Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Tahu Kuning Kiet Pare Kediri, Pertahankan Rasa Sejak 1960

18 Februari 2021, 16: 13: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

Tahu kediri

KUNING: Agus Rudi Hartono saat membawa tahu Kiet di toko miliknya di Jalan Mastrip Kelurahan/Kecamatan Pare. (Karen Wibi - radar kediri)

Share this          

Sudah sejak 1960 tahu Kiet ini berdiri. Sejak saat itu juga cita rasa khas dari tahu kuning tidak pernah diubah. Mempertahankan tradisi turun temurun dan konsistensi selama 60 tahun adalah kuncinya.

KAREN WIBI, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Seorang pegawai tampak berdiri tegap di depan toko berdinding putih milik Agus Budi Hartono. Melempar senyum kepada siapa saja yang hendak berbelanja. Menanyakan apakah ada yang bisa dibantu berulang kali ke semua pengunjung.

Dia berdiri di belakang meja kasir yang tingginya sekitar satu meter. Bagian depan ada papan bertuliskan “Tahu KIET Tanpa Pengawet”. Bagian kata Kiet ditulis dengan font besar berwarna merah. Memaksa orang-orang untuk mengingat kata tersebut.

Di belakang pegawai tersebut ada sebuah nampan dari anyaman bambu. Ditempatkan beberapa tahu kuning di atasnya. Totalnya ada sekitar 10 tahu kuning. Di sisi kanan dan kiri ada wadah yang biasa disebut dengan besek. Nantinya tahu tersebut akan dimasukkan ke dalam besek jika sudah dibeli pengunjung.

Tidak lama, seorang pria datang dari rumah di samping selatan toko tahu tersebut. Pria berambut putih yang sama ramahnya dengan pegawai yang berada di toko tahu Kiet.

Rumah yang berada di sisi kanan toko tersebut nampak megah. Warna putih menjadi dominan. Arsitektur rumahnya juga nampak tak biasa. Pintunya terlihat cukup besar khas bangunan Belanda. Jendela dengan teralis besi juga terlihat kokoh. “Ini dulu rumah milik kakek saya. Sudah dari zaman Belanda,” ucap pria berambut putih tersebut.

Pria tersebut adalah Agus Budi Hartono pengelola toko tahu Kiet yang berada di Jalan Mastrip Kelurahan/Kecamatan Pare. Diungkapkan Budi, bisnis keluarga tersebut dulu dibangun pada tahun 1960. Dirintis oleh sang ayah yang bernama Sugiharto bersama dengan sang adik Harjono. Hingga kini, pabrik tahu Kiet menjadi satu-satunya produsen tahu kuning yang masih bertahan di Pare. “Rata-rata tempat oleh-oleh lain ambilnya di Kediri,” ucap Budi.

Dulunya, toko tahu Kiet tidak se-terkenal saat ini. Ayahnya harus berkeliling ke beberapa pasar dan toko. Tujuannya agar produk miliknya dikenal masyarakat luas. “Dulu juga masih belum ada beberapa cabang seperti sekarang ini,” unngkapnya.

Bagi Budi, tidak banyak rahasia yang menjadikan toko usahanya mampu bertahan hingga 60 tahun. Menurutnya, hal yang paling utama adalah produk kita harus memiliki perbedaan dibanding produk lainnya. Lalu yang kedua produk kita harus memiliki merek dagang. Dengan tujuan agar orang bisa dengan mudah untuk mengingat.

Menurut Budi, tahu kuning miliknya memiliki tekstur yang berbeda dibanding tahu lainnya. Rasanya lebih padat dengan tekstur yang sedikit lembut di bagian dalam. Untuk rasa, Budi juga mengungkapkan bahwa tahu miliknya lebih gurih. “Rahasia lainnya juga tahu disini memiliki kandungan air yang sedikit,” tambah pria kelahiran Pare tersebut.

Budi menambahi bahwa sejak dulu dia tidak pernah menggunakan kedelai impor. Dia selalu menggunakan kedelai lokal. Dengan alasan bahwa kedelai lokal memiliki cita rasa yang lebih gurih. Juga kedelai lokal memiliki kekentalan pati yang lebih bagus. “Walaupun harganya sekarang naik bagi saya itu tidak masalah,” ungkap Budi sembari menjelaskan bahwa rahasia lainnya adalah komposisi yang tidak pernah diubah selama 60 tahun.

Produksi tahu milik Budi selalu dilakukan setiap hari. Dari sekitar pukul 05.00 hingga 19.30. Namun juga tergantung dari sedikit atau banyaknya pengunjung.

Dalam kondisi ramai, Budi biasa menjual 2400 biji tahu kuning. Namun saat ini penjualannya turun drastis. Per hari hanya ada sekitar 600 biji tahu kuning. “Setelah ada pandemi jadi berkurang,” tambahnya.

Menurutnya, pembeli yang sering mampir ke toko miliknya mayoritas dari luar kota. Bahkan ada beberapa di antaranya yang dari luar pulau. Dikatakan Budi bahwa pembeli dari luar kota tersebut mengatakan tahu Kiet memiliki rasa yang khas. “Beberapa di antaranya juga banyak beli untuk hajatan,” tutup Budi. (dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news