Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Joni Sriwasono, SPR Ngudi Rejeki dan Sentuhan Pakar Ternak IPB

Rata-Rata Miliki 7 Ekor Sapi

22 Januari 2021, 16: 02: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

Joni sapi ternak

BERKEMBANG: Joni Sriwasono dengan sapi-sapi yang sehat di kandangnya yang bersih di Ngadiluwih (16/1). (Tauhid Wijaya - radar kediri)

Share this          

Pukul 13.00. Dasar bak pakan yang terbuat dari semen itu mulai terlihat. Tinggal menyisakan sedikit butiran-butiran pakan giling yang diolah sendiri. 

----------------

Sedikitnya ada 12 ekor sapi di kandang blok depan milik Joni Sriwasono di Desa/Kecamatan Ngadiluwih. Satu blok di belakangnya masih kosong. Satu blok lagi berisi sapi-sapi anakan. Ada jenis simental. Ada jenis limosin. Ada pula yang persilangan. 

Prof muladno

INOVATIF: Prof Dr Ir Muladno MSA, inisiator SPR yang asli Balowerti, Kediri. (Tauhid Wijaya - radar kediri)

Di dinding bak-bak pakan dan minum blok depan yang berisi sapi-sapi jumbo itu masih tertempel label bekas penjualan musim kurban tahun lalu. Label berkop SPR (Sekolah Peternakan Rakyat ) Ngudi Rejeki. Isinya keterangan tentang nama pemilik, berat sapi, serta harga jualnya.

Sebut saja salah satunya. Nama (Pemilik): Joni Sriwasono. Berat: 568 kilogram. Harga: Rp 29.536.000. 

Dengan label yang tertempel itu, orang yang hendak membeli sapinya tidak perlu banyak bertanya lagi. Tinggal lihat barang (sapi), baca label, dan jika cocok langsung transaksi. Mirip dengan konsep swalayan. “Presisi. Jika tidak percaya, bisa langsung ditimbang bareng,” kata Joni saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri, Sabtu (16/1) lalu. 

Harga yang ditetapkan adalah harga yang sesuai dengan berat timbangan sapi. Seperti yang tertera pada label di atas. Harga Rp 29.536.000 adalah harga untuk berat sapi 568 kilogram. “Saat kurban, untuk berat sapi di atas 500 kilogram, kami menetapkan harga Rp 52 ribu per kilogramnya,” terang ketua SPR Ngudi Rejeki itu. Coba saja hitung sendiri, pasti pas. 

Menjual dengan standar harga berdasar timbangan adalah salah satu ilmu yang ia dan kelompoknya dapat setelah bergabung dan mendirikan SPR Ngudi Rejeki. Untuk diketahui, SPR merupakan lembaga sosial yang diinisiasi Prof Dr Ir Muladno MSA IPU dengan dukungan penuh Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Muladno adalah guru besar IPB yang juga mantan dirjen peternakan dan kesehatan hewan Kementerian Pertanian. Asli Balowerti, Kota Kediri. Kelahiran 24 Agustus 1961. “Kebetulan banyak teman Sanyuri (Santi Paguyuban Kediri, paguyuban alumni sekolah Kediri, Red) yang juga gabung di SPR,” kata Muladno yang ditemui terpisah. 

Tanpa timbangan, dulu, Joni dan para peternak rakyat lainnya sering dipermainkan tengkulak. Tidak ada standar harga yang pasti. Tengkulak bisa saja tiba-tiba menurunkan harga dengan berbagai alasan. Yang paling sering adalah kekurangan fisik pada sapi. Meski, itu bukan hal yang prinsipil. 

Sialnya, menghadapi hal seperti itu, peternak yang ingin segera mendapatkan uang tidak bisa apa-apa. Padahal, seringkali, itulah sapi satu-satunya yang dipelihara bertahun-tahun. Dengan pakan yang dicari sendiri dengan cara ngarit (mencari rumput, Red) setiap hari. 

“Makanya, dulu bisa dititeni, kalau sapinya gemuk, yang punya pasti kurus. Karena tenaganya habis buat ngarit,” ungkap Joni yang sudah menggeluti peternakan sapi sejak 1999. 

Tentu, itu hal yang ironis. Dengan cara beternak tradisional, paling banter seorang peternak hanya mampu memelihara empat ekor sapi. Semakin banyak sapi yang dimiliki, semakin terkuras tenaganya. 

Namun, tiba saatnya dijual, harga yang didapat tidak sebanding dengan seluruh tenaga dan biaya perawatan yang telah dikeluarkan. “Padahal, kalau tahu ilmunya, memelihara seekor sapi, sepuluh ekor, atau bahkan seratus ekor, tenaganya sama,” terang Joni. 

Itu ilmu lain yang didapat Joni dari SPR. Di bawah bimbingan langsung para pakar dari IPB yang berkolaborasi dengan Universitas Islam Kadiri (Uniska) sejak 2017, Joni yang sudah malang melintang di dunia ‘persapian’ tradisional kembali belajar dari awal tentang peternakan. Mulai A sampai Z. 

Sejak dari pemilihan bibit, setting kandang, pembuatan dan manajemen pakan, pemeliharaan, hingga penjualan. Ia serap ilmu-ilmu teoritik dari para pakar kampus. Ia belajar soal kandungan protein dan mineral lain dari setiap bahan pakan. Ia juga belajar soal perilaku hewan sehingga bisa memperlakukannya dengan tepat. 

