Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
SUDUT PANDANG

Menunggu Ending ‘Jembatan Brawijaya’

21 Maret 2021, 19: 31: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Jembatan brawijaya kediri

Kasus Jembatan Brawijaya Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

Jembatan Brawijaya tak hanya jadi ikon baru Kota Kediri. Jembatan yang resmi beroperasi sejak 18 Maret 2019 ini juga menjadi sejarah baru peradilan korupsi di Kota Tahu. Terlama dan terbanyak menyeret terdakwa. 

Kasus ini merebak pada 2010 silam. Artinya sudah sepuluh tahun lebih bergulir. Persidangannya pun berlangsung selama tiga tahap. Dua tahap terakhir sudah mengantar enam orang ke tahanan. Dan tahap ketiga ini, sudah mulai menyeret figur-figur penting pada masa awal pembangunan jembatan itu. Salah satunya adalah figur Wali Kota Kediri saat itu, Samsul Ashar.

Terseretnya nama sang wali kota yang juga dokter itu sejatinya bukan hal mengejutkan. Sejak awal Samsul memang dikait-kaitkan dengan kasus ini. Bahkan disebut-sebut sebagai aktor utama. Namanya terus disebut dalam dua tahap persidangan sebelumnya. 

Baca juga: 24 Pemain di Piala Menpora 2021, Persik Sisipkan Striker Asal Togo

Kasus ini pula yang kemudian ‘menghancurkan’ karir politik dokter spesialis penyakit dalam ini. Upayanya maju menjadi wali kota yang kedua kali gagal. Salah satunya karena ‘tersandung’ perkara ini. Penyidikan tahap kedua bahkan muncul ketika Sang Dokter juga maju dalam pemilihan wali kota. 

Karena itu, besar harapan kita semua agar kasus ini benar-benar dituntaskan. Namun, tentu saja, harus dalam koridor hukum. Bila ada kecurigaan beberapa pihak yang menyebut ada aroma politik, penegak hukum harus menepis. Tugas penegak hukum yang membuktikan bahwa hukum hanya berbicara soal salah dan benar. Dan tidak disertai nuansa kepentingan tertentu. 

Maka, patut kita tunggu ending dari kasus ini. Dan bagaimana nasib sang mantan orang nomor satu di Kota Kediri yang kini jadi pesakitan serta tengah benar-benar sakit itu. Kita semua berharap apapun yang diputuskan pengadilan nanti merupakan hasil dari persidangan yang benar-benar objektif dan fair. Yang salah memang harus diputus salah. Karena semua orang adalah sama di muka hukum. (*)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news