Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Targetkan Tanam Ribuan Hektare

Siapkan Bibit Bawang Merah untuk Panen Raya

26 Maret 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Brambang

GELOMBANG PERTAMA: Petani di Desa Mojorembun, Rejoso sedang memanen bawang merah yang rencananya akan dijadikan bibit kemarin. Setelah kualitas tanaman tak maksimal di musim penghujan, petani menyiapkan bibit untuk penanaman Juni nanti. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Ratusan petani di Kecamatan Rejoso mulai menanam bawang merah untuk gelombang pertama. Selain dijual untuk konsumsi, mereka mulai menyiapkan bibit untuk penanaman mulai Juni dan Juli nanti. Dinas Pertanian (Dispertan) Nganjuk menargetkan ribuan hektare (ha) tanaman bawang merah tahun ini.

Kepala Dispertan Nganjuk Judi Ernanto mengungkapkan, dispertan mematok luasan tanaman bawang merah mencapai 14 ribu ha setahun. Karenanya, dia menyambut positif penanaman gelombang pertama Maret atau April ini. “Petani biasa menanam produk hortikultura dua kali setahun,” ujar Judi tentang penanaman bawang merah petani Rejoso mulai akhir Maret ini.

Lebih jauh Judi menegaskan, tidak semua petani melakukan penanaman gelombang pertama. Melainkan hanya sebagian kecil saja. Adapun penanaman paling banyak dilakukan pada gelombang II nanti.

Baca juga: Ekspedisi Multi Kurir Jadi Bisnis Menjanjikan

Brambang

UNTUK BIBIT: Petani di Rejoso menyirami tanaman bawang merahnya yang masih berusia beberapa minggu. Maret ini para petani mulai melakukan penanaman untuk gelombang pertama. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Judi menjelaskan, para petani bawang merah khususnya di Rejoso telah dapat mandiri. Mereka tidak lagi kebingungan mencari atau mendapat benih tanam. Pasalnya, petani di sana telah bias memproduksi benih sendiri.

Karenanya, jika petani di daerah lain masih mendapat masalah benih, hal tersebut tidak terjadi di Nganjuk. Yang perlu menjadi perhatian dan kewaspadaan adalah terkait cuaca yang tidak menentu. “Ada kekhawatiran berkurangnya hasil panen karena adanya cuaca ekstrim,” terang Judi.

Untuk diketahui, dalam hektare lahan tanam dapat menghasilkan bawang merah minimal 6 ton. Dengan kondisi cuaca normal, panenan petani diprediksi tidak akan turun. Hal berbeda terjadi sebaliknya.

Sementara itu, beberapa petani mengungkapkan, selain faktor cuaca yang menjadi momok, mereka juga mengeluhkan kesulitan mencari pupuk bersubsidi untuk tanaman bawang merahnya. Akibatnya, para petani terpaksa membeli pupuk nonsubsidi. Padahal, harganya dua kali lipat lebih mahal.

Meski demikian, mereka tidak punya pilihan selain tetap membelinya agar tanamannya tumbuh maksimal. “Kalau terpaksa ya tetap dibeli (pupuk nonsubsidi, Red),” tandas Marsudi, 50, salah seorang petani bawang merah di Desa Mojorembun, Rejoso.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news