Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengulik Kejayaan Kediri dengan Membedah Teknologi Hidrologinya (2)

Teknologi Dawuhan Itu Masih Bertahan

29 Maret 2021, 20: 08: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

DAM: Aliran Serinjing yang merupakan sudetan dari Kali Konto.

DAM: Aliran Serinjing yang merupakan sudetan dari Kali Konto. (PUSPITORINI DIAN HARTANTI - RADARKEDIRI.ID)

Share this          

Awalnya membuat cekungan sederhana di permukaan tanah. Kemudian jadi saluran yang lebih besar. Puncaknya, seorang bhagawanta membelokkan aliran sungai ke arah yang berbeda.

Sungai itu masih bisa ditemui hingga sekarang. Namanya Sungai Serinjing. Juga dikenal warga sebagai Sungai Harinjing. Berada di Desa Siman, Kecamatan Kepung. Berasal dari aliran Sungai Konto yang selanjutnya dialihkan oleh Bhagawanta Bhari. Saat ini alirannya diperkirakan mencapai 36 kilometer yang melintasi Kepung, Pare, Plemahan, hingga Papar.

Arkeolog asal Malang M. Dwi Cahyono menerangkan berdasarkan prasasti Harinjing, sungai tersebut bukanlah sungai alami. Melainkan hasil sudetan karena kebutuhan air pada saat itu sangat tinggi. Itu berdasarkan parasasti-prasasti yang ditemukan. Yaitu prasasti Harinjing yang ditemukan pada 804 masehi atau 726 Saka, Prasasti Paradah I dan II yang juga disebut warga sekitar sebagai prasasti Siman di Desa Siman, Kecamatan Kepung.

“Dari prasasti-prasasti itulah diketahui kalau banyak desa kuno yang berada di wilayah tersebut. Sekarang ya Kepung hingga Pare,” terangnya.

Karena adanya desa-desa itulah, diyakini banyak kawasan pertanian berupa sawah dan pemukiman yang membutuhkan pasokan air besar. Meski begitu, kawasan tersebut tidak bisa mendapatkan air secara merata. Yang berada di sisi timur mendapatkan air melimpah karena berdekatan dengan Sungai Konto, sementara di sisi utara selalu kekeringan. Bahkan, karena berlimpahnya air, di sisi timur sering terjadi banjir. Inilah yang membuat tokoh masyarakat berpikir untuk mengalihkan aliran air. Di sinilah muncul seorang Bhagawanta Bhari. “Nama Bhagawanta Bhari ini kemungkinan bukan nama diri. Tetapi sebutan untuk pandita atau pemimpin umat yang memang ditugaskan untuk mengatur sungai,” beber Dwi. Sebab, kata wanta diyakini sebagai nama asal sungai Konto.

Setelah sungai berhasil disudet, alirannya memang membuat petani tidak lagi kesulitan mencari air untuk pertanian. Selain itu, sisi timur sungai juga tidak lagi terjadi banjir karena limpahan air ikut dialihkan ke arah Sungai Serinjing. Sistem inilah yang membuktikan kemampuan kemajuan pola pengairan dan pengurangan dampak bencana. “Jadi, adanya sistem pengairan di zaman itu mengurangi dampak banjir, teknologi pola pengairan juga telah menggabungkan kombinasi antara dawuhan yang berupa sungai, galengan-galengan kemudian weluran yang dialirkan langsung ke sawah,” jelas pria yang juga dosen Program Studi Sejarah Universitas Negeri Malang ini. (dea/fud/bersambung).

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news