Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Harga Gabah Anjlok Jelang Panen Raya

03 Maret 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Panen

MURAH: Petani di Desa Patranrejo, Berbek memanen tanaman padinya kemarin. Jelang panen raya, harga gabah di Nganjuk anjlok. (Ilmidza Amalia Nadzira - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Para petani padi di Nganjuk mulai resah. Pasalnya, jelang panen raya pertengahan Maret ini harga gabah anjlok. Mereka pun terancam tidak bisa menikmati harga tinggi seperti beberapa bulan lalu.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkann, sebelumnya harga gabah kering di tingkat petani Rp 4,5 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram. Jelang panen raya pertengahan bulan ini, harga gabah kering anjlok menjadi Rp 3,5 ribu hingga Rp 3,8 ribu per kilogramnya.

Karsono, 65, salah satu petani di Desa Patranrejo, Berbek mengungkapkan, para petani padi harus bersiap gigit jari di musim panen tahun ini. “Harganya murah. Tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan saat penanaman,” katanya.

Baca juga: Wali Kota Lantik Bagus Alit Jadi Sekretaris Daerah Kota Kediri

Pria tua itu menyadari jika harga sangat tergantung dengan mekanisme pasar. Yakni, saat pasokan melimpah harga akan turun. Meski demikian, menurutnya petani tetap saja dirugikan. Sebab, saat harga gabah turun harga pupuk tidak pernah ikut turun.

Dengan anjloknya harga gabah, Karsono mengaku harus bersiap merugi hingga jutaan rupiah. Dia lantas memerinci biaya yang dikeluarkan untuk pupuk yang mencapai Rp 4,5 juta. Jumlah itu belum termasuk ongkos tenaga yang melakukan perawatan tanaman.

Apakah dia tidak bisa menunda penjualan? Karsono menggeleng. Dia harus memanen tanamannya yang memang sudah tua. Jika ditunda, dia khawatir akan berdampak pada kualitas padi yang tahun ini terbilang bagus. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena memang sudah waktunya panen,” lanjutnya.

Terpisah, Syahbudin, 53, petani padi lainnya mengungkapkan hal serupa. Pria yang kemarin memanen padinya itu juga mengeluhkan harga gabah yang anjlok. Padahal, selama ini dia harus memupuk tanaman menggunakan pupuk nonsubsidi yang jauh lebih mahal.

Anjloknya harga, menurut Syahbudin juga membuat dirinya tidak lagi mempunyai cukup modal untuk melakukan penanaman selanjutnya. “Pupuk subsidi sudah tidak ada. Sementara pupuk nonsubsidi harganya tidak terjangkau,” keluhnya.

Syahbudin pun berharap pemerintah bisa campur tangan untuk mengatasi anjloknya harga tersebut. Para petani menurut pria paruh baya itu tak berharap yang muluk-muluk. Melainkan hanya meminta agar harga jual gabah sebanding dengan jumlah modal yang dikeluarkan saat penanaman. Sehingga mereka bisa memiliki modal untuk kembali menanam. “Jangan hanya meminta menanam padi serentak, turun ke sawah serentak tetapi harganya tidak bisa dikontrol,” sesalnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news