Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Hujan dan Angin Kencang di Mojo: Warga Masih Trauma

23 Februari 2021, 14: 37: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

Angin mojo

BERSIH-BERSIH: Subandi menunjuk sisa potongan kayu dan ranting kayu jati yang roboh dan menimpa atap rumahnya saat hujan deras Minggu (21/2). (DEWI AYU NINGTYAS - radar kediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Warga Dusun Plosokuning, Desa Maesan, Kecamatan Mojo masih merasa trauma dengan hujan deras disertai angin kencang Minggu (21/2) lalu. Mereka waswas kejadian serupa bakal terjadi lagi. 

Karena waswas itulah warga pun mengambil langkah antisipasi. Tak hanya membersihkan batang pohon yang tumbang saja, mereka juga memotong beberapa pohon yang masih berdiri. Terutama yang berpotensi tumbang ketika hujan dan angin datang.

Bagi warga Plosokuning, kejadian kemarin merupakan yang kali pertama. Wajar bila kemudian mereka sangat takut. Apalagi sebagian juga merasakan tertimpa benda-benda keras dari puing rumah.

Plengsengan kepung

AMBROL: Plengsengan di Kepung. (Karen - radar kediri)

“Saya ketiban genteng (tertimpa genting, Red),” aku Noviani, 31, warga RT 02 RW 05. Ironisnya, saat itu Novi tengah menggendong anaknya yang masih balita. Untung sang anak tidak mengalami luka. 

Perempuan berperawakan kurus itu mengatakan hujan deras disertai angin kencang itu menyebabkan atap di rumah sederhananya itu berterbangan. Dia yang saat itu hanya bersama anaknya menyaksikan langsung kejadian tersebut. 

Melihat ada angin kencang berputar-putar, dia sebenarnya berniat menyelamatkan diri. Dia pun berlari keluar rumah dan menuju bawa pohon untuk berlindung. Saat itulah dia melihat angin kencang berputar-putar di atas atap. Angin itu menerbangkan genting. Genting itulah yang kemudian menimpa dirinya.

“Saat itu suami masih cari rambanan (dedaunan untuk pakan ternak, Red),” jelasnya. 

Hujan yang terjadi sekitar pukul 14.00 itu memang menyisakan ketakutan. Lantaran disusul angin kencang setengah jam kemudian. Novi mengaku durasi angin kencang itu tidak terlalu lama. Namun angin kencang terlihat jelas berputar-putar membawa serta genting. 

Tidak hanya rumah Novi yang jadi korban di RT 02 ini. Enam rumah lainnya, yang tergolong rumah sederhana, juga terkena imbas. Tiap rumah kerugian berkisar Rp 1,5 juta. 

Bagi Novi, meskipun nilainya tak terlalu besar, tapi dia harus berutang untuk membenahi asbes yang rusak.  “Tak pinjamkan uang (dulu), lha gimana mau mbenahi gak ada uang,” aku ibu satu anak itu. 

Untuk tenaga, Novi dibantu para tetangganya yang senasib. Hal ini tentu saja mengurangi pengeluaran mereka. Apalagi hingga kemarin belum ada bantuan yang turun.

Selain atap yang rusak, kejadian itu juga membuat listrik padam. Listrik baru menyala pada pukul 14.20 kemarin. Lamanya pemadaman karena ada kabel listrik yang putus. Hal itu membuat warga sempat kesulitan air bersih. Tanpa listrik mereka tak bisa menyalana sumur pompa.

“Untuk masak hari ini kesulitan (air),” terangnya.

Cerita serupa juga dikatakan Subadi, 50.  Lelaki ini melihat langsung hujan deras disusul angin kencang berputar-putar di ladang pohon jatinya. Saat itu dia tengah berada di teras. 

Tidak lama setelah angin terlihat berputar, pohon tumbang dan menghantam rumah bagian depan. “Breekk...(saya) langsung lari,” ungkapnya. 

Pria paroh baya itu mengatakan peristiwa (21/2) lalu baru pertama kali terjadi sejak 20 tahun dia menetap di Dusun Plosokuning. Beruntung, puluhan pohon jati yang ada di ladang itu masih tertahan gapura di depan rumahnya. Hanya ranting dan daunnya yang menghantam atap rumah. 

Akibatnya, seluruh atap rumah dan kandang kambing rusak total. Subadi mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 10 juta. Lantaran harus mengganti semua genting dan penyangganya. Untuk perbaikan itu pun dia mendapatkan pinjaman 500 genting bekas dari tetangganya.

”Langsung diperbaiki karena kalau menunggu bantuan lama. Apalagi musim penghujan nanti barang-barang terkena hujan,” akunya. 

Terpisah, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Saifudin Zuhri mengatakan personel sedang turun tangan untuk memotong pepohonan yang tumbang. “Untuk di Mojo dan Kepung,” katanya yang dikonfirmasi koran ini. 

Sementara itu, ambrolnya plengsengan di Dusun Krembangan, Desa/Kecamatan Kepung Minggu (21/2) membuat akses masyarakat terganggu. Mereka yang melintas menggunakan kendaraan roda empat atau lebih harus mencari jalan alternatif. Yang bisa melintas hanya roda dua.  

Bagian yang ambrol berada di sisi selatan sungai. Memanjang dari Timur ke Barat sekitar empat meter. Sebagian reruntuhan plengsengan langsung terjun ke dasar sungai yang kedalamannya mencapai 6 meter itu. Beberapa bagian aspal jalan juga ambrol.

Menghindari ambrol yang lebih parah, warga sudah memasang penghalang dari bahan-bahan sederhana. Portal itu terbuat dari bambu, pohon pisang, dan ranting pohon. Warga hanya diperbolehkan lewat jika berjalan kaki atau mengendarai kendaraan roda dua. 

Ambrolnya plengsengan itu terjadi sekitar pukul 16.00. Ketika itu hujan turun dengan deras. “Tiba-tiba plengsengan itu ambrol,” cerita Joko, 43, warga setempat.

Joko mengatakan, kemungkinan plengsengan ambrol karena curah hujan yang berlebih. Air membuat tanah di bagian bawah plengsengan tergerus. “Sungai di bawah juga airnya lagi banyak,” tambah Joko saat ditemui di lokasi kejadian.

Dia mengaku sedikit takut ketika hendak melewati jalan tersebut. Di bagian tepi masih ada beberapa retakan. Namun sudah ada penghalang agar warga tidak melewati retakan tersebut. 

Joko juga berharap semoga bagian jalan yang ambrol tersebut segera diperbaiki. Bila tidak dia mengatakan akan semakin parah. “Harus hati-hati kalau mau lewat sini,” tutup Joko, kemudian melanjutkan perjalanan.

Kapolsek Kepung Iptu Rony Robi membenarkan bila kejadian itu terjadi saat hujan deras dan angin sedang berlangsung. “Arus kuat dari air sungai menjadi faktor utama penyebab,” ucapnya.

Rony menambahkan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa, dan beberapa warga setempat sudah bergotong royong di lokasi kejadian. Mereka menutup sebagian jalan yang dianggap rawan longsor. “Akses pada waktu tersebut juga sempat dialihkan untuk mencari jalan lainnya,” tutupnya. (c2/c4/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news