Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Ketika Harga Sayuran di Kediri ‘Naik-Naik ke Puncak Gunung’

Banyak Yang Busuk, Petani Nekat Tanam

19 Februari 2021, 20: 35: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

Sayur di kediri

HIJAU: Seorang pekerja menurunkan daun seledri dari kendaraan di Pasar Induk Pare. Harga sayuran melonjak saat musim hujan seperti saat ini. (HABIBAH A. MUKTIARA - Radar Kediri)

Share this          

Bagi ibu rumah tangga, mungkin masalah ini yang lebih pusing dibandingkan masalah pandemi yang tak kunjung berakhir. Naiknya harga sayur-mayur!

Langkah Inneke bergegas menuju rumah. Meninggalkan kios penjual sayuran yang ada di sebelah rumahnya. Di tangan warga Desa Jabon, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri itu tergenggam seikat bayam dan beberapa cabai merah. 

“Biasanya Rp 5 ribu dapat satu plastik besar ukuran seperempat kilo. Isinya banyak. Ini harganya tetap tapi dapatnya cuman segini,” keluhnya sembari menunjukkan sepuluh buah cabai rawit yang terbungkus plastik kecil.

Sayur di Kediri

Sayur di Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radar kediri)

Cabai bukan satu-satunya yang harganya ‘ngehits’ saat ini. Bayam, sawi, kubis, kol, dan semua jenis sayuran pun beranjak mahal. Satu ikat bayam bisa seharga Rp 4.500. Padahal sebelumnya hanya Rp 3 ribu. 

Juga satu sop-sopan, paket sayur untuk bahan sayur sop, harganya Rp 5 ribu. Padahal dulu hanya Rp 3 ribuan. “Atau kalau tetap ingin yang Rp 3 ribu sih ada. Cuman isinya tidak lengkap,” terang Inneke lagi.  

Selama dua minggu ini fluktuasi kenaikan harga sayur memang sangat terasa. Seperti harga wortel manis yang sekarang mencapai Rp 20 ribu. Untuk wortel biasa Rp 10 hingga Rp 12 per kilogram. 

Tak hanya wortel, hampir semua sayuran mulai ‘naik-naik ke puncak gunung’. Harganya terus mengalami kenaikan. Kentang misalnya, dulu Rp 8 ribu sudah dalam satu kilogram. Kini tak bisa lagi. Harga komoditas itu menjadi Rp 11 ribu per kilogram. Demikian pula daun bawang yang naik hingga Rp 4 ribu dari semula Rp 8 ribu.

“Kentang ini memang sedang naik. Karena barang memang sulit dicari,” kata Liana, salah seorang pedagang kentang di Pasar Induk Pare, Kabupaten Kediri.

Mengapa kentang mahal? Liana berdalih berkurangnya pasokan. Sedangkan permintaan justru sedang banyak-banyaknya.

“Ini banyak permintaan untuk PKH (program keluarga harapan, Red). Selain dari wilayah Kediri juga dari luar kota,” aku pedagang 48 tahun yang biasa mendatangkan kentang dari Probolinggo ini.

Untuk memenuhi permintaan untuk PKH dari daerah Pare, Jombang, dan Mojokerto saja dia harus menyiapkan 300 ton kentang dalam sehari. Di luar kebutuhan PKH itu dia menyediakan tujuh ton kentang dalam sehari. 

Penyebab lain naiknya harga sayur-mayur dijelaskan oleh Kepala Bidang (Kabid) Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Arahayu Setyo Hadi. Yaitu karena faktor musim.

“Semua (jenis sayuran) tidak cocok ditanam di musim penghujan,” terang sang kabid.

Namun, karena sayuran terus dibutuhkan, maka petani tetap nekad. Meskipun Februari ini curah hujan sangat tinggi. Akibatnya petani banyak yang gagal panen. Bunga sayuran banyak yang rontok terkena hujan. Selain itu, tanaman rusak karena serangan hama dan penyakit. Yang banyak muncul di musim penghujan ini.

Hama seperti apa? Yang paling kerap menyerang adalah lalat buah, ulat buah, serta ulat daun. Sedangkan penyakit yang biasa datang adalah busuk buah, layu fusarium, serta bercak buah.

Kondisi ini sebenarnya bukan monopoli wilayah Kediri saja. Di daerah lain juga terjadi hal serupa. Meskipun tetap ada tapi hasil panennya tak maksimal.

Khusus di wilayah Kediri, jenis sayuran yang ditanam rata-rata adalah yang mampu hidup di dataran rendah. Itu tak lepas dari kondisi geografisnya. Kediri berada di ketinggian 800 meter dari permukaan laut (mdpl). Wilayah setinggi itu masih masuk dataran rendah. Cocoknya untuk tanaman terong, tomat, kacang panjang, kubis, mentimun, daun bawang, buncis, dan sawi.

Di Kediri tidak ada petani yang menanam sayuran dataran tinggi seperti wortel, kentang, kapri, maupun kol. Jenis-jenis itu hanya subur di daerah tinggi seperti Kota Batu dan Kabupaten Malang.

“Jika memaksa menanam itu di sini, sayuran kentang atau wortel tidak akan bisa membentuk umbi,” sebut Adi.(ara/fud)          

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news