Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Hujan di Kediri, Pohon Tumbang, 10 Rumah Rusak, Plengsengan Ambrol

22 Februari 2021, 13: 19: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

Bencana Kediri

Waspada Bencana di Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Hujan deras yang berlangsung di wilayah Kabupaten Kediri berdampak bencana kemarin (21/2). Meskipun hanya berlangsung satu jam, hujan disertai angin kencang tersebut menumbangkan pohon-pohon. Setidaknya, tujuh rumah rusak tertimpa pohon tumbang.

Setidaknya, tiga kecamatan  merasakan dampak angin kencang itu. Yaitu di Kecamatan  Mojo, Kras, dan Kepung. Dampak terparah dirasakan warga Mojo. Sepuluh rumah warga Desa Maesan rusak setelah tertimpa pohon tumbang. Tujuh rumah di RT 01 RW 05, tiga lainnya di RT 02.

“Kami langsung ke lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat,” terang Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Saifudin Zuhri.

Menurut lelaki yang disapa Udin tersebut, tumbangnya pohon juga menimpa kabel-kabel listrik. Hal itu yang menyebabkan terjadinya pemadaman di wilayah tersebut. Listrik baru menyala sekitar pukul 21.00 tadi malam.

Udin mengatakan masih berupaya melakukan asesmen dengan memindahkan pohon-pohon yang tumbang. Juga membantu rumah-rumah yang tertimpa. Hingga tadi malam, pihaknya belum menghitung berapa kerugian yang diakibatkan kejadian itu.

Tak hanya di wilayah Kecamatan Mojo, hujan deras dan angin kencang juga membuat wilayah Kras mengalami hal serupa. Pohon bertumbangan di empat desa. Untungnya, tidak ada yang menimpa rumah. 

Beberapa pohon yang tumbang sempat menutup jalan raya Kediri-Tulungagung. Menjadikan kemacetan panjang. Di daerah ini juga sempat terjadi pemadaman listrik.

“Personil bagi tugas, dari Kepung akan bergeser ke Kras,” terang Udin. 

Di Kecamatan Kepung salah satu plengsengan sungai di Dusun Krembangan, Desa Kepung longsor. Angin kencang juga menumbangkan pohon serta merobohkan tiang listrik. Tepatnya di Dusun Bukaan, Desa Keling. Akibatnya, beberapa desa mengalami pemadaman listrik. 

Sebelumnya, intensitas hujan tinggi mengancam warga di Desa Pamongan, Mojo. Pasalnya, desa di Lereng Gunung Wilis itu termasuk salah satu titik rawan longsor. 

Kepala Desa Pamongan, Suyani, 48, mengatakan ada dua dusun yang rawan terjadi bencana longsor. Yakni Dusun Pamongan dan Tumpakdoro. Kedua dusun itu berada di ketinggian sekitar 795 mdpl dan di tepian tebing. “Terakhir terjadi longsor Desember lalu,” katanya, kemarin (21/2).

Suyani mengatakan bencana longsor yang terjadi 14 Desember tahun lalu itu menimpa salah satu rumah warga di RT 11 RW 4. Lokasinya tepat berada di tepi jalan bertebing setinggi 7 meter . Hal itu terjadi setelah hujan deras yang selama 6 jam. 

Di Dusun Pamongan, rumah warga terletak di tepian tebing curam dan berliku. Untuk di Dusun Tumpak Doro, yang terletak di atas Dusun Pamongan, ancaman tanah longsor lebih tinggi. Selain kemiringan tebing juga berada di tepi sungai. 

Orang nomor satu di Desa Pamongan itu mengaku sebelumnya telah ada tembok penahan tanah (TPT) . Namun, karena intensitas hujan tinggi dengan durasi lama tidak mampu menahan air. 

Kades yang baru menjabat satu tahun itu berharap segera ada TPT.  Pasalnya, desa itu dihuni sekitar 1.200 kepala keluarga (KK) yang mayoritas sebagai petani dan peternak sapi. “Dinas terkait ada pembenahan TPT karena tebing memang tinggi. Tidak bisa menahan kalau hujan deras,” pungkasnya. 

Terkait dengan ancaman bahaya di Desa Pamongan itu, BPBD menyebut termasuk kategori sedang. Daerah ini memang perlu waspada terhadap kemungkinan terjadi tanah longsor. Terlebih ketika intensitas hujan tinggi. “(Apalagi) sekarang masuk puncak hujan,” jelas Udin.

Terkait rencana perbaikan TPT, pihaknya mengatakan sudah melakukan assessment. Hal itu dalam proses pengusulan pada dinas pekerjaan umum dan tata ruang (PUPR).

Selain di Desa Pamongan, Mojo Udin mengatakan ada kecamatan lain yang berpotensi terjadi longsor dan banjir. Yakni Semen, Banyakan, Grogol, Tarokan, Puncu, Ngancar, dan Plosoklaten. “Kami melakukan mitigasi bencana, untuk dilakukan pengawasan saat hujan deras,” jelasnya. 

Untuk langkah penanganan selanjutnya, Udin mengatakan akan mengoptimalkan pemberdayaan masyarakat desa tangguh bencana (Destana). Pasalnya, terjadi bencana alam sebelum sudah dapat diprediksi. Dengan pembentukan Destana, warga akan lebih siaga dengan ancaman bencana yang kemungkinan terjadi. “Yang sudah terbentuk di Kecamatan Puncu. Hari ini juga melakukan penanaman pohon untuk pengurangan risiko bencana,” pungkasnya. (c2/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news