Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tak Ada Nama Taufiq di Kuitansi

JPU Gali Aset Taufiqurrahman

23 Februari 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Saksi

BERI KESAKSIAN: Mantan Camat Sukomoro Haris Jatmiko (pegang mikrofon) dan mantan Kades Putren Nidi Basuki (baju batik) saat memberikan keterangan di depan majelis hakim PN Tipikor, Surabaya kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

SURABAYA, JP Radar Nganjuk-Sidang kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan terdakwa Taufiqurrahman kembali berjalan kemarin. Jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggali aset-aset milik mantan Bupati Nganjuk tersebut.

Sedianya JPU memanggil sembilan saksi. Tetapi, lima orang di antaranya berhalangan hadir. Empat saksi yang memberikan keterangan di depan majelis hakim adalah mantan Camat Sukomoro Haris Jatmiko, mantan Camat Ngetos Hariadi, serta mantan Kades Putren, Sukomoro Nidi Basuki. Ada pula Kristoforus N, sales mobil mewah di Jakarta. “Mereka kami hadirkan atas dugaan TPPU yang dilakukan terdakwa,” ujar JPU KPK Andi Kurniawan.

Dalam persidangan di PN Tipikor Surabaya tersebut, keempat saksi memberikan keterangan terkait pembelian aset yang dimiliki Taufiq. Mulai sejumlah aset tanah di Desa Suru dan Ngetos, Kecamatan Ngetos. Serta, aset tanah di Desa Putren, Kecamatan Sukomoro.

Taufiq

Aset Taufiqurrahman yang Diduga Hasil TPPU (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Tak hanya itu, Taufiq juga sempat membeli beberapa mobil mewah. Mulai Jeep Wrangler Sahara, VW Beetle, dan Nissan GTR. Selain tiga mobil tersebut, diduga masih ada beberapa mobil mewah lainnya. “Aset-aset tersebut diduga dibeli terdakwa dari uang hasil gratifikasi,” lanjut Andi.

Sementara itu, di depan majelis hakim para saksi dicecar pertanyaan seputar aset milik mantan bupati Nganjuk dua periode itu. Hariadi mengaku sempat diperintah Taufiq untuk membeli sejumlah tanah di Desa Suru, Kecamatan Ngetos. Nilainya sebesar Rp 1,2 miliar untuk tanah seluas sekitar 10 hektare. Lalu, dia juga diminta membeli tanah di Desa/Kecamatan Ngetos senilai Rp 415 juta seluas tiga hektare.

Mantan camat Ngetos itu menyebut dalam pembelian tanah buktinya hanya kuitansi jual-beli saja. Yang aneh, di dalam kuitansi tidak tertera nama pembelinya. Kolom nama pembeli sengaja dikosongi sesuai permintaan Taufiq.

Seperti halnya Hariadi, Haris Jatmiko juga memberi keterangan yang hampir sama. Dia diminta untuk mencari tanah di Desa Putren, Sukomoro. Akhirnya didapatkan tanah seluas tiga hektare dengan nilai Rp 6,8 M.

Sesuai fakta di persidangan kemarin, Andi menduga ada upaya dari Taufiq untuk menyamarkan asetnya. Indikasi lain juga terlihat dari pembelian mobil mewah pria asal Jombang tersebut. Misalnya pembelian Jeep Wrangler Sahara Arctic tahun 2012. Taufiq membeli mobil dalam kondisi bekas.

Diduga kuat mobil itu juga dibeli dari hasil uang gratifikasi. Kecurigaan tersebut mencuat setelah JPU mendapati bahwa mobil hanya diganti plat nomornya. Tanpa dilakukan mekanisme balik nama. “Atas namanya masih tetap pemilik mobil yang lama meski kepemilikan mobil sudah lebih dari satu tahun,” tutur Andi sembari menyebut hal itu diduga sebagai upaya pencucian uang.

Usai mendengarkan keterangan empat saksi terkait kepemilikan aset Taufiq, sidang yang berlangsung secara daring itu ditutup. Taufiq yang mengikuti sidang dari Lapas Porong mengaku kesulitan memberikan tanggapan atas keterangan saksi karena gangguan sinyal dan jaringan suara. Rencananya tanggapan akan disampaikan pada persidangan Senin (1/3) nanti.

Dalam persidangan lanjutan, JPU KPK akan menghadirkan tujuh saksi lagi. Seperti sidang kemarin, mereka masih akan mendalami aset Taufiq hasil TPPU.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news