Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

5 Desa di Nganjuk Berada di Lokasi Rawan Bencana

Baru Rencanakan Studi, Belum Gagas Relokasi

22 Februari 2021, 12: 33: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

Longsor

BERBAHAYA: Puluhan rumah masih kokoh berdiri di bawah bukit Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos. Dalam waktu dekat mereka akan direlokasi bersama para korban tanah longsor di sana. (M. Arif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

Puluhan kepala keluarga (KK) di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos yang menjadi korban tanah longsor hampir dipastikan akan direlokasi. Warga lain yang juga tinggal di kawasan rawan bencana terpisah bernasib sebaliknya.

Di Kabupaten Nganjuk, sedikitnya ada lima desa di dua kecamatan yang rawan terkena bencana tanah longsor. Untuk mendeteksi atau memberi peringatan dini bahaya longsor, lima desa tersebut sudah dipasangi early warning system (EWS).

Sayangnya keberadaan alat yang bisa mendeteksi gerakan tanah itu tidak cukup untuk mengingatkan adanya bahaya. Hal tersebut terbukti dengan insiden tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos yang memakan 19 korban jiwa. “Tahun 2018 sudah pernah kami ingatkan untuk pindah tetapi warga tidak mau,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Nganjuk Mokhamad Yasin tentang upaya yang dilakukan pemkab.

Longsor

Daerah Rawan Longsor di Nganjuk (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Setelah terjadi bencana yang menjadi perhatian nasional itu, pemkab “memaksa” untuk merelokasi mereka. Lima hektare lahan disiapkan di lokasi yang lebih aman di Desa/Kecamatan Ngetos.

Untuk memproses relokasi ini, pemkab tengah menunggu izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) turun. Setelah izin turun, pemkab akan melakukan tukar guling tanah.

Lahan milik perhutani yang digunakan untuk merelokasi warga, rencananya akan diganti dengan lahan hutan di Situbondo milik Pemkab Nganjuk. “Kami kan punya lahan di Situbondo (lahan hutan untuk tukar guling lokasi relokasi warga terdampak Semantok, Red),” lanjut Yasin.

Bagaimana dengan warga yang tinggal di empat daerah rawan bencana lainnya? Meski sama-sama menanggung risiko menjadi korban seperti di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos, mereka tidak bisa direlokasi dalam waktu dekat. Yasin menyebut ada banyak faktor yang menghambat.

Proses relokasi warga korban tanah longsor di Dusun Selopuro bisa dilakukan dengan cepat karena bencana sudah terjadi di sana. Sehingga, penanganan yang dilakukan bersifat kedaruratan. “Untuk lokasi lain harus menggunakan prosedur biasa (di luar kedaruratan, Red),” terangnya.

Untuk bisa merelokasi mereka, ada beberapa langkah lebih panjang yang harus ditempuh Pemkab Nganjuk. Di antaranya, pembuatan kajian oleh ahli geologi terkait tingkat kerawanan di masing-masing titik yang saat ini dipasang EWS tersebut. “Nanti hasil kajian akan jadi dasar untuk membuat regulasi (relokasi warga, Red),” beber pria yang sebelumnya menjabat kepala dinas pendidikan ini.

Langkah-langkah kedaruratan seperti yang diterapkan di Dusun Selopuro, menurut Yasin belum bisa diterapkan di empat lokasi lainnya. Karena itu, Yasin meminta masyarakat untuk senantiasa waspada. Yakni, berlindung di tempat yang aman saat wilayah mereka diguyur hujan deras.

Apalagi, sesuai prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dalam beberapa hari ke depan masih akan terjadi cuaca ekstrem. “Kami optimalkan desa tangguh bencana untuk membangun kesadaran warga,” sambung Afandi, tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news