Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengulik Kejayaan Kediri Dengan Membedah Teknologi Hidrologinya (3)

Jadi Model Distribusi untuk Pertanian

03 April 2021, 14: 25: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

PEMBAGI AIR: Salah satu dam di aliran Sungai Serinjing. Dam ini bertujuan mengatur laju dan debit air agar mencukupi untuk lahan yang ada.

PEMBAGI AIR: Salah satu dam di aliran Sungai Serinjing. Dam ini bertujuan mengatur laju dan debit air agar mencukupi untuk lahan yang ada. (Puspitorini Dian H - radarkediri.id)

Share this          

Leluhur meninggalkan pengetahuan membuat irigasi pertanian. Teknologi ini terus berkembang hingga memunculkan sistem irigasi yang lebih maju.

Manfaat besar dari upaya yang dilakukan Bhagawanta Bhari pada 804 Masehi atau 726 Saka, atau ribuan tahun lalu itu, masih dirasakan hingga saat ini. Keberadaan Sungai  Serinjing membuat lahan pertanian yang dilalui kian subur. Membuat produktivitas pertanian pun meninggi.

Keberadaan sungai tersebut kian berarti ketika mulai dibangunnya waduk atau tempat penampungan air, Waduk Siman. Waduk ini diperkirakan dibangun pada zaman Belanda. Namun baru diresmikan pada 1972.

Bersamaan dengan peresmian waduk tersebut juga dilakukan perbaikan. Yaitu dengan pengerasan pada sisi sungai. Atau yang dikenal dengan plengsengan sehingga tanah tidak mudah longsor dan air tetap terjaga.

Teknologi yang tercipta juga terus maju. Pada era kolonial dibangunlah pipa-pipa saluran air raksasa yang bentuknya masih bisa dilihat hingga saat ini. Seperti di sisi timur Waduk Siman masih terlihat dua pipa air yang cukup besar dan berwarna oranye. Pipa ini mengalirkan air dari Bendungan Selorejo, Malang yang mengalir menuju Waduk Siman. 

“Kalau waduk itu airnya berasal dari Bendungan Selorejo untuk kepentingan penggerak listrik tenaga air (PLTA) Siman,” kata Kepala Bidang Operasi Pemeliharaan Sumber Daya Alam (OP SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kediri Andri Eko Prasetyo.

Waduk Siman memiliki tiga pintu air atau intake. Pintu pertama ke Sungai Serinjing yang mengalir ke Kepung dan Pare. Kemudian pintu kedua yang mengalirkan air ke Sungai Lemurung  yang alirannya hingga Jombang. Dan pintu ketiga mengalir langsung ke sawah-sawah sekitar waduk hingga ke Desa Brumbung, Kecamatan Kepung.

Saat ini pemeliharaan saluran irigasi tersebut menjadi tanggung jawab bersama dari Pemerintah Pusat, provinsi, dan kabupaten. “Pembagian tanggung jawab menyesuaikan dengan luasan cakupan area pertanian yang mendapatkan air,” jelasnya.

Semakin luas maka menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. Seperti keberadaan waduk dan bendungan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. Sementara untuk Sungai Serinjing menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Sedangkan untuk aliran sekunder dan tersier menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten atau kota sesuai daerah yang dilalui.

Andri menerangkan kalau teknologi distribusi air era sekarang terhitung lambat. Adalah mengupayakan menambah tinggi permukaan air sehingga bisa membuat air dialirkan ke titik lain yang diinginkan. Upayanya dengan membuat tanggul, bendung dan dam.

“Caranya dengan mengatur distribusi air melalui pembuatan pintu air sehingga semua petani bisa mendapatkan air,” jelasnya.

Sayangnya, tak semua petani memahami pentingnya distribusi air ini. Seandainya seperti leluhur yang tidak ‘membunuh’ pengaturan air di awal maka distribusi air bisa merata hingga lokasi yang  jauh dari sumber air. Sebab, yang ada sekarang, seringkali ditemukan perusakan dan pembobolan pintu-pintu air yang membuat air tidak lagi merata ke lahan yang lebih luas.

“Masih berapa meter saja sudah habis, air menyusut. Apalagi kalau kemarau, biasanya banyak keluhan dari petani,” bebernya. Hal inilah yang disesalkan oleh Andri dan menjadi pekerjaan rumah besar baginya. (dea/fud/bersambung)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news