Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Kuota NPK dan Organik Paling Sedikit

Alokasi Pupuk Jauh di Bawah RDKK

03 April 2021, 12: 03: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

Tandur

PANEN: Seorang petani di Desa Trayang, Ngronggot sedang memanggul padi yang baru saja dipanen. Awal April ini harga gabah di Kota Angin masih anjlok. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Ironi belum lepas dari para petani di Nganjuk. Selain harus menghadapi harga gabah yang jeblok hingga April ini, mereka harus menghadapi fakta sulitnya mencari pupuk subsidi di pasaran. Sebab, kuota pupuk murah itu tahun ini jauh lebih sedikit dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK).

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, kekurangan pupuk paling banyak didapati untuk jenis NPK. Yakni, sebanyak 28.472 ton. Kemudian pupuk organik kekurangannya mencapai 22.329 ton dibanding RDKK.

Hal serupa juga terjadi untuk pupuk SP-36, ZA, dan urea. Jumlah kekurangan pupuk dibanding RDKK masing-masing 1.940 ton, 11.208 ton, dan 928 ton. Bahkan, untuk pupuk organik cair Kabupaten Nganjuk sama sekali tak mendapat kuota (selengkapnya lihat tabel).

Baca juga: Material Longsor Tutup Akses Menuju Wisata Sedudo

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Nganjuk Judi Ernanto dikonfirmasi terkait kuota pupuk yang jauh di bawah RDKK membenarkannya. “Untuk pupuk bersubsidi kita dibandingkan RDKK ya sekitar 50 persen yang teralokasi,” ujarnya sembari membenarkan jika kekurangan paling banyak untuk jenis NPK dan pupuk organik.

Terkait minimnya kuota pupuk bersubsidi tahun ini, Judi menegaskan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada para kelompok tani. Dengan cara demikian dia berharap tidak lagi terjadi gejolak di kalangan petani.

Dispertan, terang Judi, melakukan road show di 20 kecamatan untuk memberi pemahaman tentang kondisi pupuk subsidi. Tak hanya melibatkan petani dan kelompok tani, pihaknya juga mengajak pengurus kios resmi dan distributor pupuk subsidi untuk duduk bersama. “Kami tetap berusaha agar alokasi pupuk di Nganjuk bisa terpenuhi,” terangnya.

Judi menegaskan, pendistribusian pupuk bersubsidi juga jadi perhatian dispertan. Judi menyebut pihaknya sudah menerjunkan personel untuk melakukan pengawasan. Selebihnya, mereka melakukan evaluasi setiap tiga bulan sekali.

Jika dinilai mendesak, evaluasi akan dilakukan tiap bulan. Terutama, jika terjadi kemacetan distribusi yang menimbulkan gejolak di kalangan petani.

Agar distribusi bisa berjalan lancar, Judi berharap distributor bisa melakukan pendampingan secara simultan. “Kalau (kebutuhan pupuk, Red) bisa dipenuhi dari subsidi maupun nonsubsidi,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news