa Kandangan Lare, diduga turun-temurun. Wilayah kerja keduanya diperkirakan dari Gurah hingga Kasembon. Sebab, di cakupan wilayah tersebut ditemukan jejak komunitas agama Budha. Mereka hidup rukun bersama dengan Hindu Siwa yang mendominasi di era Kerajaan Majapahit, era munculnya prasasti Kusmala tersebut. Yaitu 1272 Saka atau 1350 Masehi.

Selain isi utama tentang tanah pardikan, salah satu isi dari prasasti Kusmala membicarakan tentang dawuhan. Areanya di sekitar Harinjing. “Dawuhan Kusmala, saya duga, itu bendungan mendalan. Ini dugaan ya,” terangnya. Apalagi melihat wilayah kerja Kandangan Atuha dan Kandangan Lare. Tidak jauh dari lokasi itu terdapat candi atau situs. Seperti Candi Sapto di berada di wilayah Kasembon. “Adanya waduk ini juga bentuk pelayanan dan kebutuhan dari candi tesebut,” bebernya.

Sebagai bentuk penghargaan bagi masyarakat yang memberikan pelayanan terhadap bangunan suci sekaligus untuk dua pejabat yang merawat waduk, maka muncullah Prasasti Kusmala. Prasasti ini diterbitkan oleh bangsawan Bhre Matahun Sri Bhatara Wijayarajasananta Wikramottungga di era kepemimpinan Raja Majapahit Tribhuwanatunggadewi.

Hal sama juga terlihat dari waduk yang berada di sisi barat dari Sungai Konto. Yaitu Waduk Siman yang tertuang dalam Prasasti Harinjing. Hanya saja di era yang berbeda. Kalau Waduk Siman diperkirakan pada abad X maka waduk mendalan di abad XII.

“Yang menarik, dua-duanya memanfaatkan sungai Konto. Ini pasti ada alasannya,” tuturnya.

Kemungkinan, seringnya terjadi banjir di jalur Konto itulah yang menjadi alasannya. Tidak hanya mencukupi kebutuhan tempat peribadatan tetapi juga mengurangi bencana banjir. Kata kosmala yang menjadi nama prasasti diprediksi merujuk kata mala yang berarti bencana atau malapetaka.

Dugaan keberadaan Dawuhan Kusmala atau Waduk Kusmala yang menjadi cikal bakal Bendungan Mendalan ini diakui arkeolog Eko Priatno masih perlu ada pembuktian.

“Bisa jadi seperti itu, tapi kalau secara arkeologi memang membutuhkan bukti pendukung,” terangnya.  Hanya saja, sampai saat ini memang belum ada temuan atau penelitian tentang keberadaan waduk yang dipastikan sangat berarti untuk masyarakat hingga mendapatkan prasasti. (dea/fud/bersambung)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news