Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
Sudut Pandang

Kelud, Proyek (Tak) Terlupakan?

14 Februari 2021, 14: 19: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Gunung Kelud

Kelud Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Share this          

Semalam, tujuh tahun lalu, tepatnya 13 Februari 2014, terakhir kali Gunung Kelud melontarkan material yang ‘mengubur’ Kediri dan sekitarnya hingga abunya mencapai Jogjakarta. Menunjukkan besarnya letusan gunung api yang dikenal sangat aktif ini. Gunung Kelud, yang berada di perbatasan Blitar, Malang, dan Kabupaten Kediri ini memang memiliki keunikan tersendiri. Berada dekat dengan permukiman yang membuat gunung ini mendapat pemantauan ketat. 

Bagi masyarakat Kediri, Gunung Kelud sudah seperti tempat berlindung hingga menjadi tempat penghidupan. Lahannya yang subur menjadi surga bagi penduduk. Banyak hasil pertanian unggulan yang didapatkan dari lereng Kelud. Mulai buah nanas, kopi, cengkih, salak hingga cabai. 

Kian terasa saat pandemi mendera. Bagaimana Kelud telah menjadi nadi kehidupan warga yang tinggal di lerengnya. Banyak warga yang menggantungkan hidupnya dengan keindahan Kelud harus menahan diri. Tutup selama setahun membuat warga harus pintar mencari cara mencari lahan pendapatan lainnya.

Kini, tujuh tahun telah berlalu sejak letusan terakhir, ada PR besar yang masih belum mendapat jawabannya.  Proyek Gunung Kelud untuk menemukan terowongan ampera. Proyek ini terhenti sejak 2017 lalu. Atau empat tahun lalu. Waktu yang sebenarnya cukup lama untuk penghentian sementara proyek sebesar pencarian terowongan ampera Gunung Kelud ini. Setidaknya untuk menentukan anggaran tambahan Proyek Kelud yang seharusnya masuk ke termin kedua.

Sebab, jika terowongan ini tidak ditemukan, ancaman yang dihadapi warga lereng Gunung Kelud semakin besar. Terowongan yang sekarang tertimbun pasir letusan tujuh tahun lalu ini berfungsi untuk mengurangi volume air kawah. Jika air kawah tidak penuh, maka potensi semburan awan panas ikut berkurang. Terbukti tujuh tahun lalu, meski lontaran material mencapai tinggi 17 kilometer tetapi tidak menimbulkan banyak korban jiwa. Sebab, awan panas hanya membakar di jarak empat kilometer. Tidak sampai ke pemukiman warga. Sementara puluhan tahun lalu, saat belum ada terowongan mengurangi air kawah, ribuan orang diyakini tewas karena luncuran awan panas yang mencapai belasan kilometer. 

Karena itu, semoga pemerintah pusat-tentu dengan desakan pemerintah daerah- segera melanjutkan Proyek Gunung Kelud ini dan tidak menjadi proyek yang terlupakan. Bagaimanapun, nyawa ribuan manusia yang tinggal dan menggantungkan hidupnya di lereng Gunung Kelud menjadi taruhannya. (*) 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news