Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Marak, Pecinan Kota Kediri Jadi Lokasi Favorit Penghobi Fotografi

20 Februari 2021, 15: 48: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

Kelenteng kediri

KLASIK: Penyuka foto asal Pare, Kabupaten Kediri, menggunakan kelenteng di Jalan Yos Sudarso sebagai tempat berfoto bersama rekan-rekannya. (Rekian - radar kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri - Deretan bangunan tua di Jalan Yos Sudarso menarik minat para penyuka fotografi. Terutama bagi kalangan milenial. Setiap hari nyaris selalu ada sekelompok pemuda yang menenteng peralatan fotografi. Mereka berburu lokasi sebelum melakukan foto bersama.

Kawasan ini memang mudah menarik minat para pecinta fotografi. Apalagi para vloger. Penyebabnya adalah masih banyaknya bangunan lawas di daerah yang disebut sebagai Pecinannya Kota Kediri itu. 

“Kesannya bagunan di sini sudah tua banget. Sedangkan kami ini sebentar lagi akan tamat sekolah,” ucap Irfan, siswa salah satu SMK negeri di Kota Kediri, yang beberapa hari lalu menggunakan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong sebagai tempat berfoto. 

Irfan saat itu berangkat bersama kelompok kecilnya. Mereka sepakat mengabadikan masa-masa terakhir sebagai siswa SMK di sudut-sudut Jalan Yos Sudarso. 

“Ya nanti hasil fotonya kami unggah di media sosial masing-masing. Kan bisa angkat Kota Kediri juga,” beber pria asal Ngasem, Kabupaten Kediri ini. 

Hal yang sama juga dilakukan anak-anak seangkatannya yang berbeda sekolah. Mereka datang ke sana khusus untuk mengambil gambar. 

Bukan saja anak sekolah, mereka yang akan melangsungkan pernikahan banyak memilih melakukan foto pre-wedding di lokasi ini. Bahkan, para vloger dari Pare juga mengambil lokasi shooting-nya di areal kelenteng. Galih, 22, asal Kepung, Kabupaten Kediri mengaku tertarik mengambil video di sana karena kawasan tersebut punya daya tarik dan auranya bagus untuk foto. 

“Sepintas saja lewat sini rasanya langsung klik,” akunya. Dia pun akan mengulas kawasan kelenteng lewat vlog-nya.  

Banyaknya penyuka fotografi yang memanfaatkan area pecinan juga menjadi berkah bagi para pengayuh becak. Mereka yang biasa mangkal di sekitar kelenteng kecipratan rezeki. Becak-becak mereka kerap dijadikan properti foto.

Seperti yang diceritakan oleh Nur Hadi. 

Menurut kakek 63 tahun ini, keramaian warga itu terjadi sejak ada pandemi. Kepada koran ini dua mengaku, kalau Sabtu dan Minggu pengunjung datang silih berganti. 

Dia pun mendapat berkah dari ramainya pengunjung. Becaknya yang mulai seret penumpang kerap dijadikan properti. Meski tidak menentukan tarif, para pengunjung kerap memberikannya imabalan. Besarnya bisa Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu sepuas para pengunjung memanfaatkan becaknya. 

Bahkan tak jarang anak-anak muda menggantikannya dengan rokok sebagai imbal jasa becaknya dipakai sebagai properti. “Selagi tidak ada penumpang silakan saja pakai (becaknya, Red),” tutur pria asal Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri ini. 

Nur dan pengayuh becak lainnya belum punya rencana untuk membuka sewa tarif becak bagi para pengunjung. Ia pun menyadari, jasa sewa becak seharusnya diikuti dengan kondisi becak yang menarik. Karena tidak ada modal, dia tidak bisa memodifikasi becaknya yang bisa dipakai untuk sewa. Jika kelak sudah bisa diperbaiki dan layak jadi properti, dia pun siap untuk memberi tarif untuk sewa becaknya.(rq/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news