Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Terobosan Perajin Mebel Nganjuk Menyiasati Penurunan Omzet Penjualan

Jual Produk secara Online

22 Februari 2021, 12: 36: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Mebel

TERUS PRODUKSI: Salah satu pekerja di sentra mebel Kelurahan Cangkringan, Kecamatan Nganjuk melakukan finishing produk sebelum diantarkan kepada pemesan. (Ilmidza Amalia Nadzira - radarkediri.id)

Share this          

Pandemi Covid-19 yang diikuti melemahnya perekonomian membuat omzet penjualan mebel merosot. Para perajin di sentra mebel Kelurahan Cangkringan, Kecamatan Nganjuk memilih memasarkan produk secara online untuk memperluas pasarnya.

Joko Santoso, 48, salah satu perajin di sentra mebel Kelurahan Cangkringan menuturkan, sebelum pandemi dia bisa menjual 5-10 produk mebel dalam sehari. Sejak Covid-19 melanda Nganjuk tahun lalu, paling banyak dia hanya bisa menjual tiga unit. “Omzet penjualan turun sampai 70 persen,” ujar Joko.

Momen “panen” bagi para perajin mebel adalah saat jelang Idul Fitri. Tetapi, hal tersebut tidak terjadi tahun lalu. Kondisi yang sama diprediksi masih akan terjadi tahun ini.

Mebel

Perajin Mebel Terdampak Pandemi (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Sebelumnya Joko juga banyak mendapat pesanan meja, kursi, dan lemari besar dari sekolah. Tetapi, aktivitas pembelajaran mayoritas juga dilakukan secara dalam jaringan (daring) atau online. Sehingga, pesanan dari sekolah juga sepi.

Harga mebel produksi Joko bervariasi. Tergantung jenis kayu yang digunakan serta kerumitan desainnya. Untuk meja dipatok mulai Rp 75 ribu per unit. Kemudian, rak buku Rp 80 ribu per unit.

Untuk lemari pakaian dua pintu ukuran sedang dijual mulai Rp 285 ribu per unitnya. “Tergantung kayunya. Kalau kayu Albasia lebih mahal,” urianya. Meski harga yang dipatok relatif murah, selama pandemi penjualannya tetap terjun bebas.

Sebelum pandemi dia bisa meraup penjualan sampai Rp 200 juta dalam sebulan. Setelah pandemi, maksimal dia hanya bisa meraih puluhan juta sebulan. Penjualan mebel yang biasanya dilakukan hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Barat juga mandek.

Kondisi bisnis Joko yang lesu ini berubah setelah sang anak membantu promosi penjualan lewat Facebook. Pesanan dari luar kota sekarang mulai berdatangan. “Ada pesanan dari Magelang dan Jogjakarta. Mereka pesan dipan dan lemari,” bebernya.

Melihat promosi online yang memberi hasil signifikan, Joko bertekad untuk terus melanjutkan metode penjualan tersebut. Demikian pun saat pandemi Covid-19 di Nganjuk telah usai nanti.

Terpisah, Marzuki, 48, perajin mebel lainnya juga mengeluhkan hal serupa. Menurutnya, omzet penjualan mebel produksinya juga turun sampai 50 persen. Jika sebelum pandemi dia bisa menjual 10 mebel, sekarang jauh lebih kecil. “Untuk menjual satu mebel saja sulit,” keluhnya.

Kondisi yang sama juga dirasakan sedikitnya 10 toko mebel yang ada di Kelurahan Cangkringan. Mereka kesulitan menjual produk karena sasaran pasarnya tutup selama pandemi Covid-19 ini.

Perajin Mebel Terdampak Pandemi:

-Penjualan produk mebel menyusut 50-70 persen selama pandemi Covid-19

-Para perajin menyiasati penurunan omzet dengan mengurangi produksi

-Sebagian perajin melakukan terobosan dengan memasarkan produk secara online

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news