Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Sudah Periksa Tujuh Saksi

Selidiki Kasus Penggelapan Tanah

23 Februari 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Penggelapan

Kronologi (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk –Satreskrim Polres Nganjuk masih terus menyelidiki kasus dugaan penggelapan dan penipuan akta tanah milik Aziz Rahayu, 33, dan Imam Bukhori, 39. Seminggu usai menerima laporan dari pasangan suami istri (pasutri) tunanetra itu, polisi sudah memeriksa tujuh saksi. Mereka masih akan melakukan gelar perkara untuk menentukan kelanjutan kasus.

Kasatreskrim Polres Nganjuk Iptu Nikolas Bagas Yudhi Kurniawan mengungkapkan, hingga kemarin anggotanya masih mendalami kasus yang menimpa pasutri asal Desa Sonobekel, Tanjunganom tersebut. “Kami sudah mengumpulkan keterangan dari para saksi. Rencananya masih ada yang diperiksa lagi,” ujar Niko.

Penyidik, beber perwira muda itu, berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini secepatnya. Di antaranya, dengan melakukan gelar perkara untuk menentukan kelanjutan kasus yang menjadikan AM, oknum pengacara, sebagai terlapornya.

Apa saja progres pemeriksaan selama seminggu terakhir? Niko mengaku belum bisa membeberkan. Sebab, semua keterangan masih diselidiki oleh satreskrim.

Dia hanya menyebut pasutri pelapor dan AM sebagai terlapor sudah memberi keterangan di depan penyidik. Perwira asal Jogjakarta itu juga membenarkan jika ada penjualan tanah atas nama AM kepada orang lain. Akta tanah yang dijual tersebut juga atas nama AM.

Berdasar laporan Rahayu, tanah di Desa Bungur, Sukomoro itu seharusnya atas nama Laminem, ibunya. “Dari keterangan pelapor (Rahayu, Red), memang minta tolong kepada terlapor (AM, Red), untuk balik nama atas kepemilikan tanah almarhumah ibu pelapor,” beber perwira berambut klimis itu.

Niko mengaku baru mendapat laporan pada Senin (15/2) lalu. Adapun permintaan balik nama tanah sudah berlangsung sejak 2017. Apakah penyidik sudah menetapkan tersangka dalam kasus tersebut? Niko menggeleng. Hingga kemarin belum ada tersangka di kasus tersebut. “Masih menunggu gelar perkara,” jelasnya.

Kronologi:

 (2017)

-        - Rahayu meminta tolong kepada AM, pengacara  untuk ganti nama akta tanah.

-        - Rahayu dan Imam Bukhori yang tunanetra hanya bertemu sekali dengan AM untuk meminta tanda tangan proses ganti nama akta.

(2021)

-        - Rahayu mendapatkan kabar tanahnya di Desa Bungur, Sukomoro sudah dijual ke orang lain

-        - Rahayu menghubungi AM, tidak ada kejelasan dan melapor ke polisi.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news