Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Hayu Lumampah Kalmusaraf, Bocah Berbek Nganjuk Penyandang Lumpuh Layu

Dapat Kursi Roda, Ayah Tak Lagi Menggendong

03 Maret 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Lumpuh

BUTUH BANTUAN: Suparman menggendong Hayu Lumampah Kalmusaraf sebelum didudukkan di kursi roda Minggu (28/2) sore. Bocah yang menderita lumpuh layu sejak lahir itu tak bisa beraktivitas sendiri. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

Menderita lumpuh layu sejak lahir, Hayu Lumampah Kalmusaraf hanya bisa beraktivitas dengan bantuan orang lain. Beban orang tuanya baru sedikit ringan setelah dia mendapat bantuan kursi roda dari Kapolres AKBP Harviadhi Agung Prathama.

IQBAL SYAHRONI, BERBEK. JP Radar Nganjuk

Suara televisi di ruang tengah rumah Suparman di Desa Maguan, Berbek terdengar keras dari luar. Jarum jam menunjukkan pukul 14.30, Asrumi yang tak lain istri Suparman memang sedang menonton televisi. Di sampingnya, Hayu yang sedang duduk di kursi roda juga melakukan hal serupa.

Baca juga: Setahun, BNNK Rehab Delapan Remaja

Meski fokus menonton tayangan di televisi, bukan berarti Asrumi tak memperhatikan anaknya.  Sesekali Asrumi mengelus kepala plontos Hayu. Di saat yang sana, tangan anak berusia 12 tahun itu juga memainkan jari-jari perempuan 38 tahun itu. “Dia sudah begini (lumpuh layu, Red) sejak lahir,” ujar Asrumi membuka perbincangan dengan koran ini.

Perempuan yang memakai jilbab biru itu sama sekali tak menyangka jika anaknya akan mengalami lumpuh setelah lahir. Sebab, selama dalam kandungan tidak pernah ada masalah. Kandungannya juga dinyatakan sehat saat diperiksakan secara rutin.

Kondisi berbeda terlihat saat Hayu, sapaan akrab Hayu Lumampah Kalmusaraf lahir. Kakinya sudah mengecil. “Bahkan tidak menangis hari itu, setelah lahir,” terang perempuan berkaus cokelat itu.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Hayu juga tidak menunjukkan kondisi yang semakin membaik. Bahkan, perkembangannya justru semakin melambat. Melihat hal itu, Suparman dan Asrumi tak menyerah.

Mereka melakukan berbagai cara agar anak keduanya itu bisa tumbuh dengan normal. Berdasar serangkaian pemeriksaan, Hayu diduga menderita kelainan mikrosefali sejak lahir. Lingkar kepalanya saat bayi kecil. Sehingga otak tidak berkembang baik dan normal.

Berbagai jenis pengobatan sudah dilakukan untuk menyembuhkannya. Mulai dilakukan terapi hingga pengobatan alternatif. Upaya yang menunjukkan rasa cinta kasih Suparman dan Asrumi itu belum membuahkan hasil.

Keterbatasan biaya membuat keduanya menghentikan terapi sejak 2014 lalu.”Ya gimana, Mas. Saya ini cuma buruh tani,” keluh Suparman sedih.

Karena keterbatasan itu pula, Suparman belum bisa membelikan alat pendukung aktivitas untuk anaknya itu. Dia memang harus membagi pendapatannya untuk bisa mencukupi kebutuhan tiga anaknya.

Tak hanya masalah uang, Asrumi dan Suparman juga harus membagi waktu antara bekerja dan merawat anaknya. Jika pagi hari, Hayu lebih banyak bersama ibu, kakak, dan adiknya. “Kalau sore sama saya, biasanya minta jalan-jalan,” terang Suparman.

Hayu terlihat senang jika diajak berjalan-jalan mengendari sepeda motor keliling Desa Maguan. Biasanya Suparman mengajak bocah bertubuh kurus itu berkeliling kampung, melewati jalan makadam selama sekitar 20-30 menit.

Berkeliling kampung seolah menjadi rutinitas Hayu. Suparman sadar, anaknya yang jarang tidur siang ini membutuhkan pemandangan baru selain suasana rumah. Karenanya, sepulang dari sawah dia selalu meluangkan waktunya. “Ini sekalian ibunya (Asrumi, Red), dan mbaknya istirahat karena dari pagi mengurusi Hayu,” tutur Suparman.

Suparman memang sudah membiasakan anak-anaknya untuk merawat Hayu. Jika Asrumi sedang sibuk di dapur, Salsabila Camelia, 18, kakaknya juga turut membantu merawat adiknya. Demikian juga Nafis Mubarok, 10, sang adik yang tak tinggal diam.

Kerepotan mengurus Hayu sedikit terbantu setelah ada bantuan kursi roda dari Kapolres Nganjuk AKBP Harviadhi Agung Prathama. Jika sebelumnya Suparman dan Asrumi harus menggendong Hayu, kini aktivitas tersebut sedikit berkurang. “Kemarin juga diberi santunan, saya buatkan mester (lantai semen, Red) agar rodanya bisa meluncur. Gak gronjal-gronjal. Soalnya ini dulu masih tanah,” beber lelaki berambut cepak itu.

Mendengar ayah dan ibunya berbincang dengan Jawa Pos Radar Nganjuk, Hayu yang semula tenang mulai gelisah. Mulutnya mengeluarkan beberapa patah kata yang tidak jelas.

Seolah paham dengan kemauan anaknya, Suparman langsung menggendong Hayu keluar rumah. Rupanya dia meminta jalan-jalan sore. Dia pun langsung digendong dan dinaikkan ke sepeda motor. “Diajak keliling biar dia senang dan cepat tidur,” katanya sembari melirik anaknya yang sepintas terlihat gembira itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news