Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Pasang Tali Cegah Warga Mendekati Tanah Retak

03 Maret 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Retak

BERBAHAYA: Tanah retak sepanjang 300 meter yang lebarnya mencapai 10-15 sentimeter ditutup dengan plastik. (Ilmidza Amalia Nadzira - radarkediri.id)

Share this          

Retakan tanah di Dusun Petungulung, Desa Margopatut, Sawahan semakin parah. Untuk mencegah timbulnya korban, pihak desa memasang tali menuju lokasi bukit yang retak agar warga tak beraktivitas di sana.

Pantauan koran ini kemarin, retakan tanah sepanjang sekitar 300 meter itu berada di perkebunan warga. Retakan selebar 10-15 sentimeter tersebut ditutup dengan plastik agar lubangnya tidak terlihat menganga.

Jalan menuju lokasi retakan tanah saat ini dipasangi tali. Tujuannya, agar warga tidak masuk ke daerah yang sekarang menjadi terlarang tersebut. Di ujung tali, pemerintah desa memasang payung terpal. “Kalau malam ada yang berjaga,” ujar Kepala Desa Margopatut Solikin.

Baca juga: Hentikan Tanggap Darurat, Fokus Pulihkan Dampak Bencana

Warga

RAWAN LONGSOR: Warga Dusun Petungulung, Desa Margopatut, Sawahan beraktivitas di rumah yang dekat dengan retakan tanah. (Ilmidza Amalia Nadzira - radarkediri.id)

Lebih jauh Solikin mengungkapkan, hingga dua minggu pascamunculnya retakan tanah berbahaya di Petungulung, belum ada tindakan lebih lanjut dari pemkab terkait penanganan warga. Hanya pengecekan rutin di lokasi tanah retak yang dilakukan petugas badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).

Pemdes, jelas Solikin, mulai kekurangan logistik di pengungsian. Sebab, bantuan yang masuk ke sana sudah mulai berkurang. Padahal, saat ini sangat dibutuhkan obat-obatan seperti minyak kayu putih, obat pusing, dan obat-obatan lainnya. “Beberapa warga mengeluhkan tidak enak badan,” terang Solikin sembari menyebut pihak desa memisahkan pengungsian untuk warga yang sakit.

Sementara itu, Asiyah, 59, salah satu warga Dusun Petungulung yang mengeluh sakit sempat menolak mengungsi. Alasannya, dia tidak nyaman tinggal di pengungsian karena sedang tidak enak badan.

Meski demikian, pihak desa menjemput Asiyah sekitar pukul 22.00 Senin (1/3) lalu. Dia tetap diminta mengungsi demi keamanannya. Apalagi, rumahnya tak jauh dari bukit yang retak tersebut. “Desa meminta tetap mengungsi pada malam hari meski tidak hujan,” terang Asiyah yang legawa ke pengungsian demi keselamatannya.

Adapun pagi harinya, dia bersama lebih dari seratus warga kembali ke rumah masing-masing untuk beraktivitas. Mulai merawat hewan ternak, hingga bercocok tanam di sawah dan kebun mereka. “Kami tetap takut karena membayangkan bencana longsor bisa terjadi setiap saat,” keluhnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news