Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Tanaman Terendam, Petani Brambang Rugi Belasan Juta

23 Februari 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Brambang

TAK MAKSIMAL: Bambang Siswoyo, 51, petani asal Desa Waung, Baron mengambili umbi bawang yang tersisa di lahannya usai dipanen, kemarin. (Ilmidza Amalia Nadzira - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Banjir yang menerjang sebagian besar wilayah Nganjuk pada Minggu (14/2) lalu, tidak hanya merendam rumah warga. Melainkan juga tanaman bawang merah. Akibatnya, petani merugi hingga belasan juta rupiah karena harus panen lebih awal.

Seperti diungkapan Fahroni, 47. Petani asal Desa Waung, Baron itu mengaku merugi hingga Rp 12 juta. Ini setelah tanaman bawang merah seluas 250 ru miliknya terendam air bah. “Terpaksa saya panen lebih awal agar tidak rugi lebih besar lagi,” akunya.

Fahroni tidak mau menanggung kerugian yang lebih besar. Dia yakin jika dibiarkan terus tanamannya akan semakin rusak. Risiko besar yang harus ditanggungnya adalah umbi busuk dan tidak laku dijual.

Karenanya, dia memilih langsung memanen agar bawang merah yang ditanamnya masih laku. “Tidak apa-apa harga jatuh,” bebernya.

Fahroni menuturkan, banjir di sawahnya terjadi karena saluran irigasi yang minim. Puluhan hektare lahan di sana hanya mengandalkan satu saluran irigasi yang kurang memadai di sisi utara. Parahnya, air dari arah selatan tidak bisa mengalur karena terhalang rel kereta api.

Karenanya, setiap hujan deras mengguyur Nganjuk, sering muncul genangan di sawahnya yang tengah ditanami bawang merah. Padahal, umbi berwarna ungu ini akan membusuk jika terkena air terlalu banyak.

Seperti halnya Fahroni, Bambang Siswoyo, 51, mengungkapkan hal serupa. Pemilik tanaman bawang merah seluas 250 ru itu menyebut tanamannya terendam air bah selama tiga hari. “Ini banjir paling marah,” keluhnya.

Akibat bencana tersebut, Bambang mengaku merugi. Sebab, kualitas bawang merah yang ditanamnya kurang bagus. Meski tidak menyebut nilai pasti  kerugiannya, Bambang mengaku kehilangan puluhan juta rupiah.

Padahal, seperti petani lainnya, dia harus meminjam uang untuk memulai penanaman bawang merah. “Setiap bulan harus mengangsur pinjaman. Sekarang saya hanya bisa mengelus dada. Bagaimana mengembalikan (utang, Red),” urai Bambang sembari menyebut pupuk dan obat-obatan bawang merah sangat mahal. Jumlah itu belum termasuk biaya tenaga.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news