Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Ketika Pekerja di Kediri Merasakan Dampak Pandemi yang Berkepanjangan

Bablas Nganggur Karena Tak Ada Panggilan

21 Februari 2021, 15: 06: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Buruh kediri

SEPI: Suasana PT KWI yang tidak ada aktivitas. Perusahaan pengolahan kayu ini dikabarkan berhenti beroperasi karena dampak pandemi korona. (Rekian - radar kediri)

Share this          

Ini masa-masa sulit bagi pekerja. Ancaman menjadi pengangguran terus mengintai. 

Sabtu kemarin sebenarnya adalah hari istimewa bagi para pekerja. Hari itu, 20 Februari, adalah Hari Pekerja Indonesia. Sayang, hari tersebut jauh dari perayaan dan kegembiraan. Sebaliknya, ancaman pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) masih banyak.

Hingga kemarin banyak perusahaan yang tak beroperasi karena terganjal pandemi. Bahkan ada yang memilih tutup.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Kediri Imam Muchri mencontohkan perusahaan yang sudah menghentikan pekerjanya. Di antaranya adalah PT Kediri Woods Industry (KWI). 

“Saya sempat mendampingi pekerja di sana,” ucapnya pada Jumat (19/2) lalu. 

Akibat korona, PT KWI awalnya merumahkan 91 pekerjanya. Meskipun tetap dibayar 50 persen dari gaji. Karena tak kunjung beroperasi, mereka akhirnya hanya dibayar 25 persen. 

Akhirnya perusahaan mengambil kebijakan pahit. Menghentikan seluruh pekerjanya. “Semua akhirnya di-PHK, pesangonnya langsung diberikan. Sudah sesuai,” ucapnya. 

Baginya, kasus di PT KWI ini menjadi contoh kecil dari masalah ketenagakerjaan yang terjadi saat pandemi. Satu perusahaan saja sudah melakukan PHK terhadap 91 tenaga kerja. 

Penjelasan yang disampaikan Imam itu dibenarkan Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Dinkop UMTK). Organisasi perangkat daerah (OPD) yang berada di Kecamatan Pesantren itu telah menerima beberapa laporan tenaga kerja yang telah dirumahkan. 

Beberapa perusahaan retail juga merasakan hal serupa. Kepala Dinkop UMTK Bambang Priyambodo mengatakan, sekarang pekerjanya ada yang masih dirumahkan dan bahkan diberhentikan. 

Seperti di Ramayana misalnya, sempat ada yang dirumahkan. Meskipun sekarang sudah mulai beroperasi lagi. “Di sana ada sekitar tujuh orang yang di-PHK,” ucapnya. Tidak ada gejolak karena semua hak pekerja seperti pesangon sudah diselesaikan. 

Di salah satu pusat perbelanjaan, beberapa tenant memilih merumahkan karyawannya. Bahkan lebih dari 20 orang. Ironisnya, sampai saat ini tidak ada laporan kondisi para pekerja. Yang dikhawatirkan Bambang, pekerja yang dirumahkan ini bablas tidak dipanggil untuk kembali bekerja. Selain itu selama dirumahkan, tidak ada kejelasan pembayarannya.  

Dinkop UMTK mencatat, pada 2020 lalu ada 576 orang yang mengklaim dana di BP Jamsostek. Kemungkinan, sebagian dari mereka, adalah pekerja yang diberhentikan selama pandemi korona. Hanya, pihak BP Jamsostek belum bisa dikonfirmasi terkait data yang dicatat dinkop UMTK itu. (rq/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news