Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

- Disiplin -

24 Maret 2021, 15: 21: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Suko Susilo

Suko Susilo

Share this          

“Musuh besar produktivitas itu adalah ketidakdisiplinan dan menunda-nunda waktu. Semestinyalah kita sebagai muslim sangat paham tentang berharganya waktu dan kedisiplinan.”

Oleh : Suko Susilo 

Bulan puasa hampir tiba. Saatnya kita bulatkan niat menjadikan Ramadan sebagai panggung festival amal. Berbagai aktivitas kita tempatkan sebagai produk bekerjanya budi baik berbasis etika relegiosisme. Etika yang meyakini bahwa yang baik adalah yang sesuai dengan ketentuan agama kita.

Baca juga: Belum Bisa Terapkan Tilang Elektronik

Ikhlas menjalankan puasa demi pengabdian kita pada Allah SWT. Segala hal yang tak sesuai petunjuk Islam kita tinggalkan. Ada begitu banyak hal baik yang bisa kita kerjakan untuk mengimplementasikan ‘puasa tidaklah sekadar lapar’. Jika kita kreatif tentu kita bisa melihat berbagai peluang kebaikan yang bisa kita kerjakan di bulan Ramadan yang melintas hanya sebulan dalam setahun.

Tahun berganti sekejap mata. Waktu cepat sekali berlalu. Hidup terasa menjadi sangat singkat. Dalam singkatnya waktu, hidup kitapun bisa berakhir sewaktu-waktu. Dibutuhkan amalan berbasis kreativitas untuk mengisi singkatnya waktu yang sangat terbatas itu.

Jangan sampai lengah bahkan lalai pada realitas waktu hidup yang terbatas  itu. Jika kita selalu ingat batasan waktu tersebut tentu kita akan merasakan kegairahan. Karena batasan waktu itulah kita menjadi terpacu segera menyelesaikan kewajiban kita sebagai muslim. Jadi sebaiknya, kita selalu menghidupkan batasan waktu dalam pikiran kita agar hidup menjadi bergairah.

Jika kita memiliki kesadaran terkait waktu yang berbatas maka seharusnya kita menjadi sangat bergairah untuk melawan pembatas itu. Orang kreatif adalah orang yang punya keberanian menembus batas. Jika puasa memiliki pembatas makan dan minum, orang kreatif mungkin melompati pembatas itu dan menganggap puasa lebih dari sekadar lapar dan haus. Ada banyak spirit kesalehan sosial yang bisa terkait dengan puasa.

Salah satu kesalehan sosial yang bisa dipikirkan adalah bahwa puasa menjadi penyumbang terdepan bagi pelambatan datangnya doomsday atau kehancuran planet bumi ini. Kehancuran planet ini salah satu penyebabnya adalah energi yang habis oleh pemanfaatan yang tidak terkendali. Padahal daya dukung energi pada kehidupan manusia ada batasnya sehingga perlu dikendalikan. Dengan puasa Ramadhan tentu konsumsi kita atas energi berkurang. Ini menjadi sumbangan muslim agar doomsday tak cepat datang.

Puasa pun dapat menjadi sarana keberhasilan pembangunan. Seperti diketahui bahwa indikator pembangunan yang berhasil itu adalah berkurannya kemiskinan, berkurangnya pegangguran, dan membaiknya distribusi pendapatan. Dengan puasa yang hanya makan sebanyak dua kali dari kebiasaan tiga kali sehari maka umat Islam di Ramadan memiliki peluang lebih untuk bersedekah. 

Bersedekah untuk ikut menanggung beban mereka yang membutuhkan. Untuk memberi sesuatu pada mereka yang kekurangan. Memberi bukan karena kita berkelebihan tetapi karena kita tahu rasanya tak punya sesuatu. Hal ini berarti pula bahwa puasa menjadi sarana perbaikan distribusi pendapatan.

Puasa di saat pandemi tentu terasa berbeda dibanding saat normal. Mungkin terasa lebih berat mengingat begitu banyak pembatas tindakan dalam interaksi sosial kita. Menegakkan niat puasa di masa pandemi mungkin dengan bekerja lebih ikhlas. Tidak mengeluh, karena keluhan selalu berupa berbagai kata. Celakanya, kita sering melupakan bahwa kata itu adalah doa.

Bersyukurlah dengan apapun yang kita kerjakan saat puasa. Yang penting kita ingat adalah visi kita bekerja. Kalau menjadi tentara, jangan lupa jika kelak negara ini berhasil kuat berdaulat, kita boleh merasa ikut andil dalam keberhasilan itu. Menjadi dosen, jika kelak ada mahasiswa yang berhasil menjadi pemimpin yang sukses, kitapun punya hak merasa bahwa keberhasilan itu sedikitnya karena sumbangan pengetahuan yang kita berikan.

Menjadi tentara, polisi, pedagang, sopir, pengantar jasa pengiriman, petani, pemecah batu, dosen, dan berbagai pekerjaan lain selalu memiliki visinya masing-masing. Yang penting diingat adalah bahwa kesungguhan dan disiplin dalam pekerjaan tentu kelak akan memanen buah visi dari pekerjaan produktif  saat ini. 

Musuh besar produktivitas itu adalah ketidakdisiplinan dan menunda-nunda waktu. Semestinyalah kita sebagai muslim sangat paham tentang berharganya waktu dan kedisiplinan. Karena kita memiliki pelajaran disiplin yang baik melalui penghargaan awal waktu dalam salat wajib kita.

Melalui tulisan ini setidaknya saya telah berusaha mengurangi jumlah orang yang tidak bisa disiplin serta mengingatkan betapa hal itu penting dan perlu. Sekalipun tidak berarti saya selalu bisa disiplin. Hehehehe…. Selamat Berpuasa. (Penulis adalah Dosen Pascasarjana IAI Tribakti Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news