Rabu, 16 Jun 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

-- Kelamin --

15 Maret 2021, 09: 44: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

Dian

Oleh Puspitorini Dian H. (Radar Kediri)

Share this          

Pria dan Wanita. Laki-laki dan Perempuan. Jenis kelamin itu begitu jelas. Bangsa ini pun hanya mengakui dua jenis kelamin itu di setiap urusan. Jadi, saat ada ada kelahiran, petugas yang membantu kelahiran akan menentukan jenis kelamin si bayi. Apakah laki-laki atau perempuan. Apakah pria atau wanita. Dasarnya jelas, yaitu alat kelamin. 

Dasar yang jelas itu pun ternyata bisa kabur. Pekerjaan menentukan jenis kelamin itu pun terlihat sederhana. Tapi, saat terjadi kesalahan, si bayi itu harus menanggungnya hingga dewasa. 

Seminggu terakhir, bangsa ini tersentak dengan pengumuman Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa. Menyebutkan kalau Sersan Dua (Serda) Aprilia Manganang yang juga seorang atlet voli putri Aprilia Manganang ternyata berjenis kelamin laki-laki. Aprilia saat lahir dinyatakan memiliki jenis kelamin perempuan. Padahal, Aprilia memiliki kelainan hipospasdia. Kelainan lubang kencing pada laki-laki yang berada di bawah penis, bukan di ujung penis. Inilah yang membuat tentara asal Tahuna, Kepulauan Saingihe, Provinsi Sulawesi Utara disangka perempuan saat lahir karena dianggap tidak memiliki jenis kelamin. 

Baca juga: Kasatreskrim Promosi ke Polda, Wakapolres Kediri Kota Berganti

Kasus yang dialami Aprilia ini sebenarnya juga dijumpai di Kediri. Memiliki nama Ani Khasanah. Ani baru menyadari kondisi tubuhnya saat duduk di bangku SMP. Dia saat itu berumur 16 tahun. Warga Desa Selopanggung, Kecamatan Semen ini pun akhirnya menjalani operasi di RS Dr Soetomo. Tapi, proses operasi yang harus dijalani bertahap ini sempat terhenti selama empat tahun. Ani yang akhirnya meminta namanya diubah menjadi Anang Soetomo ini pun kembali menjalani operasi di RSUD Kabupaten Kediri (RSKK) dengan dibantu dr spesialis urologi yaitu dr Dodo Wikanto. Operasi yang harus dijalan sebanyak dua kali. Sukses, tapi belum bisa seratus persen, karena operasi yang sudah berjalan saat dewasa.

Aprilia Manganang dan Ani Khasanah memiliki usia berbeda. Aprilia sekarang berusia 29 tahun, sementara Ani 21 tahun. Nasib keduanya juga berbeda. Aprilia menjadi tentara aktif dengan berpangkat sersan dua, sementara Ani terpaksa hanya mengenyam pendidikan sampai SMP dan menjadi karyawan bengkel di tempat saudaranya. Meski begitu, ada kesamaan di antara keduanya. Mereka sama-sama terlahir di keluarga tidak mampu. Kedua orang tua Ani buta huruf dan menjadi buruh tani. 

Jadi, bisa dibayangkan, kondisi ekonomi mereka membuat mereka tidak ditangani tenaga kesehatan terbaik. Sehingga, saat mereka lahir, petugas yang membantu kelahiran mereka tidak mampu mengenali kelainan alat kelamin yang mereka derita. Dan langsung menjatuhkan klaim jenis kelamin sebagai perempuan. Padahal, dr Dodo Wikanto menyebutkan kalau jika sejak awal kelainan ini ditemukan, maka akan bisa dilakukan perbaikan dan mereka bisa tumbuh dengan normal seperti anak normal lainnya.

Kini, keduanya, tidak hanya menghadapi bagaimana perbaikan kelainan tadi. Tapi, juga harus memperbaiki semua data kependudukan yang telah menyebutkan mereka sebagai perempuan. Bukan laki-laki. Proses panjang masih harus ditempuh keduanya. Semoga saja, kejadian-kejadian kelainan ini tidak terulang lagi. Petugas pun ekstra berhati-hati, orang tua pun peka dengan kondisi anaknya sehingga tidak muncul penderitaan yang harus ditanggung seperti Aprilia dan Ani. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news