Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Mengenal Chitta Cahyaningtyas, Ketua Pengadilan Negeri Nganjuk

20 Februari 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

PN

PROFESIONAL: Ketua PN Nganjuk Chitta Cahyaningtyas beraktivitas di kantornya setelah menyelesaikan sidang (9/2) (Ilmidza Amalia Nadzira - radarkediri.id)

Share this          

Penugasan Chitta Cahyaningtyas di Kota Angin sejak Januari lalu, seolah menjadi momen pulang kampung. Betapa tidak, belasan tahun menjadi hakim, ini merupakan kali pertama perempuan kelahiran Surabaya itu bertugas di Jatim.

ILMIDZA AMALIA NADZIRA, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 14.00, Selasa (9/2) lalu . Suasana Pengadilan Negeri (PN) Nganjuk mulai sepi. Hanya terlihat sejumlah pegawai yang beraktivitas di ruangan masing-masing.

Seorang perempuan yang tak lain Ketua PN Nganjuk Chitta Cahyaningtyas juga terlihat sibuk di meja kerjanya. Ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk di ruang kerjanya, lantai 2 PN Nganjuk, Chitta sibuk membolak-balikkan berkas. “Saya dulu nggak pernah kepikiran mau jadi hakim,” ujar perempuan berambut sebahu itu membuka pembicaraan.

Maklum saja, keluarga Chitta memang tidak ada yang memiliki latar belakang hukum. Seperti perempuan kebanyakan, Chitta kecil bercita-cita ingin menjadi guru dan ibu rumah tangga.

Dalam benaknya, dia ingin menjadi ibu yang fokus membesarkan anak dan mengabdi pada suami. Tetapi, nasib berkata lain. Setelah lulus dari salah satu SMA di Surabaya, Chitta dan keluarga yang pindah ke Jakarta lantas melanjutkan kuliah ke Universitas Kristen Indonesia. Jurusan hukum yang dipilihnya.

Jurusan ini pula yang menjadi awal karirnya sebagai hakim. Lolos ujian CPNS, dia bertugas sebagai staf di PN Ciamis, Jawa Barat. “Beberapa kali mengikuti tes calon hakim, masih gagal,” kenangnya sambil tersenyum.

Lagi-lagi, jalan hidup menuntunnya untuk menjadi pengadil perkara. Di usia 34 tahun atau mendekati akhir masa usia untuk persyaratan pendaftaran calon hakim, Chitta kembali mendaftar.

Kali ini dia diterima. Karir hakim pertamanya dimulai di PN Ciamis. Di sana dia menjadi hakim selama lima tahun. Sekaligus menjadi penugasan terlamanya.

Sekitar 19 tahun bertugas sebagai hakim, banyak suka duka yang dialami. Dia harus menanggung risiko kerap jauh dari suami dan anak-anaknya karena harus sering berpindah tugas.

Selain jauh dari keluarga, perempuan yang hobi membuat kue dan traveling ini juga banyak menyimpan kesan penanganan kasus. Sudah tak terhitung berapa perkara yang ditanganinya. Demikian pun jenis perkaranya.

Meski sudah belasan tahun berkutat dengan perkara pidana dan perdata, mengadili perkara bukan perkara yang mudah bagi ibu tiga anak itu. “Butuh ketegasan dan kekuatan hati saat harus menjatuhkan vonis hukuman kepada pelaku kejahatan,” tuturnya.

Dari sekian banyak perkara yang ditanganinya, ada satu yang paling membekas di benaknya. Yakni, saat dia harus menangani perkara dengan terdakwa orang lanjut usia.

Di satu sisi dia merasa kasihan karena terdakwa yang berada di depannya adalah orang tua. Di sisi lain, sebagai pengadil perkara dia dituntut untuk profesional. Dua hal itu berkecamuk di benaknya. “Hukum tetap harus ditegakkan. Tetapi, setelah menjatuhkan vonis dan sidang berakhir saya langsung menangis,” kenang Chitta yang menahan tangis hingga di ruangannya.

Sebagai hakim perempuan, Chitta memang dituntut untuk tidak memperlihatkan sisi emosionalnya. Terutama di depan terdakwa saat persidangan.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini menaati pedoman jika hakim hanya boleh berbicara melalui putusan. Bukan sebelum dan sesudah itu. Karenanya, dia dituntut untuk terus menjaga profesionalitas dalam menjalankan tugas.

Sejak menjalani pengambilan sumpah sebagai hakim, Chitta bertekad untuk bertugas sebaik mungkin. Buahnya, karir perempuan berusia 50 tahun itu pun cemerlang.

Setelah berpindah tugas ke sejumlah PN di Indonesia, dia sempat menjadi wakil ketua PN saat bertugas di Sulawesi Selatan. Selanjutnya, dia diprpmosikan sebagai ketua PN Nganjuk setelah sebelumnya bertugas di PN Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. “Pindah-pindah tugas terus. Tiga anak saya lahir di daerah yang berbeda,” bebernya sambil tersenyum.

Kini dengan bertugas di Nganjuk, dia bisa kembali menginjak tanah Jawa. Meski demikian, dia harus terpisah dengan keluarganya yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Untuk mengobati kangen dengan keluarganya, Chitta pulang ke Bekasi setiap sebulan sekali. Apakah tidak lelah? Perempuan yang harus tinggal sendiri di Nganjuk ini menggeleng. “Tidak apa saya harus pindah-pindah tempat, jauh dengan keluarga. Saya beharap anak saya dans keluarga semua hidup bahagia,” tutupnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news