Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Azam Bakhor, Mahasiswa Kediri Raup Belasan Juta Per Bulan dari Molly

20 Februari 2021, 14: 20: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

Ternak ikan kediri

PANTANG MENYERAH: Azam menunjukkan ikan molly hasil ternaknya yang telah menghasilkan keuntungan berlimpah kemarin. (Rekian - radar kediri)

Share this          

Di usia yang masih muda, Azam mampu mengembangkan bisnis peternakan ikan di desanya. Mahasiswa IAIN Kediri ini memilih molly karena berbeda dengan lainnya.

REKIAN, BADAS, JP Radar Kediri 

Tinggal di Desa Canggu, Kecamatan Badas, membuat M. Azam Bakhor Zaidi lekat dengan dunia perikanan. Di desanya, peternakan ikan bisa dijumpai dengan mudah. Mayoritas mereka memelihara ikan nila, gurami, ataupun lele untuk konsumsi. Ada juga yang jual jenis ikan hias seperti cupang, guppy, ataupun ikan koki. 

Dari sekian jenis ikan yang ada di desanya, pemuda 24 tahun ini memilih jenis molly. “Saya memang mencari jenis ikan yang berbeda dengan peternak lainnya,” katanya saat ditemui di kolam peternakannya, Selasa (16/2) lalu. 

Kolam tempat dia mengembangkan ikan molly itu berada di belakang rumahnya. Berukuran sekitar 4x4 meter, jumlahnya ada sepuluh kotak. Dulu, sebelum mengembangkan molly, kolam yang sudah permanen itu digunakan untuk pembibitan ikan lele. 

“Yang bikin kolam itu orang tua,” aku pria yang kini masih kuliah di IAIN Kediri. Mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam ini mengatakan, peternakan lelenya mandek gara-gara kolamnya tertimbun abu dari letusan Kelud. Waktu itu, semua ikannya mati dan bisnis ikan lelenya hancur. 

Menurut Azam, waktu itu, dia memilih lele karena keterbatasan lahan. Warga yang punya lahan luas dekat irigasi, pasti memilih membuka peternakan nila atau gurami. Kolamnya tidak disemen. Jenis ikan yang ditabur di kolam pun menyesuaikan musim. 

Untuk belajar pembenihan dan pengembangan lele, Azam belajar dari tetangga dan orang tuanya. “Orang tua petani, dulu pelihara ikan lele hanya untuk sampingan saja,” kenangnya. 

Setelah tiga tahun berhenti beternak lele, dia lantas memulai lagi. Kali ini, jenis ikannya berbeda yakni molly. Ikan hias yang biasanya dipelihara di aquarium. Memulainya sejak tiga tahun lalu, Azam hanya butuh modal Rp 150 ribu untuk membeli 100 ekor molly. Dia mencari ikan yang masih remaja, bukan indukan.

“Saya tidak perlu bikin kolam lagi, karena sudah ada. Saya cukup bersihkan bekas abu yang masih menempel di kolam,” lanjutnya. Dari 100 ekor pertama itu, dia belajar cara memamah biak sendiri ikan tersebut. 

Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku senang memelihara molly karena mudah berkembang biak. Berbeda dengan ikan lain yang perlu pemijahan, saat berkembang biak, ikan molly merupakan spesies yang tidak bertelur. “Langsung beranak, telurnya di dalam perut,” ucap Azam. 

Karena mudah, dia lalu memutuskan untuk mendalami peternakan ikan molly. Sekarang jumlah ikan mollynya terus berkembang biak. Ia pun mulai menjual yang dipasarkan lewat internet. Tidak hanya menjual, Azam kerap memberi edukasi bagi konsumennya. Harapannya, ilmu yang dia miliki bisa menular ke orang lain.

Salah satu contohnya, konsumen diminta untuk menunggu dua hari. Dia menjelaskan semua ikan yang dia jual harus dan wajib dikarantina. “Saat menunggu karantina, konsumen wajib mengendapkan dulu air aquariumnya. Tujuannya agar ikan tidak stres,” ucapnya. Itu contoh kecil edukasi yang dia berikan kepada konsumen.  

Hingga kini, ia sudah bisa memanen 70 ribu ekor ikan molly dalam waktu 1,5 bulan. Dalam sehari, dia bisa kirim sebanyak 1.500 ekor molly ke berbagai daerah dan luar pulau Jawa. Paling banyak pemesannya dari Tangerang. Selain itu, peminat lainnya di pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi sampai ke Papua. 

Harga yang murah dan terjangkau menjadi daya tarik banyak pembeli. Paling murah dia menjual dengan harga Rp 500 dan tertinggi Rp 3 ribu satu ekor. Minimal pesan 25 ekor dan biasanya yang pesan bisa sampai 300 ekor. Tergantung jenis dan ukurannya. Jenis ikan molly ini ada yang golden black, marbel, dan sunkis atau oranye. 

Karena banyaknya pesanan, pria berkumis ini sudah bisa memperkerjakan dua orang pemuda desanya yang diminta menjadi admin untuk pemesanan dan pembelian ikan. Dalam sebulan, omzet Azam mengurus ikan ini bisa sampai Rp 14 juta. Bahkan, saat ini dia berupaya mengembangkan kolamnya serta melanjutkan edukasi lapangan bagi para pengunjung yang ingin datang dan bertanya tentang pemeliharaan ikan. (dea)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news