Minggu, 18 Apr 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Setor Uang Ratusan Juta dan Laptop ke Mantan Bupati Nganjuk

Mantan Bupati Ponorogo Akui Terima Rp 1,2 M

02 Maret 2021, 15: 55: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

Sidang

BERI KETERANGAN: Camat Sukomoro Tri Basuki Widodo (kiri) menerima mikrofon dari Muslim Harsoyo sebelum memberikan kesaksian dalam sidang kasus dugaan korupsi dengan terdakwa mantan Bupati Nganjuk Taufiqurrahman, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

SURABAYA, JP Radar Nganjuk-Aliran uang gratifikasi untuk mantan Bupati Taufiqurrahman kembali dibeber dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya. Kemarin giliran mantan pejabat dari badan perencanaan pembangunan daerah (bappeda) yang memberi kesaksian. Mereka mengaku menyerahkan uang senilai ratusan juta rupiah hingga membelikan laptop merek Apple.

Hal tersebut diungkapkan oleh mantan Kepala Bappeda Bambang Eko Suharto dan Sekretaris Bappeda Muslim Harsoyo. Pernyataan keduanya juga dikuatkan oleh Fefri Hendro Wasono dan Harjito, mantan kepala bidang di bappeda.

Di persidangan, para saksi mengutarakan hal senada. Yakni, mengakui ada aliran dana kepada mantan orang nomor satu di Kota Angin tersebut. Yakni sebesar Rp 152 juta, Rp 250 juta, dan Rp 40 juta. Uang tersebut diserahkan secara bertahap. “Mereka juga mengakui ada penggantian laptop Apple seharga Rp 22,5 juta kepada terdakwa,” ujar JPU Arif Suhermanto saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk seusai persidangan.

Baca juga: Tabrakan di Bundaran Sekartaji, Satu Tewas, 2 Luka, Ini Awalnya

Gratifikasi

Gratifikasi untuk Taufiqurrahman (Grafis: Dedi Nurhamsyah - radarkediri.id)

Menurut Bambang, terdakwa tidak pernah meminta uang dengan nominal tertentu. Melainkan hanya menanyakan ke bappeda terkait ketersediaan dana di sana.

Bambang yang mendapat pertanyaan tersebut langsung mengoordinasikan dengan jajarannya. Uang sebesar Rp 152 juta dan Rp 250 juta diberikan dengan cara diletakkan di salah satu meja rumah dinas terdakwa.

“Itu hanya dari bappeda saja. Dinas-dinas yang lain juga telah kami periksa dan nilai setorannya ada yang mencapai miliaran,” tutur Arif.

Muslim yang juga memberi keterangan kemarin mengaku pernah ditelepon salah satu mantan ajudan Taufiq. Yaitu, meminta uang sebesar Rp 50 juta. Meski tak tahu peruntukannya, Muslim yang hanya menyetor uang Rp 40 juta itu berpikir uang tersebut merupakan setoran atas penempatan dirinya. Sebab, dia baru saja dilantik menjadi sekretaris dinas.

Hal serupa juga disampaikan oleh Fefri. Selain mengamini praktik-praktik pemberian setoran, Fefri yang namanya mencuat menjadi salah satu kandidat camat menyetor uang sebesar Rp 100 juta untuk Taufiq.

Meski mengaku tidak ada perintah langsung dari Taufiq terkait hal tersebut, dia banyak mendapat masukan untuk memberi uang pelicin. Uang tersebut dititipkan kepada Camat Sukomoro Tri Basuki Widodo.

Tri yang mendapat kesempatan memberikan kesaksian mengaku mengantarkan langsung uang tersebut ke rumah terdakwa di Jombang. Seperti setoran-setoran lainnya, uang tidak langsung diterima oleh terdakwa. Melainkan diberikan kepada mantan ajudan Taufiq. “Kami melihat keterangan saksi-saksi ini mendukung pembuktian dari dakwaan kami,” tandas Arif.

Sementara itu, selain sejumlah pejabat Pemkab Nganjuk, mantan Bupati Ponorogo Amin juga dihadirkan sebagai saksi. Di depan majelis hakim, Amin mengaku menerima sokongan uang sebesar Rp 1,2 miliar dari Taufiq.

Uang senilai miliaran rupiah itu dikirim dua kali. Yang pertama sebesar Rp 1 miliar. Adapun yang kedua Rp 200 juta. Peruntukannya, sumbangan pencalonan Amin untuk periode kedua.

Jika di periode pertama Amin diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), di pencalonan periode kedua Amin berpindah ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).  Partai yang sama dengan Taufiq. Amin pun merasa wajar sesama kader partai memberi dukungan materi. “Saya dibantu ya saya tidak bertanya asal uangnya dari mana,” bebernya.

Menurut Amin kebiasaan menyumbang itu bukan hal yang tabu. Ia mengaku juga mendapat sumbangan dari beberapa kepala daerah dan petinggi partai.

Taufiq mengirimkan uang tersebut melalui ajudannya. Adapun uang juga diterima Ajudan Amin. Penyerahan uang dilakukan di Kota Madiun.

Meskipun tak mengelak keberadaan uang tersebut, Amin mengaku tidak tahu-menahu pemanfaatannya. Alasannya, dia langsung menyerahkan uang kepada tim suksesnya untuk modal pemenangan dirinya. “Saya tidak tahu uangnya untuk siapa saja. Toh, saya juga kalah,” kilah Amin.

Sementara itu, JPU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI Arif Suhermanto mengatakan, praktik tersebut diduga sebuah pencucian uang. Pihaknya menduga kuat uang yang diberikan kepada Amin tak lain adalah uang hasil gratifikasi. “Seolah-olah saja terdakwa memberikan bantuan. Tetapi uangnya diduga hasil gratifikasi jabatan,” tandas Arif.

Hanya saja, pihaknya belum mengetahui pasti alasan terdakwa menyumbangkan uang kepada Amin. Terlebih dengan nominal yang tidak sedikit. “Imbalannya untuk apa kita belum mendalaminya. Kebetulan saksi juga tidak terpilih dalam pilkada tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu, Taufiq yang mendapat kesempatan menyampaikan bantahan melalui teleconference menanggapi setoran uang dari bappeda dan pejabat lain. Dia mengaku tidak menerima seluruh nominal uang yang dimunculkan di persidangan. Namun, Taufiq tidak mengelak ada permintaan item laptop Apple.

Meski demikian, menurutnya pengadaan laptop bukan merupakan ranah bappeda. “Laptop itu kan untuk keperluan saya sebagai bupati,” kilah bupati Nganjuk dua periode itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news