Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Harga Turun, Wacana Impor Sapi Bisa Rugikan Peternak Kediri

20 Februari 2021, 14: 44: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

Daging sapi kediri

MERAH: Seorang pedagang daging di Pasar Sambi kemarin (19/2). (DEWI AYU NINGTYAS - radar kediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Dua fenomena berbeda muncul di bisnis daging. Bila harga daging relatif stabil, harga sapi justru mengalami penurunan. 

Faktor sepinya pembeli karena pandemi menjadi penyebabnya. Selain konsumen Kediri yang menurun daya belinya, pembeli luar daerah juga tak bisa datang karena wabah. Padahal biasanya mereka adalah pembeli potensial. Konsumen luar kota itu datang dari beberapa daerah seperti Malang, Blitar, Magetan, hingga Lamongan. 

Penurunan harga sapi bervariasi. Berkisar antara Rp 500 ribu sampai Rp 4 juta. Melihat usia dan kondisi fisik sapi. “Seekor kini harganya berkisar antara Rp 8 juta sampai Rp 13 juta,” terang Rudiyanto, 39, pedagang sapi di Pasar Kliwon Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih.

Yang membuat Rudiyanto kian mengeluh, harga turun itu diikuti dengan menurunnya jumlah pembeli. Seperti yang terjadi kemarin, barisan sapi yang dia bawa belum banyak yang terjual. 

“Bawa sepuluh ekor baru laku satu ekor,” akunya.

Padahal saat musim hujan seperti ini pengeluaran yang harus dikeluarkan pedagang seperti dirinya bertambah. Sebab, sapi dagangannya rentan terserang penyakit yang perlu diobati. Belum lagi ongkos transportasi dari rumah menuju pasar serta bea karcis.

Berbeda dengan harga sapi, harga daging relatif stabil. Di beberapa pasar tradisional, harganya berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 110 ribu. Seperti yang terpantau di Pasar Gringging, Pasar Sambi, Pasar Plosoklaten, dan Pasar Kras.

Di salah satu kios daging di Pasar Gringging, per kilo daging segar dijual Rp 105 ribu. Harga itu sudah mentok. Di atas itu sudah terbilang mahal.

“Kalau di sini harga Rp 110 ribu sudah tidak bisa dijangkau pembeli,” aku Bayu, salah seorang penjual daging.

Beda lagi dengan di Pasar Sambi. Hartini, seorang pedagang, menerangkan dia masih bisa menjual daging kualitas 1 seharga Rp 110 ribu. Dengan harga itu pembeli masih banyak yang datang. “Pembeli itu maunya harga murah tapi kualitas bagus,” ucapnya.

Penurunan harga sapi itu dibenarkan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Tutik Purwaningsih. Untuk sapi yang ditimbang, harga per kilonya Rp 47 ribu berat hidup. Bila rata-rata sapi memiliki berat 400 kilogram, harganya berkisar Rp 17 juta sampai Rp 18 juta.

“Sedangkan pedagang tradisional tak menggunakan model timbangan. Selisih harganya berkisar Rp 2 juta,” terang Tutik.

Masih menurut Tutik, kondisi ini sebenarnya merupakan peluang. Yakni ada kesempatan untuk memanfaatkan rumah potong hewan (RPH) secara optimal. Di RPH nanti tidak hanya sebagai tempat menyembelih saja tapi juga penghasil produk peternakan, khususnya daging beku.

Lalu, bagaimana dengan wacana Pusat yang akan mengimpor daging? Tutik menilai untuk wilayah Kediri kebijakan impor daging kurang pas. Karena cenderung merugikan peternak. 

“Dari data yang ada di Kabupaten Kediri surplus sapi potong,” terangnya. 

Tutik mengatakan saat ini pun harga daging sapi di pasaran tidak mengalami kenaikan. Bahkan, harga sapi di Kabupaten Kediri mengalami penurunan. “Di pasar masih bisa dibilang lesu,” terang Tutik. (c2/dea/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news