Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Nugi, Warga Kediri yang Tetap Berkarya di Tengah Keterbatasan

Bikin Hiasan Dinding dari Sampah

23 Februari 2021, 14: 26: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

Nugi

KREATIF: Nugi, Warga Kediri yang Tetap Berkarya di Tengah Keterbatasan. (Rekian - radar kediri)

Share this          

Nugi membuktikan mampu berkarya meskipun menyandang autis. Dia bisa memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai.

REKIAN, MOJOROTO, JP Radar Kediri 

Usia Nugi Anugerah Santoso sudah menginjak 23 tahun. Pemuda ini memiliki keterbatasan. Menderita autis sejak kecil. Namun, aktivitasnya tak terbelenggu oleh kondisi itu. 

Sebelum mondok di asrama Sahhala, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto, Nugi juga sudah berkeliling ke beberapa daerah. Mulai Semarang hingga Bogor. Pria asal Jalan Hasanudin Kota Kediri ini sudah r enam bulan ini kembali ke kampung asalnya. 

Kemarin (22/2), sekitar pukul 16.00, Nugi yang mengenakan kaus merah sedang menjalani rutinitasnya, mengaji. Mengenakan peci hitam dia mengikuti semua lafal yang diucapkan pendampingnya, Hafid Febriansah. 

“Dia (Nugi, Red) punya ingatan yang kuat. Di catatan saya dia sudah hafal sepuluh surat,” ucap pendamping 25 tahun asal Ngronggot, Kabupaten Nganjuk itu. 

Tidak hanya menghafal ayat Alquran, Nugi juga bisa membaca huruf hijaiyah. Selain itu juga pandai menulis alfabet. 

Menariknya, Nugi mencatat semua aktivitasnya di buku khusus. “Ini buku jurnal harian,” ucap Nugi menunjukkan satu buku tulis. 

Hampir semua aktivitasnya tertulis di buku bersampul merah. Terbaru yang dia tulis adalah tentang pembuatan hiasan dinding. Dia memanfaatkan kardus dan barang bekas. 

Nugi mencatat, hiasan dinding itu dikerjakan selama tiga hari. Mulai dikerjakan pada 17 Februari sampai 19 Februari. Semua bahannya dari barang bekas. Dari kardus, kertas, sedotan, dan tutup botol air mineral. “(Dikerjakan) bersama Mas Alfin (pendamping, Red),” katanya.

Barang bekas itu ditempel mengikuti bingkai foto. Isi dalam bingkai itu kertas yang digunting sendiri oleh Nugi berbentuk bunga. Lalu, ada tulisan nugi dengan huruf kecil semua. Ini seperti merek. Karena semua karyanya selalu ditempeli kata nugi. Dia lantas menunjukkan karya lainnya yakni tempat pensil dan celengan dari plastik.

“Tempat pensil Nugi,” katanya. 

Tempat pensil yang dia buat itu didominasi bahan kardus. Hiasannya cukup dengan sedotan. Sedangkan celengan dari toples plastik yang ditempel tutup botol air mineral. Semua karyanya diambil dari barang bekas. 

Saat ini ia sedang mempersiapkan media tanam dari botol bekas. Botol-botol itu digunting menyerupai kembang dan diberi cat merah. Sekarang mulai dikerjakan. Nugi memang ingin menanam. Sekarang sedang menyiapkan medianya lebih dulu. 

Karya-karya Nugi itu tak sekadar disimpan sendiri. Juga pernah dipamerkan. Meskipun baru dalam kegiatan Hari Peduli Sampah yang digelar Rumah Dongeng Ramadhani Minggu (21/2) lalu. 

Apa yang dikerjakan Nugi saat ini adalah untuk mencari dan menggali potensi diri. Kelak, semua kegiatan dan aktivitasnya itu akan menjadi  bekal agar bisa mandiri.   

Sunarno, pendamping dari sisi psikologis, mengatakan bahwa Nugi masih harus mengasah lagi bakatnya. “Dia punya kelebihan pada daya ingat,” ucap pria yang mengajar Psikologi di IAIN Kediri ini. 

Karena Nugi termasuk autis dewasa maka targetnya nanti adalah untuk pemenuhan kemandiriannya. Sejauh ini, perkembangan Nugi terbilang cepat. Ekspresi emosinya sudah bisa mereda. Bukan itu saja, saat ini kepercayaan dirinya sudah sangat bagus. 

Ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal, Nugi segera mengulurkan tangan. Kemudian menyebut namanya. Sebelumnya dia selalu minder bila bertemu orang baru. 

Yang menarik, saat ini Nugi sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti menyapu atau mencuci sendiri pakaiannya. Ia melakukan itu tanpa paksaan. Bahkan kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan setiap harinya.(fud)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news