Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Jelang Ramadan, Pedagang Daging Ayam Setonobetek Tak Berani Spekulasi

25 Maret 2021, 10: 41: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

BELUM ADA LONJAKAN: Taufan Akbar, pedagang daging ayam, di lapaknya di Pasar Setonobetek (18/3).

BELUM ADA LONJAKAN: Taufan Akbar, pedagang daging ayam, di lapaknya di Pasar Setonobetek (18/3). (NINDA KINARTI ASTUTI-jp radar kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri - Meski Ramadan tak sampai sebulan lagi, para pedagang daging ayam di Pasar Setonobetek tidak berani berspekulasi. Mereka tidak akan menambah stok jualannya. Sebab, diperkirakan, permintaan tidak akan melonjak saat bulan puasa nanti.

Sejumlah pedagang daging ayam yang ditemui wartawan koran ini mengungkapkan, omzet mereka belum pulih sejak pandemi mendera tahun lalu. Rata-rata, penurunannya mencapai 30-50 persen dibanding sebelumnya. “Sepertinya Ramadan tahun ini akan tetap sama saja dengan Ramadan tahun kemarin. Sepi,” ujar Taufik Taufan Akbar, salah satu pedagang daging ayam di Pasar Setonobetek, kepada Jawa Pos Radar Kediri, Kamis (18/3).

Menurut Taufik, sebelum pandemi, omzetnya bisa sampai 50-60 ekor per hari. Namun, setelah pandemi datang dan banyak dilakukan pembatasan sosial, omzetnya langsung turun. Rata-rata tinggal 30-45 ekor setiap hari. Bahkan, momentum Ramadan serta Lebaran tidak mampu mendongkraknya.

Baca juga: Tembak Pencuri setelah Seminggu Sembunyi

Taufik menyebut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang masih berlaku sampai sekarang sebagai salah faktor penyebab sepinya pembeli. Pelanggannya rata-rata para pengelola warung makan dan angkringan. Selama PPKM, jam buka mereka dibatasi. Maksimal hanya sampai pukul 20.00. Padahal sebelumnya bisa buka hingga pukul 22.00.

Selain itu, kapasitas pengunjungnya dibatasi. Yakni, 25 persen dari kapasitas maksimal. Karena itulah mereka pun terpaksa juga menurunkan omzet dagangannya. “Otomatis saya juga terimbas. Mereka mengurangi pembelian daging ayamnya,” jelas Taufik yang juga biasa menyuplai kebutuhan katering dan rumah-rumah di Jl Dhoho.

Kondisi tersebut bertahan hingga kini. Karena itu, ia tidak berani berharap banyak pada Ramadan tahun ini. “Masih sepi. Yang beli tetap sedikit,” ungkap pria berumur 27 tahun asal Corekan, Kaliombo itu dibenarkan Nana, pedagang daging ayam, di sebelahnya.

Harga jual di lapak Taufik dan Nana kemarin Rp 32.500 per kilogram. Sehari sebelumnya Rp 30 ribu. Taufik mengatakan, harga tertinggi biasanya mencapai Rp 35 ribu per kilogram. “Fluktuatif. Tiap 12 jam bisa berubah,” terangnya. (c3/hid)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news