Joni menyerap, mendiskusikan, lalu memadukan ilmu-ilmu kampus itu dengan pengalamannya mengelola sapi selama ini. “Banyak hal yang harus saya koreksi,” aku suami Retno Utami, guru SMPN Ngadiluwih ini. 

Kandang ia benahi. Bak makanan dan minuman ia perbaiki. “Sapi butuh minum setiap saat. Makanya, bak minum tidak boleh kosong,” terang Joni yang bak minum sapinya sudah menggunakan kontrol air otomatis. Bisa langsung mengisi ketika kosong. 

Manajemen pakan pun ia sempurnakan. Joni mulai beralih ke daun singkong dan seluruh bagian tanaman jagung untuk pakan sapinya. Ia giling semuanya sendiri dengan mesin chopper agar halus. Lalu difermentasi agar menjadi silase. 

Bahan pakan itu, tanaman jagung dan daun singkong, dengan mudah bisa didapat. Harganya pun lebih murah. “Berdasar literasi, ternyata rumput gajah lebih banyak kandungan airnya daripada proteinnya,” katanya yang kini bersama kelompoknya mulai memikirkan tentang bank pakan.  

Dengan cara itu, apa yang ia sebut dengan ‘memelihara seekor sapi, sepuluh, atau seratus ekor tenaganya sama’ mendapat pembenaran. “Saya cukup kasih pakan sehari dua kali, berapa pun jumlah sapi yang saya punya,” kata lelaki kelahiran Kediri, 15 Juli 1975 itu. Ia hanya butuh seorang ‘anak kandang’ alias pekerja untuk membantunya. 

Tak lupa, secara periodik, perkembangan ternaknya selalu dipantau. Kesehatannya. Juga berat badannya. “Jika pakan yang diberikan tidak sesuai dengan pertumbuhan berat badan, berarti ada masalah,” lanjut Joni. Ini ilmu lain lagi yang ia dapat dari SPR. 

“Pola pikir banyak berubah,” aku Joni lagi tentang hal yang dirasakannya setelah bergabung dengan ‘sekolah’ yang memang didirikan untuk membuat peternak rakyat lebih berdaya itu. (Lebih jauh tentang SPR, bisa dibaca kembali artikel di Jawa Pos Radar Kediri edisi 20-21 November 2020, Red). 

Perubahan pola pikir peternak tradisional itulah yang memang menjadi garapan utama SPR. Muladno bahkan menyebut perubahan pola pikir itu sebagai hal paling dasar. “Ini merupakan fondasi untuk menuju kemandirian peternak. Bobot penilaiannya 45 persen,” sebutnya. 

Ibarat piramida, ini berada di struktur terbawah. Di atasnya adalah penerapan bisnis kolektif berjamaah. Ini mengoneksikan peternak yang tidak punya modal dengan orang/kelompok yang memiliki uang dengan konsep sosiobisnis. Bobotnya 35 persen. “Yang paling atas, penerapan teknologi dengan bobot hanya 20 persen,” terang Muladno. (Lebih lengkap tentang hal itu bisa disimak kembali di https://radarkediri.jawapos.com/read/2020/12/14/230185/dari-peternak-menjadi-pengusaha-ternak.)

Tentang konsep sosiobisnis, Joni dan kelompoknya yang beranggotakan sekitar 25 orang sudah merasakan hasilnya pula. Mereka bisa mendapat dana kemitraan non-bank. Di antaranya dari komunitas alumnus sekolah Kediri. “Saya dan teman-teman angkatan 1980 pada tahap pertama berhasil mengumpulkan sekitar Rp 300 juta,” kata Titik Suhariati, alumnus SMAN 1 Kediri.  

Ada pula dari angkatan 1988. Mereka tertarik karena ada imbal hasil yang diberikan oleh peternak. Yakni, 35 persen. Sisanya, 65 persen, adalah hak peternak. 

Dengan pola kemitraan ini, jumlah ternak yang dimiliki dan dikelola Joni dan kelompoknya meningkat. Jika semula rata-rata hanya 2,5 ekor per orang, kini menjadi 7,12 ekor per orang. “Ini dihitung dari stok sapi yang kami miliki pada musim kurban kemarin (2020). Total ada 178 ekor dari 25 anggota,” terang Joni yang 19 September 2019 sudah dinyatakan lulus dari SPR dan kini ikut menularkan ilmunya ke peternak lain.

Pola pikir, kemitraan, teknologi. Joni dan kelompoknya yang kini tergabung dalam Solidaritas Alumni SPR Indonesia (SASPRI) sudah merasakan perubahan dari tiga hal tersebut. Semakin banyak peternak lokal seperti mereka yang berdaya, mestinya gejolak harga daging seperti di Jakarta hari-hari ini tak perlu terjadi. 

Mengakhiri perbincangan siang itu, Joni hendak menyiapkan ‘makan siang’ untuk sapi-sapinya. “Sisa pakan ini dikeruk, dibersihkan. Lalu digiling lagi dengan yang baru. Nanti bisa disajikan lagi,” katanya di kandang yang kini sering jadi jujukan mahasiswa peternakan untuk praktik. 

Pukul 13.30. Berbongkok-bongkok daun singkong sebagai bahan pakan baru datang. “Ini sangat bagus untuk sapi,” tutup ayah Moh. Satrio, 17, dan Moh. Utomo, 13, itu. (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news