Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Siswa MTsN 8 Kediri Menangkan Best Design MRC 2020 Tingkat Nasional

Pagi untuk Sekolah, Sore Otak Atik Robot

22 Februari 2021, 11: 48: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

Mts 8 Kediri

TERBAIK: Aqil dan Wafa diapit guru dan wali murid MTsN 8 Kediri. (Karen Wibi - radar kediri)

Share this          

Perasaan minder dan takut kalah pasti ada. Namun dengan yakin Aqil dan Wafa terus maju. Walaupun hanya bisa latihan dari sisa waktu, mereka tetap bisa menjadi yang terbaik.

Karen Wibi, KABUPATEN, JP Radar Kediri

“Tahun lalu juga pernah ikut. Tapi tidak menang,” kenang Aqil Yusva Mumtaz Haqqi, 14, dari Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, siswa MTsN 8 Kediri saat berada di ruang kepala sekolah. Duduk di sebelahnya adalah Ali Khaidar Wafa, 13, asal Desa Katang, Kecamatan Ngasem. Mereka berdua adalah siswa berprestasi di madrasah yang berada di Desa Menang, Kecamatan Pagu tersebut.

Di depan mereka ada sebuah meja oval. Tingginya sekitar 60 sentimeter. Di atasnya terlihat banyak barang. Dari air minum mineral, camilan di dalam toples, dan beberapa benda lainnya. Namun ada dua benda lainnya yang nampak tidak biasa.

Satu piala mengilat dan medali berwarna emas berbentuk lingkaran. Piala tersebut setinggi sekitar 20 cm. Di atasnya bergambar sebuah karakter robot. Ada dua garis kalimat di piala tersebut. Bagian atas bertuliskan Juara 1 Best Design. Lalu bagian bawah bertuliskan Madrasah Robotic Competition 2020. Medali berwarna emas tersebut juga masih dengan tulisan yang sama.

Dua benda itu terlihat sangat berharga bagi Aqil dan Wafa. Sebab, menjadi kebanggaan bagi mereka berdua, orang tua dan guru mereka. Piala tersebut tidak didapat dengan cara yang mudah. Penuh perjuangan dan pengorbanan dari banyak pihak. Terutama bagi Aqil dan Wafa.

“Dulu pesertanya ada sekitar 2.498 dari seluruh Indonesia,” ungkap Aqil sembari menjelaskan ribuan peserta tersebut dibagi ke beberapa jenjang seperti MI, MTs, dan Madrasah Aliyah.

Semuanya berebut untuk menjadi yang terbaik di bidang lomba masing-masing. Lalu Aqil bersama Wafa berhasil menjadi yang terbaik di kategori Best Design. “Jadi nama lombanya itu Madrasah Robotic Competition (MRC) dan tingkat nasional. Diadakan oleh Universitas Islam As-Syafi’iyah,” ungkap Wafa.

Mereka mulai mendaftar lomba pada Oktober tahun lalu. Bersaing dengan banyak siswa MTs lainnya. Penyisihan awal dilakukan secara online. Baru setelah terpilih 9 besar mereka berangkat untuk melakukan lomba secara offline. “Jadi kita berangkat ke Jakarta waktu tanding itu,” tambah Aqil.

Disana mereka bertemu dengan saingan mereka dari sekolah lain. Perasaan minder dan takut kalah pasti ada. Namun, mereka terus mendapat semangat dari orang tua.

Pesaing mereka rata-rata dari kelas 9. Sedangkan mereka baru kelas 7 dan kelas 8. Bahkan lomba robotic tersebut menjadi kali pertama bagi Wafa. Untuk Aqil ini menjadi kali kedua. Di tahun lalu dia juga sempat mengikuti lomba serupa. Namun hanya mampu hingga 8 besar. “Musuhnya juga banyak dari kota  seperti Makassar, Jakarta, dan Blitar,” ungkap Aqil.

Ketakutan akan kalah ternyata tidak menjadi kenyataan. Malah sebaliknya, mereka menang dengan membanggakan. Juara 1 Best Design Madrasah Robotic Competition (MRC). Mereka bisa pulang dengan nama harum untuk sekolah. “Kita baru pulang 5 Februari lalu,” tambahnya.

“Lalu bagaimana bisa latihan sedangkan saat ini masih masa pandemi?.” Menjawab pertanyaan tersebut mereka mengatakan masih bisa membagi waktu.

Pagi hari digunakan full untuk kegiatan sekolah. Baru sorenya mereka berlatih untuk lomba robotic. Mereka berlatih secara mandiri dan juga bersama-sama. Saat latihan bersama, mereka biasanya melakukan di sekolah. “Dari pihak sekolah juga ada pelatih khusus,” tutur Aqil.

Tidak hanya itu, Ayah dari Aqil juga merupakan ahli robot. Keahliannya benar-benar turun ke Aqil. Bersama Aqil, Wafa, dan Ayah dari Aqil mereka sering berlatih bersama. “Itu menjelang berangkat ke Jakarta, kita juga semakin giat dalam latihan,” tambahnya.

Kedua anak tersebut juga sepakat untuk ingin ikut di lomba lainnya. Mereka masih ingin menggali potensi diri masing-masing. Walaupun jalan yang dilalui kadang terlihat susah, mereka yakin untuk terus maju. “Dari sekolah dan orang tua juga dapat banyak dukungan. Kita yakin bisa,” tutupnya. (dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news