Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Dari Perempuan Pertama ke Bupati Termuda

17 Februari 2021, 20: 33: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

Tauhid wijaya

Oleh: Tauhid Wijaya (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

Satu dekade. Itu bukan waktu yang sebentar. Tapi, juga bukan waktu yang lama. Karena waktu hanyalah soal catatan angka. Yang dasarnya adalah pergerakan bumi. Rotasi pada sumbunya. Dan, revolusinya terhadap matahari. 

Karena itu, di luar angkasa, waktu menjadi nisbi. Demikian pula di dalam batin dan pikiran. Lama-sebentar, jauh-dekat, tak bisa didasarkan pada pergerakan planet yang kita diami ini. Ia mempunyai dasar ukuran sendiri: sedih dan gembira. 

Hari ini, Bupati Haryanti dan Wakil Bupati Masykuri mengakhiri masa jabatannya untuk yang kedua kali. Dua periode keduanya memimpin kabupaten ini. 2010-2015 dan 2016-2021. Naiknya pasangan ini pada 2010 membuat catatan tersendiri. Saat itulah untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia (RI), wilayah bekas Kerajaan Kadhiri ini dipimpin oleh seorang perempuan. Bahkan, Haryanti yang seorang dokter adalah perempuan pertama yang menjabat Bupati Kediri sejak tahun 1800. Ia menjadi bupati ke-24 di wilayah ini. 

Meski kini perempuan semakin mendapat tempat di ruang publik, hal itu tetaplah tak mudah dicapai di tengah masyarakat yang masih cenderung patriarkis. Ia memang istri Sutrisno, bupati sebelumnya yang juga menjabat dua periode. Itu fakta yang tak bisa dimungkiri oleh siapa pun. Namun, menyebut kepemimpinannya hanyalah copy paste sang suami, agaknya, menjadi pernyataan yang perlu diteliti kembali. 

Haryanti mampu melampaui. Tak kurang, tokoh nasional seperti Pramono Anung pun mengakuinya. “Bu Haryanti membuktikan diri bahwa beliau mampu memimpin Kabupaten Kediri,” kata sekretaris kabinet di era Presiden Joko Widodo yang juga pernah menjabat sekjen DPP PDIP ini. Hal itu disampaikannya di sela peresmian Jembatan Wijaya Kusuma yang menghubungkan Ngadiluwih-Mojo. 

Ya, Haryanti tetaplah Haryanti yang punya style sendiri. Sepanjang kepemimpinannya, dia dikenal sebagai sosok yang disiplin dan teliti. Barangkali itu adalah karakter bawaannya sebagai dokter yang memang harus peduli pada detail. 

So, ini adalah dua di antara banyak hal yang selalu diingat anak buahnya. Pertama, jangan coba-coba datang terlambat. Risikonya, malu. Kedua, jangan coba-coba memberi laporan ‘asbun’ alias asal bunyi. Risikonya, ketahuan. Haryanti bisa ‘menguliti’ laporan itu sampai detail. Apalagi ia tak segan turun langsung ke lapangan secara diam-diam untuk mengeceknya. 

Haryanti memang lebih cenderung menjadi tipe pekerja daripada pembicara. Ia mengakui sendiri hal itu. Ia bukan seorang orator yang baik. Tapi, kekurangan itu bisa ditutupi oleh Masykuri yang di luar birokrasi juga aktif di Nahdlatul Ulama. Kemampuan verbalnya bisa menjadi jembatan komunikasi yang baik dengan masyarakat. Pasangan yang klop. 

Dua periode tanpa berganti pasangan adalah bukti bahwa mereka bisa menjaga kepemimpinan yang harmonis. Ini adalah adalah modal besar untuk menjalankan pemerintahan secara efektif. Mustahil program-program pemerintahan bisa dijalankan dengan baik jika pemimpinnya tidak harmonis. 

Banyak hal telah dicapai. Aksesibilitas pertanian, pangan organik, pemberdayaan UMKM, revitalisasi pasar tradisional adalah beberapa saja di antara wujud kerja keras kepemimpinan mereka. Tentu, ada pula kekurangan yang harus terus disempurnakan. Dan, itu memerlukan partisipasi semua warga. Termasuk lewat kritik sekalipun. 

Sepuluh tahun. Dua periode. Hari ini, sesuai waktu bumi, duet kepemimpinan itu harus berakhir. Adalah adab yang dituntunkan kepada kita untuk menyampaikan terima kasih atas segala yang telah diupayakan mereka berdua untuk membawa Kabupaten Kediri lebih baik. Semoga menjadi amal baik keduanya. 

Berdasar waktu bumi pula, pasangan Hanindhito Himawan Pramana dan Dewi Mariya Ulfa hari-hari ini akan segera dilantik menggantikannya. Pelantikan yang akan kembali membawa sejarah baru bagi Kabupaten Kediri. Karena Mas Dhito --panggilan akrab Hanindhito-- adalah bupati Kediri termuda dalam sejarah republik ini. Ia akan dilantik dalam usia 28 tahun, belum genap tiga puluh. Sementara, Mbak Dewi akan menjadi wabup perempuan pertama di Kediri. 

Adalah adab pula yang dituntunkan kepada kita untuk mengucapkan selamat datang kepada mereka berdua. Semoga pasangan baru ini bisa membawa Kabupaten Kediri menjadi jauh lebih baik lagi. Kecepatan beradaptasi dan memahami persoalan yang ditunjukkan selama masa kampanye lalu adalah modal baik untuk memimpin kabupaten ini. Al muhafadhatu ‘ala qadiim al shalih wal akhdzu bil jadiid al ashlah. Tugas bersama kita untuk mengawalnya. (*) 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news