Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Harga Bawang Merah di Nganjuk Naik, Ternyata Ini Sebabnya

18 Februari 2021, 13: 04: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

Brambang

MAHAL: Tantowi, 61, pedagang bawang merah di Pasar Sukomoro memilah dagangannya. (Ilmidza Amalia Nadzira - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Banjir melanda sebagian besar wilayah Nganjuk pada Minggu (14/2) malam berdampak pada bawang merah. Harga komoditas unggulan Kota Angin itu terkerek naik akibat pasokan yang tersendat.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, harga bawang merah naik sejak Senin (15/2) lalu, harga bawang merah yang sebelumnya Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 20 ribu untuk umbi kecil hingga Rp 22 ribu per kilogram untuk umbi besar.

Tantowi, 61, salah satu pedagang di Pasar Sukomoro mengungkapkan, sebenarnya permintaan bawang merah tidak terlalu tinggi. Hal itu terbukti dari sepinya penjualan di kiosnya.

Hanya saja, harga naik karena pasokan tersendat akibat banjir yang melanda Nganjuk mulai Minggu malam hingga Senin (15/2) malam. “Sampai pukul 14.00 ini belum ada yang mengambil karungan (bawang merah, Red) saya,” ujar lelaki asal Rejoso tersebut sembari memperlihatkan bawang merah seberat 50-70 kilogram itu.

Membuka lapak sekitar pukul 08.00, biasanya Tantowi sudah mendapat dua pelanggan yang membeli brambang dalam jumlah besar. Tetapi, kemarin dia hanya kedatangan pembeli eceran.

Selain akibat banjir, pasokan brambang yang seret juga karena Februari ini belum musim panen raya. Untuk mengurangi kekurangan stok, banyak pedagang yang mengambil brambang Bojonegoro. “Brambang Bojonegoro tidak bisa masuk karena takut banjir. Hari ini juga tidak ada kiriman,” lanjutnya.

Pasokan yang terbatas juga membuat Tantowi tidak bisa mengirim bawang merah ke luar kota. Biasanya, dia memasok brambang ke ke Kediri, Blitar, Demak dan Kudus. Tetapi, dengan kondisi seperti sekarang dia memilih menjual di pasar saja.

Untuk diketahui, selama musim hujan kualitas bawang merah Nganjuk tak sebagus saat musim kemarau. Selain ukuran umbi yang lebih kecil, ketahanan brambang juga turun. Jika biasanya bisa tahan 4-6 bulan, brambang panenan musim hujan ini hanya bisa tahan paling lama tiga bulan. “Cenderung berair brambangnya,” terang Tantowi.

Senada dengan Tantowi, Yuspita, 42, pedagang bawang merah lainnya menuturkan, selama tiga hari terakhir pasar sepi. Sebab, mayoritas warga sibuk membersihkan rumah mereka yang dimasuki air bah. Di saat yang sama, banjir juga membuat pasokan dari Bojonegoro tidak datang.

Diakui Yuspita, mayoritas brambang yang dijual di Pasar Sukomoro berasal dari Bojonegoro. “Di sana sedang panen raya sekarang. Kalau Nganjuk panennya Agustus, September, Oktober,” jelas perempuan berjilbab itu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news